Konten dari Pengguna

Misteri Nyi Ratu Blorong (I)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ratu laut kidul Nyi Blorong, Dok : pinterest
zoom-in-whitePerbesar
Ratu laut kidul Nyi Blorong, Dok : pinterest

Legenda pesugihan dari laut selatan pulau Jawa yang selama ini dianggap dongeng sebelum tidur oleh sebagian orang. Nyi ratu “Blorong“, sosok siluman ratu ular sebagai simbol kekayaan, sejauh ini sang ratu hanya dianggap mitos yang sangat kental dengan dunia mistis.

X post embed

Faktanya ia ada dengan jati dirinya yang tak kasat mata dan tetap setia sampai detik ini dengan para sekutunya. Inilah kenyataan yang ada dan tak disadari sepenuhnya oleh manusia di kehidupan masyarakat milenial.

Sebenarnya para pengikut sang ratu sebagian kecil masih tetap ada di sekeliling lingkungan kita tanpa ada yang tahu. Inilah salah satu kisahnya dari banyak cerita Nyi Ratu Blorong, kisah ini berasal dari teman saya sendiri yang pernah mengalaminya.

Peristiwa ini terjadi di era akhir tahun1997 – 1999, saat krisis moneter melanda di negeri ini. Nilai rupiah terpuruk, diperberat dengan kejatuhan ekonomi di negeri kita tercinta.

Keadaan ini memaksa sebagian pengusaha terpaksa menutup usahanya sebelum menanggung kerugian yang lebih dahsyat lagi. Akibat tutupnya sebagian besar industri dan pabrik menyebabkan PHK masal mulai meraja lela.

Otomatis pengangguran meningkat dengan cepat begitu juga index kemiskinan serta kemelaratan ikut melesat tak terkendali. Hanya sebagian kecil pemegang dolar yang aman dan untung serta nyaman di kursi bisnisnya, tapi tidak untuk masyarakat pemegang rupiah.

Lokasi kejadian kali ini berada di Provinsi Jawa Timur, tepatnya dari kabupaten ****. Disaat kebanyakan pabrik tutup, para buruh banyak dirumahkan alias PHK.

Nasib pemutusan hubungan kerja sepihak itu juga dialami Udin dan Sarji, karena mereka berdua juga buruh pabrik yang terkena imbas dari krisis ekonomi moneter.

Gelar pengangguran baru yang tersemat dalam diri mereka ini juga memaksa mereka jatuh kedalam jurang kemiskinan akut dalam waktu singkat. Mereka harus memeras otak untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi keluarganya.

Ilustrasi kemiskinan, dok : pixabay

Ditempat asalnya, Udin hanya mempunyai sepetak tanah dengan rumah sederhana di atasnya, sedangkan semua anggota keluarga menggantungkan hidup kepadanya. Udin mempunyai satu istri dan tiga orang anak yang masih kecil-kecil, sedang mertua dan kedua orang tuanya sudah tiada lagi.

Tiap hari Udin sibuk mencari pekerjaan, pekerjaan apa saja siap dia lakukan, tapi keadaan waktu itu sungguh tidak memungkinkan. Kesana-kemari tanpa hasil yang jelas, hingga akhirnya ia disibukkan untuk mencari pinjaman sebagai penutup kebutuhan sehari – hari.

Mulai bank harian, mingguan dan bulanan pun lengkap ia koleksi. Dari lintah darat sampai lintah laut ia pun selami untuk berutang, nasib baik memang tak lagi berpihak kepada udin. Tapi ia masih mempunyai keyakinan untuk berusaha untuk bekerja secara wajar.

Udin ini kebetulan bertetangga dengan Sarji, tepatnya rumah udin saling membelakangi satu sama lain. Kebun berukuran lebar enam meter yang memanjang sebagai batas rumah mereka, dibelakang rumah ini mereka juga sering bertemu dan berkumpul.

Mereka berdua dulunya memang berteman sejak kecil hingga sampai sekarang berkeluarga. Di belakang rumah, ada sebuah pohon keres yang lumayan besar dengan daun yang sangat rindang, dibawahnya terdapat tempat duduk dari kayu seadanya.

Ilustrasi masa kecil, dok : pixabay

Kursi kayu di bawah pohon ini mereka gunakan sebagai ajang kumpul-kumpul sesama mantan buruh pabrik. Mereka berkumpul untuk membahas pekerjaan dan peluang usaha yang mungkin masih bisa diraih, tapi tidak dengan Sarji.

Kehidupan Sarji sebenarnya tak berbeda jauh dengan kondisi ekonomi dengan udin. Mentalitas sarji setelah terkena PHK besar-besaran malah turun drastis, mulai bermalas-malasan, suka foya-foya dan mengandalkan harta dari orang tua.

Bersambung...