Konten dari Pengguna

Misteri Nyi Ratu Blorong (XVII)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nyi Ratu Blorong, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Nyi Ratu Blorong, dok: pixabay

Setelah acara keagamaan selesai sekitar tiga puluh menit Sarji dengan Retno pulang dari berobat, mereka berdua langsung menuju kamar. Udin yang masih duduk-duduk di rumah Sarji langsung ikut menemui Retno bersama istrinya didalam kamar. Sementara itu saat Sarji kebelakang Udin juga memberikan doa kepada Retno agar terhindar dari penampakan mertuanya lagi, dan memintanya untuk lebih tenang.

Hari demi hari, Retno masih sakit di rumahnya dan tak pernah lagi menceritakan kejadian melihat ular itu lagi kepada siapa pun. Berulang kali ia sudah dibawa ke dokter karena perutnya semakin mengeras dan membesar.

Hanya rasa sakit yang ia rasa, karena diagnosa selama itu hasilnya juga nihil. Sewaktu ditinggal Sarji keluar, Retno akan pergi ke rumah Sri meski sakit. Retno hanya untuk menumpang istirahat dan mencari teman, karena waktu itu ia benar-benar kesepian dirumah yang besar tapi menakutkan baginya.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter.com/bayuuubiruuu]

X post embed

Hari ke 35 sejak kematian ibu sarji, di pagi hari yang menjadi kegiatan baru bagi istri udin untuk merawat dan menemani Retno di rumahnya. Sedang Sarji pagi-pagi sudah berangkat ke tokonya, udin sendiri ke sawah dan kebun sarji terlebih dahulu untuk mengontrol para pekerjanya sebelum ke toko.

Dari pagi sarji datang ke toko langsung duduk sendirian ruang administrasi dibelakang, ia duduk termenung sambil menunggu temannya datang. Toko bangunan sarji terbilang cukup luas. Letak toko Sarji menyatu dengan gudang di belakangnya, di sisi belakang toko ada ruangan untuk administrasi.

Jarak ruang ini dan depan toko sekitar tiga puluh meteran, jadi pembicaraan di ruang ini tak akan terdengar dari pegawai yang berada didepan. Biasanya ruangan ini ditempati Udin untuk merekap keuangan dari semua laba usaha sarji, tapi siang itu tidak demikian.

Saat Sarji didalam ruang yang sudah menunggu, satu jam kemudian Ronald datang ke ruangannya sendirian. Seperti biasa Ronald datang menagih uangnya kepada sarji untuk barang yang sudah terjual. Hari itu memang toko sarji tidak seberapa ramai,

Hanya tiga sampai orang empat pengunjung. Dari ke semua pengunjung sudah dilayani oleh pegawai sarji yang berada didepan. Udin baru datang ke toko bangunan, toko sarji juga yang sampai saat itu digunakan untuk pusat mengontrol semua usaha. Setelah ia memarkirkan motor didepan, ia melihat semua pegawai duduk-duduk dan melayani pembeli didepan semua.

Udin berfirasat di belakang sudah ada Sarji dan Ronald, karena rasa sungkan hal itu menjadi lumrah dilakukan para pegawainya. Udin langsung berjalan menuju ruang admin di belakang, Dalam perjalan kebelakang sapa dan senyum dari semua pegawai sarji sebagian terlontar kepadanya. Di saat langkah kakinya sudah dekat dengan ruang admin, Udin terhenti seketika karena mendengar suara agak meninggi dan marah dari dalam ruangan.

Ilustrasi meja admin, dok: pixabay

Brakkk” suara pukulan yang mengenai meja didalam ruang admin

Jancook..kon *su nald, tega kamu menumbalkan Erna," Bentak kasar Sarji

“Maaf Ji, aku terpaksa," Jawab Ronald.

“Kamu memang anjing nald, dulu kamu janji ke aku Erna bakal kok senengno tapi kenyataanya malah kamu tumbalkan..cok,”.

Kata Sarji yang mengeras dan memegangi kerah baju Ronald.

