Mitos Tangisan Tengah Malam di Terowongan Paledang

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kereta Api memang sudah ratusan tahun berada di Indonesia, kehadiran transportasi darat bebas macet tersebut tidak bisa dilepaskan dari peranan Belanda meski pada saat itu tujuan utama Kereta Api adalah untuk mensukseskan penjajahan pemerintahan Belanda di tanah air.
Oleh karena itu, perkembangan kereta api seringkali dihiasi dengan perlawanan masyarakat Indonesia, sehingga tak sedikit pertumpahan terjadi di sepanjang jalur kereta api yang ada di Indonesia. Baik dari proses pembuatan rel hingga pengoperasiannya, Belanda melakukan kerja paksa kepada pribumi.
Dari kisah perlawanan dan perjuangan pribumi ini banyak lahir kisah-kisah misteri mengenai kereta api, terutama di jalur yang dianggap banyak menelan korban jiwa.
Seperti yang terjadi di jalur kereta api jurusan Bogor-Sukabumi tepatnya di Terowongan Paledang. Konon, di terowongan yang berlokasi di Jalan Paledang Blok Sekolah 17 ini menyimpan kisah masa lalu yang sangat kelam.
Terowongan Paledang yang memiliki ruang sempit itu diduga sudah menelan banyak korban jiwa. Konon pada era terdahulu banyak penumpang kereta yang menaiki di atap kereta, lalu ketika melintas terowongan yang sempit itu para penumpang tersebut seketika tewas mengenaskan.
Kabar banyaknya nyawa melayang di terowongan ini menimbulkan kesan angker, terutama pada malam hari. Konon, pada malam hari sering terjadi suara jeritan, erangan kesakitan dan yang paling sering ialah tangisan seseorang yang tidak diketahui dari mana asal suaranya.
Banyak warga yang menduga bahwa semua gangguan gaib yang terjadi ialah berasal dari para arwah yang gentayangan dan seolah meminta pertolongan untuk dikirimkan doa kepada mereka.
Suara-suara gaib yang terjadi di Terowongan Paledang itu diduga kuat juga berasal dari arwah para korban kerja paksa yang diterapkan oleh pemerintahan Belanda. Kekejaman Belanda yang terkenal tak kenal ampun itu tentu saja membuat tidak sedikit para pekerja yang mati kelelahan.
Selain itu, ada juga suara-suara seperti langkah derap bagaikan prajurit yang berjaga di tengah malam. Masyarakat menduga bahwa itu adalah para tentara Belanda yang juga ikut mati dalam pemberontakan.
