Konten dari Pengguna

Ini Penjelasan Kerasukan Secara Ilmiah, Mirip dengan Hipnotis

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kerasukan, dok: steemit
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kerasukan, dok: steemit

Pernahkah Sobat Dukun menemukan fenomena kerasukan di sekitarmu. Kerasukan biasanya sering terjadi di lingkungan sekolah, tak sedikit sekolah yang mengalami kejadian kerasukan atau kesurupan masal.

Dalam kehidupan kita terkadang terjadi sesuatu yang sulit untuk diterima dalam benak pikiran kita. Karena sifat manusia yang empiris cenderung hanya mempercayai sesuatu hal yang bisa terlihat oleh kasat mata dan ada penjelasan ilmiahnya.

Seperti kerasukan, fenomena ini sulit diterima oleh akal sehat manusia. Namun apakah benar kesurupan ini tidak memiliki keterkaitan dengan hal yang ilmiah?.

Menurut kajian Dukun Millenial, ternyata kerasukan memiliki dasar ilmiah yang memungkinkan manusia disisipi sebangsa jin atau setan sebagainya, hal ini sangat erat kaitannya dengan ilmu hipnotis.

Dalam dunia hipnotis, tentu sangat dibutuhkan pikiran alam bawah sadar agar berjalan lancar. Alam bawah sadar manusia memiliki 4 fase diantaranya.

1. Alpha

Pikiran alpha, dok: pixabay

Pada fase ini alam bawah sadar manusia hanya terfokus ada sesuatu yang sedang ia kerjakan dan biasanya sulit untuk diberikan sugesti karena ia sedang terfokus kepada hal lain maka akan sulit untuk melakukan hipnotis.

2. Bheta

Pikiiran betha, dok: pixabay

Pada tahapan ini konsentrasi manusia sudah mau menerima masukan dari lawan bicaranya, atau sudah tidak fokus pada urusannya. Pikiran pada fase Betha cenderung terbuka dan menerima hal-hal dari luar seperti sudah bisa berbincang dengan rekannya. Pada kondisi ini sangat bisa dilakukan hipnotis namun akan sulit membawa sugestinya.

3. Delta

Pikiran Delta, dok: pixabay

Pikiran Delta memposisikan manusia pada kondisi tenang tanpa ada gangguan pikiran lain seperti pada saat tidur yang membuat proses hipnotis sangat mampu berjalan melalui sugesti-sugesti yang diberikan. Pada posisi ini si orang yang diberi sugesti sangat mudah menerimanya alhasil dijamin hipnotis akan berhasil 100%.

4. Tetha

Pikiran Tetha, dok: pixabay

Kamu pernah tidur ketika hujan di malam hari namun tidak mendengar sama sekali ada bunyi hujan karena saking lelapnya tidur, bahkan sampai-sampai kamu bangun terlalu siang.

Nah kejadian ini erat kaitannya dengan alam bawah sadar Delta di mana manusia tidak menyadari semua yang terjadi di sekitarnya dia fokus dalam mimpinya ketika tidur.

Pada fase inilah yang disebut-sebut oleh para mentalist sebagai jembatan menuju dunia lain atau alam gaib, oleh karena itu saat seseorang mengalami kerasukan biasanya ia tak ingat dengan apa yang dialaminya karena pikirannya sudah menyatu atau setara dengan alam gaib.

itu dia penjelasan mengenai kerasukan yang sedikit menyentuh sisi ilmiah, bagaimanapun memang sulit diterima karena kita selaku manusia cenderung menilai sesuatu dari apa yang kita lihat dan rasakan sendiri. Tapi perlu diingat bahwa kita hidup tidak sendirian.