“Gimana lagi ji, masalahnya Nyi ratu mintanya Erna. Aku sendiri ya tidak punya pilihan lain waktu itu! Terus setelah erna mati, aku tidak boleh sama Nyi ratu nikah lagi. Aku disuruh cuma melayani orangnya saja," Jawab Ronald yang bingung

Fyi. Erna waktu masih kerja di pabrik dulunya menjadi rebutan sarji dan ronald. Karena ronald berjanji mau segera menikahi erna, akhirnya sarji mundur meski sakit untuk merelakan dambaan hatinya diambil teman karibnya.

Udin yang mendengar pembicaraan kedua temannya ini langsung mencari tempat duduk karena rasa penasaran yang tinggi, ia memilih duduk di sebelah ruang admin dengan pelan di kursi plastik.

Udin mendengarkan, dok: pixabay

Rasa penasaran Udin yang memuncak akan sekilas pembicaraan kedua temannya membuat dia memberanikan diri untuk mendengarkan seluruh percakapan didalam ruang admin.

Udin duduk dengan tenang dan memegang buku catatan serta bolpoint untuk mengelabui para pegawai kalau ada yang melihat, jadi udin terkesan sambil merekap hasil kerjanya. Tapi udin fokus telinganya mendekat disamping tembok ruang admin untuk mendengar dengan jelas.

“Bohong kamu Nald," Jawab Sarji sambil melepaskan pelan tangannya di kerah baju Ronald.

“Sumpah ji, beneran cok," Jawab Ronald dengan keras yang meyakinkan Sarji

“Kemarin malam aku didatangi lagi sama Nyi ratu, maunya minta adikku yang habis melahirkan. Kalau yang diminta adikku perempuan satu-satunya ini aku benar-benar gak tega Ji. Terus gimana ini Ji, aku bingung? Nyi ratu sendiri, aku janjikan tiga hari lagi, sehabis aku memberi uang banyak kepada susi asistenku itu,” Curhat ronald yang panjang.

“Susi aspri kamu sendiri tumbalkan? Gila kamu nald!!! Asli gila…apa mau Nyi ratu di kasih janji?,"Jawab sarji kaget dan semakin acuh

Anj*ng memang kamu ini nald, habis erna sekarang susi," celetuk Sarji yang munafik

“Ya gak tahu ji, waktu aku bicarakan begitu nyi ratu kelihatannya ya mau marah-marah!!! Tapi mau bagaimana lagi, aku gak mau kalau adikku diambil," Argumen Ronald

“Paling kamu punya pacar lagi ya? Mangkane Nyi ratu agak marah-marah kepadamu. Memang kamu bandel Nald," Tebak sarji Ronald hanya tersenyum kecil saja, serta menunduk sedikit dengan rasa malu didepan sarji.

“Sudah terserah kamu nald, aku sendiri ya ribet urusannya sama istriku," Jawab Sarji sambil memegangi kepalanya.

“Kalau masalah uangmu belum lengkap, masalahnya ini masih pagi aku juga belum ke bank. Nanti sore saja uangnya tak antar ke rumahmu sekalian aku mau nitip buat pesen besi," Pinta sarji

“Ya sudah kalau begitu ji, saya mau balik dulu,” Jawab ronald.

Setelah pembicaraan mereka terhenti dan Udin yang sudah mengetahui sebagain apa yang sebenarnya terjadi ia langsung berjalan cepat kedepan toko, Udin membaur dengan pegawai yang sudah ada agar kedua temannya tidak curiga.

Cukup lama Udin berbicara kepada beberapa pegawai yang juga bawahan udin, sampai ronald keluar ruangan dan berjalan melewati udin. “Sudah selesai nald," tanya Udin dengan senyum palsunya.

“sudah din, ya begitu sama anka buahnya yang rukun," sahut ronald yang terus berjalan dan mulai naik kedalam mobilnya. Kali ini Ronald sudah mempunyai sopir pribadi, ia langsung duduk bersandar dan menyalakan rokok didalam mobil.

Setelah itu sopirnya langsung melajukan mobil ronald untuk pulang Udin yang belum melihat Sarji keluar, ia dengan cepat menuju ruang admin. Dengan wajah kesal, benci dan marah. Udin yang berjalan ke ruang sarji seakan mau membunuh tanpa ampun.

Saat sampai didepan pintu ia melihat sarji duduk bersandar di kursi empuknya dengan wajah gelisah. Udin tetap melangkah masuk dan langsung duduk di depannya.

Bersambung...