Kisah Cinta Mak Lampir

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalian pasti pernah mengalami rasanya patah hati. Rasa sakitnya pastilah menghujam hati kalian dan membutakan pikiran kalian. Dengannya, cinta yang sebelumnya merupakan suatu anugrah justru berubah menjadi suatu bencana. Sama halnya seperti kita, spesies astral pun begitu.
Bagi kalian yang sudah menginjak masa remaja saat tahun 1990-an di Indonesia, pasti tidak asing dengan sinetron berjudul “Misteri Gunung Merapi”. Ya, apa yang kalian pikirkan tentang sinetron itu? Bagi kalian yang dulu sering menonton sinetron itu, pasti sudah tidak asing lagi dengan tokoh ‘Mak Lampir’ yang diperankan oleh Farida Pasha. Ciri khas Mak Lampir yang menjadi trademark-nya dalam dunia horror pastilah sosok mistisnya yang jahat serta wajah dan tawanya yang bikin badan kita ‘bergidik’ saat melihatnya. Dalam sinetron itu, diceritakan kisah Mak Lampir yang berlatar kisah mistis di sekitaran gunung Merapi. Namun apakah kalian tahu bahwa legenda Mak Lampir sesungguhnya tidak pertamakali lahir di Merapi itu sendiri?
Ya, legenda Mak Lampir sebenarnya pertamakali muncul di daerah Sumatera Barat, tepatnya di kabupaten Agam (Bukit Tinggi) yang merupakan bagian dari legenda mistis ‘Gunung Marapi’ di Sumbar. Kempiripan nama antara ‘Gunung Marapi’ dan ‘Gunung Merapi’ mungkin menjadi faktor utama dari asal-usul adaptasi legenda Mak Lampir ke tanah Jawa. Legenda Mak Lampir dari Sumatera Barat itu berhubungan dengan legenda 7 manusia harimau. Berbeda dengan kisah Mak Lampir dari Merapi, yang konon menjadi buruk rupa berkat kerjasamanya dengan para jin dan setan untuk hidup abadi, kisah Mak Lampir dari Sumatera Barat itu menyisipkan aspek romansa di dalamnya. Bagaimana tidak? Legenda Mak Lampir dalam mitologi yang dikisahkan di Sumatera Barat itu berawal dari seorang puteri kerajaan yang jatuh cinta pada seorang manusia harimau. Namun sebagaimana pada kisah-kisah romansa kolosal yang sudah-sudah, cinta antara dua makhluk itu tidak direstui oleh keluarganya.
Sosok Mak Lampir, konon, adalah seorang puteri dari kerajaan Champa yang pernah menguasi daerah Vietnam Tengah dan Selatan pada abad ke-7. Suatu hari, Mak Lampir yang seorang puteri cantik jelita dari raja Champa, jatuh cinta pada seorang manusia harimau bernama Datuk Panglima Kumbang. Kendati secara diam-diam cinta Mak Lampir terbalaskan, cinta mereka tidak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Atas sebab itu, Mak Lampir kemudian mengasingkan diri dengan bertapa di gunung Marapi. Sesampainya di gunung Marapi, ia bertemu dengan seorang pertapa sakti yang menjadi gurunya. Di bawah arahan gurunyalah, Mak Lampir kemudian menjadi sesosok wanita yang sakti mandraguna.
Pasca pertapannya, Mak Lampir yang tidak mengetahui bahwa Datuk Panglima Kumbang juga mencintainya, mencari-cari keberadaan dari Datuk Panglima Kumbang. Gagal dalam pencariannya, tanpa disengaja Mak Lampir bertemu dengan Datuk Panglima Kumbang dalam suatu peperangan. Pertemuan itu harus berakhir tragis karena pada akhirnya Datuk Panglima Kumbang gugur dalam peperangan tersebut. Mak Lampir yang begitu terpukul akhirnya menggunakan seluruh kekuatan saktinya untuk menghidupkan kembali kekasihnya itu.
Alhasil, Datuk Panglima Kumbang berhasil dihidupkan kembali oleh kesaktian Mak Lampir. Namun ‘pembangkitan kembali’ Datuk Panglima Kumbang tidak tanpa bayaran, karena untuk menghidupkan kembali Datuk Panglima Kumbang, Mak Lampir mengorbankan kecantikan parasnya.
Berharap Datuk Panglima Kumbang mengenalnya dan setia pada dirinya, Mak Lampir yang telah berubah menjadi wanita yang buruk rupa justru dimaki oleh Datuk Panglima Kumbang dan dituduh sebagai setan yang telah mengganggu dan meneror masyarakat. Setelah itu, peperangan antara dua bangsa itu tidak pernah ada berhentinya. Begitulah kisah Mak Lampir yang melegenda, sebelumnya ia merupakan seorang puteri cantik jelita yang hanya mengharapkan restu atas cintanya. Begitu restu atas cintanya tidak lagi dibutuhkan, namun sang kekasih justru malah mengkhianatinya, ia yang telah putus asa justru berubah dirinya menjadi terror bagi masyarakat setempat.
