Entertainment
·
21 November 2020 17:43

Rusin 2 (Tamat)

Konten ini diproduksi oleh Dukun Millennial
Rusin 2 (Tamat) (658061)
Ilustrasi hantu, dok: pixabay
Terlihat lima buah tas berjejer sedemikian rupa di atas ranjang, ia mengenali tas-tas itu.
ADVERTISEMENT
“Loh mbak,” celetuk Juni, kakaknya berbalik.
“Tante Ju Ni," sapa Merry padanya.
“Mbak mau pulang sekarang?, kok tadi ga bilang dulu?," protes gadis itu pada kakak perempuannya. Wajahnya cemberut tak merelakan kakaknya pergi, ia meraih Merry yang tadi bermain di meja rias.
“Mbak lupa dek kalo rencananya hari ini harus balik, ada banyak kerjaan numpuk di kantor. Makanya kamu cepetan dong lulusnya nanti kamu yang bantuin ngurus bisnis almarhum papah," jelasnya pada adik tirinya itu. Juni terdiam, mungkin ia merasa masih ingin ditemani di rumah itu. Setelah semuanya beres, sore itu Novi dan Agus pamit pada keluarga Febri, keluarga Mei, pun menitipkan salam pada pak Adi.
“Pak Bu, saya titip Juni ya," pinta Novi saat berpamitan, ia memeluk ibu Febri erat.
ADVERTISEMENT
“Iya mbak, bakal saya jaga adik mbak sama kaya anak anak saya sendiri," jawab ibu Febri.
Ibu Mei pun memeluk Novi bergiliran, ia juga mengatakan akan merawat Juni sesuai mandat ayahnya dulu.
“Dek ayo, semuanya udah siap," panggil Agus pada istrinya.
Novi hanya mengangguk, untuk terakhir dia memeluk Juni, meminta maaf pada adiknya itu.
“Dek, maafin mbak ya kalo mbak ada salah. Kamu jaga diri baik baik, mbak sayang kamu," ucapan Novi itu membuat hati Juni seketika runtuh, ia tak tau apa gerangan yang membuat hatinya terasa begitu merasa kehilangan. Padahal ia akan terus bisa menjumpai kakaknya sewaktu waktu, lalu kenapa pula kakaknya meminta maaf. Ia merasa cara berpamitan kakaknya tak benar, harusnya tak seperti ini.
ADVERTISEMENT
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/itsqiana]
Novi melangkah menuju mobil, mengambil Merry dari gendongan suaminya yang berdiri di dekat sana. Untuk terakhir sebelum berangkat, wanita itu melambaikan tangan pada orang-orang di belakangnya.
Mobil melaju semakin jauh melewati halaman depan dan keluar dari gang menuju jalan raya. Semua orang kembali ke rumahnya masing masing, kini hanya Juni sendirilah yang ada di rumahnya. Agus melajukan mobilnya dengan tenang, sesekali ia nampak bergurau dengan istri dan putrinya. Jarak rumah mereka dengan rumah Juni sedikit jauh, mungkin satu setengah jam perjalanan dan harus melewati jalan besar yang sangat ramai oleh kendaraan muatan berat. Kalau Agus mau menambah lajunya, mungkin bakda maghrib mereka telah bisa sampai di rumah.
ADVERTISEMENT
Novi memangku putrinya dan mendekapnya, anak itu tampak sudah mengantuk. Begitu nikmatnya berkendara ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang masuk melewati jendela membuat terasa nyaman.
“Mas kenapa?,” tanya Novi pada suaminya yang menunjukkan raut berbeda.
Pria yang duduk di sebelahnya terlihat begitu tegang, wajahnya pucat dan tangannya mulai gemetar. Ia memang selalu gemetar saat ketakutan.
“Tad, tadi itu bukan orang kan dek?, aku hampir aja nabrak sesuatu!,” jawab Agus yang tak fokus mengemudi.
“Kok aku gak liat sih mas, mana sih?,” Novi bingung, nampaknya ia tak melihatnya.
