‌Mengenal Tradisi Nginang

Dukun Millenial
INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Konten dari Pengguna
1 Juni 2020 18:41 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang nenek yang sedang menginang. Dok: wikimedia
zoom-in-whitePerbesar
Seorang nenek yang sedang menginang. Dok: wikimedia
ADVERTISEMENT
Tradisi nginang merupakan kegiatan mengunyah kinang yang terdiri dari pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur, dan cengkih. Nginang merupakan sebuah tradisi warisan yang dahulu biasa dilakukan oleh orang yang suka memakan kudapan. Kalau saat ini bisa diibaratkan seperti permen atau makanan ringan lainnya.
ADVERTISEMENT
Konon kebiasaan menginang telah tercatat para musafir Tiongkok sejak dua abad sebelum Masehi. Kemudian, sirih pinang juga merupakan simbol bagi adat Melayu. Hal ini dibuktikan berdasarkan tradisi lisan Melayu berupa sastra, misalnya sirih pembuka pintu rumah, sirih pembuka pintu hati.
Tradisi nginang bagus untuk kesehatan gigi. Dok: pixabay
Menginang awalnya dilakukan orang agar aroma mulut menjadi lebih sedap, namun hal ini malah menjadi kebiasaan yang menimbulkan rasa nikmat yang kemudian menjadi candu sehingga sulit untuk dilepaskan. Di sisi lain, menginang ternyata bagus untuk alternatif perawatan gigi. Menginang juga dapat menyembuhkan luka di mulut, menghentikan pendarahan gusi, dan bagus dijadikan obat kumur.
Masyarakat Jawa masih sangat percaya terhadap dampak positif dari tradisi nginang. Hal ini dapat dibuktikan masih banyak nenek-nenek masyarakat jawa yang masih melakukan tradisi nginang, mereka yakin bahwa dengan melakukan nginang maka gigi akan terasa sehat dan kuat.
Daun sirih menjadi salah satu bahan untuk nginang. Dok: pixabay
Tradisi nginang rupanya memiliki filosofi yang diambil dari beberapa bahan yang digunakan, berikut penjelasannya:
ADVERTISEMENT
Sekian pembahasan seputar tradisi nginang, semoga artikel ini bisa menambah wawasan Sobat Dukun sekalian.