Entertainment
·
21 November 2020 20:29

Demit Politik (Part 1)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millennial
Demit Politik (Part 1) (669473)
Ilustrasi hantu, dok: pixabay
Cerita ini dibuat bukan untuk memecah belah sebuah kubu ataupun untuk memprovokasi sebuah golongan, ini hanya dedikasi saya untuk catatan praktik ilmu gaib di wilayah tempat tinggal saya.
ADVERTISEMENT
Pada sore itu setelah seharian menjalani aktifitas di tempat kerja, aku putuskan untuk balik kandang dulu ke rumah idaman untuk bertemu dengan ayah dan ibu, entah kenapa sore itu aku sangat ingin sekali pulang.
Padahal jarak dari tempat kerja ke rumahku sangat jauh sekitar 38 KM atau dengan waktu tempuh biasanya 1 jam dengan kecepatan motor bebek 110cc 60Km/jam.
"Bu balik duluan yaa," ucapku kepada bu bendahara kantor.
"Loh gak nginep aja Na?, capek ih bolak-balik mulu lu dari kemaren ringsek tuh badan," ucap bu Fisah kepadaku.
Oh iya perkenalkan, namaku Nana asli dari Banten yang katanya daerah kawasan Jawara, kawasan di mana nilai agama masih dijunjung tinggi, nilai kebudayaan dan kearifan lokal masih menjadi pemandangan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Aku suka setiap kegiatan yang ada di sini karena aku pikir semua hal itu bisa membuat pikiran kita menjadi lebih segar dan inspiratif.
Setelah kusiapkan semua mulai dari jaket dan helm lengkap dengan masker karena di sini sedang gencar-gencarnya razia masker, aku mulai menaiki motor yang sudah menemani laku lampahku selama 11 tahun.
Saat itu aku masih ingat waktu menunjukkan 17:10 WIB, aku prediksi sampai di rumah sekitar Magrib lah, jadi aku mengendarai si gaconku itu dengan kecepatan yang lumayan kebut (kata emak) sekitar 80km/jam supaya tidak memasuki waktu sandekala alias pamali kata orang tua.
Karena konon kata leluhurku waktu magrib merupakan kondisi di mana portal gaib terbuka penuh sehingga para mahluk tak kasat mata itu keluar masuk secara bebas.
ADVERTISEMENT
Singkat cerita aku sampai di rumahku yang sederhana nan damai itu.
"Assalamualaikum," ucapku.
"Walaikumsalam, tumbenan Na pulangnya jam segini, buru masuk pamali, magrib," ucap ibu.
"Iya mah, lagi pengen istirahat enggak mau keluyuran biar besoknya seger ini badan," jawabku sambil memasukan motorku ke dalam rumah yang saat itu sekitaran pukul 17:55 kalo tidak salah.
Kumasukan motorku dengan rapih sambil dilap lantainya, karena memang ibu suka sensi kalo lantainya kotor karena motor anaknya. Setelah selesai dari motor aku melangkah mencari ibu untuk sekedar mencium tangan supaya berkah apa yang telah kukerjakan ehehe.
Setelah cium tangan, aku merasakan badanku sangat lelah entah kenapa tak seperti biasanya, kuputuskan saja untuk mengambil handuk dan pergi ke kamar untuk melucuti semua pakaianku dilanjutkan agenda mandi di kamar mandi.
Demit Politik (Part 1) (669474)
Ilustrasi mandi, dok: pixabay
Pikirku saat itu ingin segera kelar dengan urusan duniawi dan mendekatkan diri kepada ilahi lewat solat magrib ini. Air di rumahku masih terasa dingin karena memang berada di kawasan Banten Selatan yang masih menyimpan banyak pohon dan pegunungan.
ADVERTISEMENT
Kupercepat ritme mandiku supaya tidak terlalu merasakan dingin, setelah itu aku lanjutkan solat Magrib. Selesai solat, aku mulai mencari makanan khas ibu yang biasanya ada di dapur.
"Mah di dapur ada makanan apa?," tanyaku kepada ibu.
"Ya allah Na, tinggal cari aja kenapa banyak tanya," ucap ibuku yang sedikit marah.
Maklum aku memang memiliki jiwa yang agak manja, mungkin karena aku juga suka dengan ekspresi marah ibuku yang bisa membuat rindu ketika aku di luar rumah.
Mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut ibuku, aku bergegas lari ke arah dapur khawatir ada tragedi perang Dunia III. Kulihat ada makanan yang bisa menutupi rasa laparku dan menambah energiku agar tidak lagi gemetar karena lemas, Yap ikan tongkol dan sambal menu yang mantap untuk disantap.