“Tadi itu tadi, masa kamu gak liat!,” tegas suaminya.
Rusin 2 (Tamat) (658062)
Ilustrasi mengemudi, dok: pixabay
Namun memang benar apa yang dikatakan Agus, ada yang mengikuti mereka. Beberapa kilometer mereka lalui, Agus membelokkan mobilnya ke SPBU. Ia mengisi bahan bakar mobilnya, sedangkan Novi mengajak putri mereka ke kamar mandi.
ADVERTISEMENT
Selesai dari kamar mandi, Novi segera masuk mobil wajahnya begitu memelas, Agus dibuat bingung olehnya. Namun ada satu kejanggalan yang belum Agus sadari, istrinya kembali tanpa membawa putri mereka, ia tak sadar sadar bahwa putrinya tak ada di sana. Ia hanya merasa ada yang berbeda dengan istrinya.
Novi begitu sedih, menahan tangis, Agus semakin bingung. Lima belas menit mereka lalui sejak Novi meninggalkan putri mereka di sana. Kini air matanya tak dapat dibendung lagi, ia menangis sesenggukan meminta maaf pada Agus.
Agus yang tak mengetahui perihal apapun hanya berdiam diri, ia bingung bagaimana harus menanggapi.
“Loh dek, Merry mana?!,” ia sadar saat matanya tak sengaja menatap gendongan milik putrinya itu.
ADVERTISEMENT
“Maafin aku mas aku mohon maafin aku," ucap istrinya memohon.
Pria itu melihat seisi mobil, mencari Merry tanpa meminggirkan kendaraannya terlebih dahulu. Dan betapa terkejutnya ia saat matanya menangkap sosok mengerikan yang pernah ia lihat beberapa kali tengah duduk di jok belakang mobil mereka. Tanpa sadar ia melepas tangannya dari setir, ketakutannya tak terbendung.
“MAAF MAS,” ucap istrinya meraih tangan suaminya itu beberapa saat sebelum.
"Bressss Brak," truk gandeng besar menabrak body belakang mobil mereka, menggeretnya hingga beberapa belas meter.
"Bruak," kendaraan besar dari lawan arah menggilasnya kembali.
Begitu miris nasib kedua manusia itu, mereka menghadap maut secara bersamaan dengan cara yang sebegitu mengenaskan.
Di dapur, Juni tengah mencuci piring ditemani beberapa makhluk yang bergelantungan di atap memandangnya sibuk, Juni tak menghiraukannya.
ADVERTISEMENT
"Dug, dug, dug," Juni menghentikan tangannya yang tengah menggosok piring-piring di hadapannya, ia menengok ke belakang. Seorang pria tengah berdiri menghadap dinding, menunduk dan terus membentur benturkan kepalanya ke dinding di hadapannya itu.
Posisi mereka beradu punggung, Juni sangat mengenali perawakan itu. Gadis muda itu beranjak dari tempatnya, menghampiri si pria.
“Mas?,”
“Mas Agus?,”
“Mas,” ya, ia melihat sosok Agus di sana, namun ia sama sekali tak menjawab panggilan Juni. Ia masih mengenakan baju yang sama seperti saat ia dan kakak Juni pamit pulang sore tadi. Kaus hitam polos dan celana cargo lengkap dengan ikat pinggang.
Juni mulai menaikkan tangannya, mencoba memberanikan diri untuk menarik bahu kakak iparnya itu, membalikkan posisi pria itu agar menghadap padanya. Tubuh Agus begitu dingin, sedingin mayat.
ADVERTISEMENT
Tangan Juni mendarat di lengannya, memutar badan Agus. Juni segera membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan betapa terkejutnya gadis itu menatap sosok Agus yang begitu mengenaskan, wajahnya berlumur darah, perut dan pahanya tertusuk pecahan kaca.
"Kring kring kring," handphone Juni yang tergeletak di meja terdengar berdering.
