Misteri Rumah Nenek: Kembali (Part 2)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamis, February 2013.
9 tahun berlalu, setelah nenek meninggal bahkan aku sudah jarang sekali berkunjung ke makam nenek dan kakek atau sekedar menginap di rumah nenek, terakhir hari raya Idul Fitri 2 tahun ke belakang aku berkunjung ke sana, bareng keluarga.
Mella sudah beranjak remaja, tentang kepergian dia sudah mengerti sekarang. Terlebih aku, arti keluarga sangat aku pahami dengan usia aku yang sekarang. Aku kuliah semester akhir, di salah satu universitas di Kota Kembang.
Aku dan Mella sangat akrab sekali, orang yang tidak tahu Mella adik aku pasti menyangka kalau dia adalah pacar aku ataupun sebaliknya Mella seperti itu.
Mella tumbuh dengan remaja yang sangat cantik, bahkan dengan sombongnya dia beberapa kali bercerita banyak yang mendekati dia, selayaknya anak remaja.
Jenuh dengan segala aktivitas kampus, yang membuat aku ingin sekali untuk melepas penat yang sudah menumpuk ini. Tidak habis pikir, aku telepon Mella.
“Mel, liburan yu,” ucapku.
“Jiah tumbenan nih kakak, ayo kak kemana?,” tanya Mella seperti biasa dengan sangat ceria.
“Hmm... Kemana yah? Pantai yu?,” ajakku, walau sebenarnya aku juga asal saja.
“Ah males, kemaren aku baru aja ke pantai bareng temen,” sahut Mella.
“Ah bingung Mel jadinya, eh btw kakak mau balik sekarang sore tar jemput yah di tempat biasa males bawa motor,” pintaku, yang tiba-tiba pengen pulang.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/qwertyping]
“Dasar, basa-basi ngajak liburan ujungnya minta dijemput huh,” sahut Mella dengan kesal.
Tidak tahu kenapa, hari ini mendadak aku ingin pulang, karena jenuh dan bosan dengan aktivitas kuliah yang seperti ini, walau ibu pasti protes aku pulang hari Kamis dan banyak pertanyaan lainnya.
Selepas magrib, aku sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah, turun dari bis, Mella sudah ada dan langsung menuju rumah, ibu sudah menyiapkan makan. Sambil makan ibu bertanya tentu saja soal kuliah dan lainnya di kota orang.
“Udah lama kamu ini, sana jengukin tuh makam Nenek sama Kakek besok berangkat minggu pulang,” ucap Ibu, dengan santai.
“Iyah tuh, katanya pengen liburan,” ucap Mella.
“Yu Mel, sama kamu juga,” ajakku.
“Ayo aja udah lama juga enggak ke rumah Nenek,” ucap Mella.
“Oke besok siang kita berangkat yah,” sahutku dengan semangat.
“Yaudah besok pagi ibu siapin bawaan kalian untuk 3 hari di sana, biar besok ibu izin ke guru Mella," ucap Ibu.
“Eh Bu, kang Idim apa kabar udah tua pasti yah, sekarang 2 tahun ke belakang aku tidak bertemu denganya, karena kata Ayah kang Idim juga mudik ke kampung istrinya,” ucapku.
“Udahlah, orang kamu sama Mella juga udah pada besar,” sahut Ibu.
Selesai makan dan ngobrol dengan Mella juga Ibu, aku langsung ke kamar, istirahat sambil membaca beberapa buku kesukaan aku seperti Tan Malaka.
Selesai membaca, aku teringat rumah Nenek bakalan asik buat aku mencari inspirasi, aku siapkan laptop, alat lukis dan beberapa buku yang akan aku bawa.
9 tahun lamanya semenjak nenek meninggal, sudah lama tidak menginap di sana, mungkin segala kenangan bersama nenek akan terasa indah jika aku mengingatnya di sana, di rumah nenek langsung.
Apalagi rumah nenek sangat sejuk dan kalau malam sangat dingin sekali dengan lokasi yang akan menyuguhkan pemandangan indah. Sudah terbayang sangat jelas, 3 hari kedepan akan aku habiskan untuk menenangkan pikiran dan bersenang-senang dengan Mella di sana, apalagi dia selagi nenek masih hidup dia cucu kesayangnya.
Aku akan bersilaturahmi dengan Kang Idim, Teh Watu juga Kang Obar yang sebagian besar adalah orang-orang yang dekat dengan Nenek sewaktu hidup dan sedikit banyaknya tau tentang aku juga Mella.