ADVERTISEMENT
Kuambil piring dan nasi porsi kuli, dan kulahap dengan cepat semua hidangan itu. Saat asik melahap makanan, tiba-tiba ada notif pesan Whatsapp dari salah satu kawan juga seniorku.
"Na di mana?," tulis bang Yaya yang ternyata sebelumnya ia sudah menelpon beberapa kali namun tidak terangkat, mungkin ketika aku sibuk dengan makanan jadi tidak fokus ke hal lain.
"Di rumah bang, kenapa?," jawabku.
"Waduh kirain di sini (kota tempat kerjaku) besok di mana?," kata Yaya.
"Besok kerja lagi bang, kenapa nih? apa yang bisa gue bantu bang?," jawabku.
"Besok malem kita mediasi yah, biasa sekitaran jam 9 aja ntar berkabar aja," ucap Yaya.
"Oh siap insyaallah bang, ntar gue prepare bersihin badan dulu," jawabku sambil menutup obrolan.
ADVERTISEMENT
Bang Yaya ini memintaku untuk melakukan mediasi alias masukin setan ke tubuhku, memang sejak 2 tahun yang lalu tubuhku ini bisa merespon gerakan-gerakan dari mahluk gaib.
Yaya juga pernah satu tim denganku dalam sebuah program horor gitu di sebuah stasiun radio, makannya dia tau kapasitas tubuhku, katanya sih aku sangat lancar jika dijadikan wadah mediasi. Bukan bangga dibilang seperti itu, aku malah takut.
Demit Politik (Part 1) (669475)
Ilustrasi Whatsapp, dok: pixabay
Malan itu singkatnya aku tidak banyak tingkah dan melanjutkan agenda paling penting dalam hidup yakni tidur. Tiba-tiba aku berada di sebuah gedung yang entah di mana,
"Plak," suara tangan menepuk pundakku.
"Hoii, ngapain duduk di situ?, hayu ikut aa," ucap kakakku, bang Tata.
"Loh ada aa, ikut kemana a?," jawabku heran.
ADVERTISEMENT
"Udah ikut aja hayuk," jawabnya sambil menarik tanganku.
Aku dan abangku itu berlari seolah mencari sesuatu atau seseorang, aku masih tidak tau tujuanku berada di gedung yang mirip rumah susun ini.
"Tadi di sini Na, tapi ke mana ya sekarang dia," ucap aneh Tata.
"Apa sih, siapa a?, gajelas amat sih," umpatku.
"Tuh di sebrang lagi liatin kita!," teriak Tata buatku kaget.
"Astagfirullah," ucapku.
ternyata dalam gedung tersebut aku dan Tata sedang melakukan perburuan setan, dan yang membuatku kaget adalah saat kakakku itu menunjuk, aku melihat sosok perempuan tua dengan cakar yang sangat panjang sambil melihat kami berdua dan melambaikan tangannya seolah sedang dadah.
Bukan main seramnya, tapi entah kenapa saat itu aku terus mengikuti langkah abangku untuk mengejar sosok yang ada di seberang gedung itu. Kukejar sosok itu dan menyebrang keluar gedung pertama memasuki gedung yang ditempati sosok tersebut.
ADVERTISEMENT
Mengejutkan sekali ternyata sosok tersebut memang menunggu kedatangan kami. Dia berada di lantai 2, aku masih menaiki anak tangga.
"Sini Na, neng ada pesan buat Nana," ucap sosok tersebut pelan tapi seolah dekat dengan telingaku.
Aku dan Tata terus mendekati sosok tersebut karena lama kelamaan sosok tersebut berhasil membuatku penasaran.
Aku berhasil menaiki anak tangga terakhir di lantai 2 itu, lalu aku melihat ke ujung gedung lantai 2, sosok tersebut berdiri tegak lurus sambil menunduk mendekat dengan jalan melayang tidak menapak ke lantai.
Terus mendekat hingga pada jarak sekitar 3 meter denganku yang saat itu mematung didampingi Tata di belakangku, sosok tersebut menunjukkan wajahnya.
Ampuuuun, sosok tersebut sangat mengerikan sekali. Wajah penuh darah, bibir sudah hancur bagian bawahnya entah kemana, giginya hanya terlihat taring, lalu ditambah panjang kukunya yang paling kuingat itu menyentuh ke ujung kakinya namun sangat kotor dan penuh darah.
ADVERTISEMENT
Bersambung...