Konten dari Pengguna

Gending Alas Mayit: Pilihan Sulit (Part 9)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi horor, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi horor, dok: pixabay

Kami menurut dan menikmati secangkir teh yang disediakan oleh Ismi. Seorang kakek tua berjalan perlahan menghampiri kami, Ismi terlihat menggandengnya berjalan dengan hati-hati dan mendudukanya di dekat kami.

“Ini kakek saya… mbah Rusman, dia yang akan menceritakan semuanya,” jelas Ismi pada kami.

Mbah Rusman memperhatikan kami satu per satu sepertinya ia juga menyadari keberadaan hantu Nandar yang terus mengikutiku, kami merapikan posisi duduk dan memberikan senyum seramah mungkin kepada mbah Rusman.

“Setelah kalian tau semuanya, apa yang akan kalian lakukan?” tanya mbah Rusman kepada kami.

“Kami hanya mencari informasi mbah, teman kami di Jawa Tengah, mereka yang ahli soal hal gaib yang akan mencoba menghentikan kutukan itu” jelasku pada pak Rusman.

“Bagus.. jika kalian yang ikut campur, sudah pasti kalian mati,” ucapnya.

Kami sangat mengerti akan hal itu, namun setidaknya aku harus mendapatkan informasi yang bisa membantu Cahyo.

“Menginaplah semalam di sini, nanti malam kalian akan tahu semua,” ucap mbah Rusman.

Kami saling menoleh dan sepakat menyetujui ucapan mbah Rusman. Cara mereka menyambut kami terasa sangat tulus sehingga kami tidak sedikitpun merasa curiga kepada meraka.

Kami melalui siang hari dengan berbincang hal-hal kecil, Ismipun menyediakan keperluan kami mulai dari makanan dan air untuk mandi.

Semua berjalan normal hingga akhirnya malampun tiba. Kami menyelesaikan makan malam kami, bohlam yang redup di ruangkan ini cukup menyulitkan penglihatanku. Aku membereskan piring sisa makan malam tadi dan mengumpulkanya di pawon belakang rumah.

Sebelum sempat kembali ke depan, pintu belakang rumah terbanting dengan keras. Sebuah bayangan hitam mencoba masuk ke dapur melalui pintu belakang, semakin lama semakin mendekat. Aku mengawasi dengan hati-hati.

Lampu pawon mulai menerangi bayangan yang mendekat itu, ternyata itu adalah mbah Rusman.

Sayup sayup suara gamelan terdengar.. persis seperti di studio kemarin.

Mata mbah usman terbelalak dengan mengerikan kearahku dan mulai menggerakan tubuhnya perlahan.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/Diosetta]

X post embed

“Ismi , Nizar, Ranto… !! “ Aku memanggil orang di rumah untuk membantuku.

Mereka segera datang menghampiriku, namun mbah Rusman keluar menuju halaman dan menari dengan lincah. Kami mengejar mbah Rusman, cahaya bulan purnama menyinari pekarangan.

Mbah Rusman menari dan terus menari, Ismi masuk ke rumah dan keluar membawa sebuah gong kecil di tanganya dan sebuah pemukul.

“Ismi.. itu mbah Rusman kenapa?” tanya Nizar.

“Ini yang kalian ingin tahu… Kutukan gending alas mayit," ia mencoba memutar kepalanya hingga hampir patah. Namun sebelum itu terjadi Ismi memukul gong kecil yang menggantung di tanganya.

Suara mendengung panjang terdengar dari benda itu. Mbah Rusman terlihat menghentikan tarianya namun ia mencoba bangkit untuk menari lagi, sebelum itu terjadi Ismi kembali memukul gong itu sehingga gerakan mbah rusman bisa tertahan. Hal itu terjadi berulang kali hingga Mbah rusman tak sadarkan diri.

Kami menggendong tubuh mbah Rusman ke dalam rumah, Ismi menyiapkan segelas minuman rempah-rempah untuk diberikan kepada mbah Rusman dan segera menghampiri kami.

Ilustrasi rempah, dok: pixabay

“Dulu sewaktu muda mbah Rusman hidup di desa Windualit, saat desa itu terkena kutukan mbah Rusman adalah salah satu warga yang membantu menghentikan kutukan itu....tapi karena tidak ingin mengambil resiko, mbah Rusman memilih untuk meninggalkan desa," cerita Ismi.

Terlalu mengerikan, sesuatu yang dihadapi oleh Cahyo dan paklek kali ini benar-benar mengerikan.

“Ismi… bantu mbah,” ucap mbah Rusman mencoba menghampiri kami dengan tubuhnya yang lemah.

Serentak kami berdiri membantu memegangi mbah Rusman dan mendudukanya di posisi yang nyaman.

“Ismi… serahkan gong dan pemukulnya ke mereka,” perintah mbah Rusman.

