Legenda The Flying Dutchman

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Akibat tindakan mu, kamu dikutuk untuk berlayar di laut selamanya dengan awak kapal hantu yang membawa kematian bagi semua orang yang melihat kapal mu, dan kamu tidak akan pernah berlabuh atau merasakan ketenangan selamanya. Empedu akan menjadi minuman mu, dan setrika panas adalah makanan mu,”

Ilustrasi Legenda The Flying Dutchman (Foto: www.ancient-origins.net)
Diantara mitos dan legenda maritim dunia, hanya sedikit yang terkenal seperti legenda ‘Flying Dutchman’. Legenda yang sering muncul dalam serial kartun ‘Sponge Bob’ itu diyakini bukanlah isapan jempol belaka. Tenggelam pada tahun 1641, banyak orang mengaku pernah melihat kapal hantu yang dipimpin oleh Kapten Hendrick van der Decken ini.
Diambil dari www.ancient-origins.net, kapal hantu tersebut mulanya adalah kapal biasa yang tengah melakukan perjalanan berbahaya dari Belanda ke Hindia Timur untuk membeli berbagai macam komoditas, seperti sutra, rempah-rempah, dsb. Kapal biasa itu diyakini berubah menjadi kapal hantu karena sikap kaptennya yang kurang ajar dan menantang badai amarah Tuhan di laut.
Cerita bermula ketika kapal tersebut hendak pulang kembali ke Amsterdam. Di tengah perjalanan, ketika kapal tersebut mengitari pantai Afrika, tiba-tiba badai menerjang dengan ganasnya. Seolah badai itu hendak mengancam akan melipat dan menenggelamkan semua kapal yang berlayar disitu. Sontak para kru kapal meminta kaptennya untuk untuk berbalik. Namun, kapten van der Decken menolak, dan memerintahkan untuk terus maju. Ada sumber yang mengatakan bahwa saat itu ia sednag marah, ada yang mengatakan bahwa ia mabuk.
Sang kapten dengan tegar dan menantang, menyalakan pipa dan menghisap rokok saat ombak besar menabrak kapal. Di kala angin mengoyak layar dan air tumpah ke lambung kapal, sang kapten menantang murka Tuhan dengan mengucapkan sumpah yang menghujat.
Kapten tanpa ragu membuang tubuh kru yang memberontak perintahnya. Tat kala tubuh kru itu menyentuh lautan, konon kapal tersebut berbicara kepada kapten. Ia bertanya apakah dia tidak bermaksud pergi ke teluk malam itu, lalu kapten pun menjawab bahwa ia lebih baik dikutuk jika tidak pergi ke teluk meskipun ia harus menerjang badai hingga hari penghakiman. Mendengar jawaban itu, kapal tersebut mengatakan:
“Akibat tindakan mu, kamu dikutuk untuk berlayar di laut selamanya dengan awak kapal hantu yang membawa kematian bagi semua orang yang melihat kapal mu, dan kamu tidak akan pernah berlabuh atau merasakan ketenangan selamanya. Empedu akan menjadi minuman mu, dan setrika panas adalah makanan mu,”
Mendengar suara tersebut, kapten van der Decken hanya menangis seraya mengamininya. Sejak saat itu, munculah apa yang disebut sebagai ‘Flying Dutchman’. Para pelaut meyakini bahwa sosok legenda tersebut dapat menyesatkan kapal dan membuat kapal-kapal menabak batu atau karang. Mereka meyakini bahwa jika seseorang melihat badai dahsyat di Tanjung Harapan, maka ia akan dapat melihat sosok Flying Dutchman tersebut. Mereka juga percaya bahwa siapapun yang pernah melihatnya pasti ia akan mati dengan mengenaskan.
Legenda Flying Dutchman begitu populer sejak diperkenalkan di opera Wagner pada tahun 1843. Namun sebenarnya, alasan mengapa ia begitu populer, banyak orang mengklaim pernah melihatnya. Salah satu pengakuan yang ada hadir dari Pangeran George dari Wales dan saudaranya Pangeran Albert Victor dari Wales pada 11 Juli 1881, saat mereka berlayar di lepas pantai Australia.