Masih dalam posisi yang sama Juni mengalihkan tatapannya menuju kearah meja. Ia tak menghiraukan telefonnya dan hendak kembali menatap sosok Agus, namun sosok itu telah hilang, tak lagi menampakkan diri.
Hp nya kembali berdering untuk yang kedua kali, Juni mengangkatnya. Betapa terkejutnya ia mendengar kabar bahwa Merry kini sedang berada di salah satu kantor polisi, mereka mengatakan bahwa Merry ditinggalkan ibunya sendirian di kamar mandi SPBU, namun ibunya meninggalkan secarik kertas berisi nomor telepon Juni yang digenggam oleh balita itu.
ADVERTISEMENT
Tak pikir panjang Juni segera meraih sepatu dan tasnya, ia mengunci pintu dan buru-buru melajukan mobilnya menjemput Merry. Juni memarkirkan mobilnya di area kantor, ia segera keluar dari dalam mobil. Suara tangis dari dalam ruangan terdengar hingga tempat di mana Juni parkir.
Merry menangis begitu kencang, ia tak henti hentinya berteriak mencari ibunya. Sungguh menyayat hati, bocah sekecil itu yang hanya mengerti bermain makan dan tidur ditinggal begitu saja di tempat umum.
Juni tak bisa membayangkan bagaimana jika ada orang jahat yang justru menculik keponakannya. Ia berlari memasuki kantor itu, meraih tubuh Merry yang tengah digendong seseorang, mencoba menenangkan balita itu. Wajah Juni memerah karena tangisnya.
“Nte.. nte,” panggil Merry pada Juni.
ADVERTISEMENT
Balita itu memeluk erat tantenya seakan ketakutan akan ditinggalkan sendirian lagi, di sana tak ada yang ia kenali selain Juni.
“Iya nak, Merry nak ini tante nak, Merry tenang ya sayang,” ucap Juni yang juga sesenggukan, ia sekuat tenaga melerai tangisnya sendiri karena takut bila ia terus menangis, tangis Merry akan turut semakin menjadi. Dia melonggarkan peluknya, mengarahkan kepala Merry agar menatap wajahnya.
“Cup cup cup sayang tante di sini nak jangan nangis lagi ya," senggal-senggal nafas Juni terdengar begitu jelas, air matanya mengalir deras. Tangan Juni mengelap sisa-sisa air mata di pipi keponakannya, ia mendekatkan kepalanya ke kepala Merry, membungkusnya hangat dalam dekapan.
Anak itu terlelap dalam pelukan Juni dengan begitu pulasnya, Juni menelpon pengacara almarhum ayahnya, dia meminta bantuan untuk mengurus seluruh masalah ini. Setelah pengacaranya datang, Juni segera pergi dari sana, dengan niat membawa Merry pulang ke rumah kakaknya.
ADVERTISEMENT
Balita itu ia tidurkan di jok tengah sendirian, sedang Juni menyetir di depan dengan pikiran kacau. Ia tak tahu lagi cobaan apa yang harus ia hadapi kedepannya. Jalanan menuju rumah kakaknya begitu macet, selain karena arus kendaraan yang begitu padat, juga karena satu ruas jalannya ditutup akibat kecelakaan kakak Juni. Namun sayangnya, Juni tak mengetahui sama sekali tentang hal itu.
Ketika kemacetan mulai terurai dan ia melewati tkp, ia terkejut melihat mobil dengan plat yang sama persis seperti mobil kakaknya ringsek bersimbah darah teronggok di bahu jalan. Mobilnya hancur berantakan dengan seluruh body yang penyok tak karuan. Juni segera menepikan mobilnya di dekat sana, banyak polisi yang masih berada di tkp menatap Juni bingung.
ADVERTISEMENT
“Pak, ini mobil kakak saya, kenapa ada di sini pak, kenapa bisa kaya gini," tanya Juni yang merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Pupilnya membuka lebar, alisnya mengerut pula dengan tangannya yang menunjuk mobil kakaknya.