Kami saling menoleh, Ismi terlihat tidak setuju.

“Tapi mbah, nanti kalo kumat lagi?” ucap Ismi.

“Sudah serahkan saja, mbah juga ga tau bisa hidup sampai kapan… mereka lebih butuh itu,” ucap mbah rusman dengan suara yang lemah.

“ Pemukul itu adalah tabuh Waturingin, ujungnya dibuat menggunakan kayu pohon beringin yang sudah menjadi batu dan gong itu hanya gong biasa..” cerita Mbah Rusman.

Kami memperhatikan benda yang diserahkan kepada kami, kami berfikir keras… seandainya ini kami bawa, apa mbah Rusman bisa melewatkan purnama berikutnya?

“Nggak mbah, kita ga bisa bawa benda ini.. mbah butuh ini,” ucapku

“Walaupun ini adalah tabuh waturingin, ini tidak cukup untuk membersihkan kutukan di desa windualit…

Orang yang meminta bantuan kalian harus membuat kembali tabuh yang lebih besar dari batu pohon beringin yang ada sebuah sendang di alas mayit, dan kalian harus bawa ini agar bisa sampai ke sana hidup-hidup” Mbah rusman melanjutkan ceritanya tanpa mempedulikan pendapat kami.

Ismi terlihat sedih, ia mengerti maksud mbah Rusman namun belum siap apabila harus kehilangan kakeknya itu.

Aku mengambil telepon genggamku mencoba menghubungi Cahyo dan menceritakan mengenai kejadian malam ini kepadanya, awalnya Cahyo sependapat dengan kami..namun tiba-tiba telpon disambungkan kepada seorang wanita.

“Mbah Rusman," ucap wanita dari telepon Cahyo.

Mbah Rusman hanya mendengarkan saja suara dari telepon itu.

“Mbah.. Kulo Sekar.. anak Pak sardi,” ucap wanita itu sekali lagi.

“Sar..di, Sardi sudah punya anak?” ucap mbah Rusman dengan sedikit senyum muncul di wajahnya.

“Iya mbah.. Bapak sering cerita kalau bapak belajar ngaji dari mbah Rusman, sesepuh yang pernah nyelamatin desa Windualit..” cerita sekar.

Ilustrasi menelpon, dok: pixabay

“Piye kabar Sardi nak Sekar, masih rajin ngaji?” ucap mbah Rusman dengan semangat walau dengan tubuhnya yang lemah.

“Masih mbah… bapak rajin banget, sekarang bapak masih di desa nyoba bantuin sebisanya di sana,” jawab Sekar.

Mata mbah Rusman berkaca-kaca, ia terlihat sedang mencoba mengingat tentang masa lalunya.

“Nak Ardian, Nak Cahyo… kamu harus bawa benda ini, kamu harus selamatkan desa Windualit… selamatkan Sekar dan semua orang di sana,” mbah Rusman berkata dengan paksaan.

Sepertinya aku mengerti yang diinginkan mbah Rusman, setidaknya mungkin ia bisa menyelamatkan desa asalnya yang ia sayangi walau harus mengorbankan sisa umurnya.

“Baik mbah Rusman, Amanah mbah saya terima.. benda ini akan saya bawa ke Cahyo dan Sekar,” ucapku.

“Berarti kalo gitu umur mbah Rusman Cuma tinggl 1 purnama lagi? “ Ranto memastikan kepadaku.

“Nggak, hanya Tuhan yang berhak menentukan umur manusia… bukan demit-demit itu,” jawab mbah Rusman.

Aku mengambil tasku, memasukan gong dan tabuh Waturingin ke dalam tas.

“Ismi, Mbah Rusman… setidaknya tolong terima pemberian saya ini,” Sebuah korek api dengan motif kuno pemberian paklek dulu kuserahkan kepada mereka.

“Ada kekuatan pada api korek ini… kamu yakin?” ucap mbah Rusman.

“Saat purnama datang lagi dan mbah mulai seperti tadi coba kamu nyalakan ini, benda ini sudah menyelamatkanku berkali-kali.. semoba bisa menolong kalian juga,” ucapku

Nizar mendekatiku seolah kurang setuju.

“Ardian kamu yakin? “ tanyanya dengan berbisik.

Nizar tahu benar bagaimana benda itu menyelamatkanya di pabrik gula.

“Iya .. aku yakin Paklekpun pasti juga tidak keberatan,” jawabku.

Ismi menerima korek api pusaka pemberian pak lek, kami menutup perbincangan kami dan beristirahat. Paginya kami ijin pamit ke Mbah Rusman dan Ismi, kami berjanji suatu saat akan mampir kembali kemari setidaknya sebelum purnama berikutnya.

Namun sebelumnya kami harus mengantarkan benda ini ke Cahyo dan Paklek, semoga saja ini bisa benar-benar berguna untuk mereka.

Bersambung...