Misteri Terbangnya Keranda Mayat

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Melihat keranda mayat diangkut masa saja sudah seram, apalagi keranda itu terbang dengan sendirinya.

Ilustrasi Keranda terbang (Foto: newsth.com)
Suatu pagelaran yang disaklarkan selalu mengandung norma-norma kepantasan yang pantang untuk ditinggalkan. Di dalamnya terdapat keharusan-keharusan kultural tentang apa yang mesti dilakukan dan apa yang mesti ditinggalkan. Tidak hanya pada level kesantunan berperilaku, pada pagelaran-pagelaran yang mungkin’sepele’ pun keharusan itu tetap berlaku. Sebagaimana pada mitos warga desa Priagung Jawa Barat tentang pagelaran seni wayang.
Warga desa Priagung memiliki kepercayaan bahwa pertunjukan seni wayang harus ditonton hingga selesai, dan barang siapa yang meninggalkan pagelaran seni itu sebelum waktunya akan mendapatkan konsekuensi-konsekuensi yang buruk. Seperti yang terjadi pada seorang tukang bakso beberapa tahun silam di desa itu.
Al kisah, di desa Priagung, sedang diadakan pagelaran seni wayang. Pagelaran seni itu diadakan dalam rangka ‘syukuran’ pernikahan salah satu warga setempat pada suatu malam. Sebagaimana pada acara-acara syukuran yang dirayakan pada umumnya, banyak warga yang datang, entah sebagai tamu undangan atau hanya mencari-cari hiburan semata. Atas kondisi itu, tidak mengejutkan bila kemudian daerah itu dipenuhi oleh banyak pedagang kaki lima.
Di tengah-tengah penuhnya pedagang kaki lima, terdapat seorang pedagang bakso. Sebelum habis pertunjukan wayang disitu, habislah dagangan baksonya hingga ia memutuskan untuk pulang saja. Maka berangkatlah ia mendorong gerobak baksonya.
Untuk pulang ke rumahnya, tukang bakso tersebut harus melewati suatu jalan kecil menurun yang sepi. Konon jalan tersebut juga angker, suatu keadaan yang tak mengherankan melihat bahwa jalanan itu ditutupi oleh hutan bambu dan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Saat melewati jalanan kecil itulah kejadian aneh dan menyeramkan terjadi.
Abang tukang bakso itu mendengar ada keriuhan orang-orang mengantarkan jenazah dalam keranda. Dalam hati, tukang bakso itu berkata “Innalillahi, siapa yah yang meninggal?”. Lama-lama kerumunan itu makin mendekat. Setelah makin dekat, ternyata tidak ada orang-orang yang mengantar jenazah itu. Dengan kata lain, yang Nampak adalah sebuah keranda mayat yang terbang dan hinggap di atas gerobak bakso yang didorong bapak tersebut.
Melihat fenomena itu, abang tukang bakso segera melarikan diri dengan ketakutan. Gerobak bakso yang ia dorong pun ia tinggalkan, alhasil gerobaknya pun jatuh terporak poranda mengeluarkan kuah-kuah bakso dari panic yang ada di gerobak tersebut. Seorang bapak-bapak yang kebetulan sedang ‘nongkrong’, sebut saja Herman, melihat abang-abang bakso yang tengah berlari itu dan memberhentikannya. Pak Herman menenangkan abang-abang bakso itu sembari menanyakan apa yang terjadi. Kepada Pak Herman, abang-abang bakso itu menjelaskan apa yang telah ia alami.