Pikiran tentang kenangan dengan Nenek seketika datang, dengan cepat pada pikirkan ini, hanya tentang keindahan rumah Nenek yang sudah lama tidak aku kunjungi.
“Bangun udah pagi kak,” ucap Mella, sambil membangunkan aku berkali-kali.
“Iya bawel ini bangun,” jawabku yang masih terasa mengantuk.
“Iya biar enggak terlalu siang berangkatnya, udaranya masih seger nanti di perjalanan,” ucap Mella.
Tidak terasa pagi datang begitu cepat, bahkan semalam sehabis melamunkan sosok Nenek tertidur begitu saja. Sehabis mandi, benar saja Mella dan Ibu sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama-sama.
“Fed, awas ada barang kamu yang ketinggalan, dicek lagi tasnya,” ucap Ibu.
“Iya tuh cek lagi jangan udah di jalan tar balik lagi, makan waktu lagi coba,” ucap Melli, menambahkan omongan Ibu.
Iya aku termasuk orang yang kalau berpergian ada saja yang harus tertinggal, tapi setelah aku cek ulang, aman bawaanku lengkap.
“Itu ibu udah siapkan bawaan, entar kamu kasih ke Kang Idim sama Kang Obar yah, terus kata ayah kamu Fed, jagain adik kamu ini jangan dikit-dikit dimarahin kalau salah, oiyah ini kunci ganda rumah Nenek, takutnya kamu kesana Kang Idim lagi di luar jadi gak usah nunggu,” ucap Ibu.
“Siap, aman bu Fedi paham kok, inget-inget tuh Mel takut kakak lupa,” sahutku.
Setelah makan pagi selesai, aku langsung bergegas. Kebetulan ada Mobil keluarga yang bis digunakan, semua barang-barang disimpan di bagian belakang, perlengkapan di tengah, tentu saja di depan aku dan Mella.
Sepanjang perjalanan, aku dan Mella berbagi cerita satu sama lain, tentang asmara, sekolah, kuliah, kangen Ayah dan salutnya pada sosok Ibu. Perjalanan bakalan lama sekali, memakan waktu 2 jam.
“Kak apa yang kakak ingat soal Nenek?,” tanya Mella.
“Hmm banyak dong,” jawabku.
“Salah satunya?,” ucap Mella.
“Nenek cantik dan Jago masak, kalau kamu?,” tanyaku.
“Aku ingat kak, sering banget Nenek memainkan rambutku waktu itu, sambil diikat-ikat gitu,” jawab Mella.
Iya tanpa Mella menjelaskan soal Nenek, aku tahu dia paling dekat dan paling disayang karena cucu Nenek satu-satunya perempuan adalah Mella.
Setengah perjalanan, hamparan hijau pemandangan, segarnya udara alam terus-menerus menemani perjalanan ini, seketika aku lihat Mella sedang asik dengan Hp nya, aku biarkan saja, tidak lama aku lihat dia sudah tertidur.
Tidak terasa tinggal beberapa menit lagi sampai, karena aku ingat patokan jalan-jalan yang sudah tidak asing lagi, walau ada beberapa yang sudah berubah total, aku melewati pemukiman warga, baru paling ujung kampung ini letak rumah Nenek, terasa bahagia bisa kembali kesini setelah lama sekali tidak melihat rumah itu.
Sampai di parkiran, aku dibuat terkejut, tidak ada sama sekali perubahan sejak 2004 dan dua tahun ke belakang, rumput hijau yang masih terawat dan cat bangunan yang sama sekali tidak berubah pudar warnanya. Aku semakin yakin kalau kang Idim & kang Obar begitu telaten mengurus rumah ini.
“Bangun Mel udah sampai,” ucapku, membangunkan Mella.
Mella langsung membuka matanya dan terlihat dari kelopak matanya berlinang, aku yakin dia sebegitu rindunya sama Nenek dan rumah ini.
“Kan apa aku bilang kak, indah sekali bukan,” ucap Mella.
Setelah itu aku dan Mella langsung berjalan menuju teras rumah dekat pintu utama.
“Kursi ini,”
“Kenapa kak?,” tanya Mella.
“Kursi kesukaan Nenek kalau jam segini banget percis dia suka duduk disini sambil melamun gitu,”
“Iyah aku ingat,” sahut Mella.
Aku melihat sekitar, kebunya masih sama seperti dulu tidak ada perubahan, kebun mawar Nenek masih sangat terawat. Pohon beringin di samping rumah bahkan masih sama, seperti aku masih kecil. Apalagi pot yang berisi banyak bunga, kelihatan sekali terjaga.
Bersambung...
