Puasa Apit Weton Untuk Kesehatan Kembaran Ghaib

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puasa apit weton adalah puasa yang dilakukan saat hari kelahiran sendiri. Misalnya apabila kita lahir pada hari Senin, maka setiap hari minggu mengapit Senin dan ditutup dengan selasas kita diperbolehkan melakukan puasa apit weton. Dalam ajaran Islam, puasa hari kelahiran atau puasa weton memang tidak ada. Jenis puasa ini merupakan tradisi masyarakat kejawen pada masa lampau yang sekarang juga masih ada sebagian orang yang menjalankannya.
konon menurut masyarakat yang mempercayai ajaran kejawen, puasa apit weton adalah momen dimana kita memperhatiakan kembaran ghaib kita atau sering disebut roh sedulur.
pada tradisi ini biasanya menyajikan sesajen berupa segelas kopi hitam, nasi putih dan telur, lilin, kembang 7 rupa dan rokok kretek. diceritakan apabila semua sajen tersebut dimakan oleh yang puasa maka rasanya akan hambar karena dipercaya sarinya sudah dimakan oleh roh sedulur.
Puasa weton ini menjadi sarana pemberian perhatian kepada roh sedulur papat dan menjadi sarana memperkuat kesatuan antara seseorang dengan roh sedulur papat dan para leluhurnya.
Puasa weton ( Laku Wetonan ) adalah salah satu laku budaya kebatinan yang sudah umum dilakukan dalam masyarakat jawa. Tetapi sehubungan dengan adanya pengaruh budaya Islam dalam masyarakat jawa, orang-orang jawa yang masih melakukan puasa weton ini tidak lagi melakukannya sesuai aslinya dalam ajaran jawa, yaitu dengan puasa ngebleng, tetapi melakukan puasanya sama dengan puasa biasa, yaitu puasa dari subuh sampai mahgrib.
puasa apit weton juga diyakini mampu mengantarkan pelakonnya menuju gerbang kesejahteraan dan dijauhkan dari marabahaya serta selalu dalam kebahagiaan.
Sekalipun bentuk laku puasa itu masih memberikan keghaiban, tetapi sudah tidak lagi besar seperti seharusnya, bahkan karenanya banyak juga yang tidak lagi dapat merasakan keghaibannya sehingga kemudian tidak lagi melakukannya, dan kemudian digantikan dengan puasa Senin – Kamis, puasa mutih, atau puasa berpantang makanan tertentu saja.
