Filosofi Lima Jari Menurut Orang Jawa

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hai Sobat Dukun!!!
Kali ini, Mbah Dukun akan menyampaikan petuah sekaligus nasihat yang diwariskan dari leluhur orang Jawa. Perlu diketahui, orang-orang terdahulu kita seringkali menyisipkan nasihat bahkan dari hal yang paling sederhana. Hal ini bertujuan agar diri kita selalu bijak setiap kali melangkah dalam hidup.
Salah satu nasihat yang diwariskan hingga saat ini yaitu filosofi jari. Ternyata ada makna di balik lima jari pada tiap tangan dan kaki. Langsung saja kita simak.
Kelingking
Jari kelingking biasa disebut dengan jentik dalam bahasa Jawa. Filosofi dari jari ini adalah dilarang mengutak-atik hidup orang lain. Dalam hal ini, kita dilarang melakukan sesuatu yang mengganggu orang lain. Misalnya seperti menjahili teman.
Jari Manis
Jari manis memiliki filosofi bahwa kita tidak semestinya bermuka manis, namun di belakang itu semua penuh dengan kebohongan. Tentunya berbohong merupakan salah satu hal yang tidak terpuji. Dalam bahasa Jawa, hal tersebut dikenal dengan istilah lamis.
Jari Tengah
Jari tengah atau biasa disebut dengan panunggul, memiliki filosofi bahwa janganlah merasa diri kita lebih unggul dari siapapun. Karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk dari kesombongan.
Telunjuk
Sesuai dengan namanya, jari telunjuk memiliki filosofi bahwa kita sebagai manusia harus bisa jadi contoh atau menunjukkan hal-hal baik bagi orang-orang di sekitar.
Ibu Jari
Ibu jari atau jempol tidak akan berfungsi apabila keempat jari lainnya tidak bergerak. Jempol biasa digunakan untuk menunjukkan kebaikan, simbol bagus, oke, dan lain-lain. Namun, kebaikan ini hanya akan terjadi bila keempat jari lainnya memenuhi peranannya masing-masing. Maknanya, jika kita ingin menjadi orang yang baik maka perlu memegang empat filosofi yang telah disebutkan di atas.
