Konten dari Pengguna

Filosofi Kemenyan Bagi Masyarakat Jawa

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemenyan memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Jawa. Dok: wikimedia
zoom-in-whitePerbesar
Kemenyan memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Jawa. Dok: wikimedia

Banyak masyarakat yang masih beranggapan bahwa kemenyan merupakan sesuatu yang klenik, mistis, ataupun kerap dikaitkan dengan upacara penyembahan roh. Padahal, dahulu kemenyan kerap dijadikan wewangian yang dapat menenangkan pikiran.

Ternyata kemenyan memiliki filosofi tersendiri di mata para leluhur orang Jawa. Sama halnya dengan bunga, kemenyan juga disebut sebagai ubarampe (perlengkapan). Dahulu kemenyan dapat ditemukan di beberapa acara seperti ritual perkawinan, kelahiran, selametan dan masih banyak lagi. Namun seiring berkembangnya zaman, kemenyan jarang digunakan sebagai ubarampe lagi.

Ilustrasi berdoa. Dok: pixabay

Hampir sama dengan bunga, kemenyan juga merupakan simbol untuk menyampaikan sebuah pesan, sarana berdoa, dan memohon keselamatan. Kemudian, kemenyan yang dibakar dan mengeluarkan asap bermakna talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwaos.

Sama halnya dengan bunga, kemenyan juga termasuk ubarampe dalam beberapa acara adat. Dok: pixabay

Hal tersebut berarti bahwa setiap hajat, ritual, atau acara yang diselenggarakan, hendaknya selalu untuk meningkatkan keimanan manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kemudian bara api yang menyala bermakna semangat dan harapan di hati manusia untuk mewujutkan cita-cita yang sangat diharapkan. Sedangkan kepulan asap kemenyan bermakna agar doa yang dipanjatkan didengar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.