Di Balik Eksotisme Seni Budaya Reog Ponorogo (Bagian 1)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mistisnya kesenian ini sudah bukan lagi rahasia segelintir orang. Para Pembarong dan rombongan reog lainnya selalu melakukan ritual terlebih dahulu.

Pertunjukan Reog Ponorogo (Foto: sumber.com)
Reog Ponorogo adalah sebuah seni budaya yang berasal dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Ia masuk dalam 5 jajaran seni budaya mistis di tanah Jawa, selainnya kita mengenal Tari Ronggeng, Debus, Kuda Lumping, dan Sintren. Kemistisannya seolah identik, yang mana asosiasinya langsung dapat ditangkap secara intuitif dari tampilan visual dan audinya. Tari kesenian reog mempertontonkan keperkasaan si pembarong yang mengangkat dan memainkan sebuah topeng besar (atau juga disebut ‘Dhadak Merak’) seberat kurang lebih 50 kg. Selain itu ia juga menampilkan bunyi-bunyian berupa bunyi kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung, dan salompret yang dapat membuat suasana pertunjukan menjadi mistis.
Sebuah parade reog biasanya terdiri dari 20 sampai 30 orang. Terdiri dari para Warok tua dan Warok muda, para Pembarong, para Gemblak dan penari Bujang Ganong, serta sebuah tokoh yang bernama Prabu Kelono Suwandono. Bila pembarong sentral perannya dalam memainkan topeng Dhadak Merak yang berat, seorang Warok juga tidak kalah pentingnya. Seorang Warok adalah sesosok ksatria yang mengabdikan dirinya pada kesucian dan kebenaran. Untuk itu, menurut kepercayaan mereka, seorang Warok harus menguasai apa yang disebut ‘Reh Kamusankan Sejati’ (Jalan Kemanusiaan Sejati). Seorang Warok harus bisa menahan segala hawa nafsu, tak jarang bila ia selalu berpuasa, berpuasa dari haus dan lapar serta hasrat-hasrat seksual kepada lawan jenis.
Mistisnya kesenian ini sudah bukan lagi rahasia segelintir orang. Nyatanya, sebelum pementasannya, para Pembarong dan rombongan reog lainnya selalu melakukan ritual terlebih dahulu. Hal itu memang menjadi dugaan yang wajar, karena hampir mustahil untuk dapat memainkan sebuah topeng seberat 50 kg dalam durasi yang cukup panjang dengan hanya menggunakan gigi saja. Ya, memainkan Dhadak Merak memang hanya boleh digigit saja. Terkait asal-usulnya, terdapat banyak versi. Ada dua versi yang lebih terkenal dibanding yang lainnya.
Bersambung..............................