“Mbak keluarga korban?, mari saya antar ke rumah sakit, korban sudah dibawa kesana,” ucap salah seorang polisi muda yang ada di sana.
Ia meninggalkan beberapa rekan dan mobil patrolinya di sana, mereka ke rumah sakit mengendarai mobil Juni. Karena Juni sibuk dengan tangisnya, pria itulah yang menyetir. Ia tak banyak bicara, pula tak menjelaskan tentang keadaan kakak Juni, ia hanya fokus menyetir.
Juni menggendong Merry yang masih saja tidur, ia membawanya memasuki rumah sakit bersama polisi itu. Juni segera diarahkan ke kamar mayat, kakaknya telah terbujur kaku bersebelahan dengan suaminya yang juga telah pergi untuk selama lamanya.
ADVERTISEMENT
Juni meratapi itu semua, harus berapa banyak lagi kehilangan yang mesti ia rasakan, harus berapa banyak lagi ia melihat kematian orang orang terkasihnya. Merry ia titipkan pada pria itu, ia berlari meringsek ketubuh jenazah kakak perempuannya. Ia menjerit tak kuasa membendung kesedihan yang mencuat di dadanya.
Dia menggoncang goncangkan jenazah Novi, berteriak memanggil nama Novi untuk membangunkan kakak perempuannya. Dada Juni benar-benar sakit, seluruh darah dalam tubuhnya serasa memenuhi kepalanya.
“Mbak.. mbak Novi bangun mbak jangan biarin Juni sendirian mbak, jangan tinggalin Juni mbak," isaknya tak karuan sembari memeluk kakaknya.
“Mbak.. Juni minta tolong bangunlah mbak," Juni begitu frustasi, seakan dunianya kiamat dalam sekejap.
"Aaaaaaaa," gadis malang itu berteriak dan memukuli dadanya dengan begitu keras, tak hanya itu ia pun menjambak jambak rambutnya dan menampari pipinya sendiri, ia begitu kacau, begitu putus asa.
Rusin 2 (Tamat) (658063)
Ilustrasi mayat, dok: pixabay
Beberapa perawat yang mendengar kegaduhan itu segera menghampiri Juni, memegangi tangan dan kaki Juni agar ia tak lagi menyakiti dirinya sendiri. Juni pingsan beberapa kali, ia dirawat inap pula di rumah sakit itu. Setiap terbangun, dia selalu menangis histeris hingga pingsan kembali.
ADVERTISEMENT
Pihak keluarga Agus datang ke rumah sakit itu segera, mereka dikabari oleh pihak berwajib, begitu pula dengan Julianti, ibu Novi. Wanita tua itu datang dan mengutuk Juni, menyalahkan anak tirinya atas segala yang menimpa Novi. Makiannya itu semakin menyakiti hati Juni, gila, sangat gila, mereka berdua sama-sama kehilangan namun masih sempat sempatnya wanita itu meneriaki Juni.
Ia tak terima, ia menganggap jika saja Novi tak berkunjung ke rumah Juni, Novi tak akan mendapat sial seperti ini. Merry yang tak tahu apapun semakin ketakutan melihat neneknya mengamuki tantenya, ia memeluk Juni erat di atas ranjang kamar rawat pasien. Sesekali bocah itu membenamkan wajahnya di sela lengan Juni saat neneknya berteriak seperti kesetanan.
ADVERTISEMENT
Pandangan Juni kosong, telinganya seakan tuli, ia tak lagi menghiraukan ucapan ibu tirinya, memandangnya saja pun ia enggan. Tangan kirinya memeluk Merry, sedang tangan kanannya tersambung dengan selang infus. Ia meraih handphone yang ada di tasnya. Entah siapa yang meletakkan barang-barangnya di atas meja sebelah ranjang itu.
Juni mengabari Mei dan Febri, meminta mereka untuk membantunya menjaga Merry malam ini juga. Dua jam berlalu, Febri dan Mei beserta ibu mereka berdua telah datang ke rumah sakit. Mereka semua tak percaya dengan apa yang terjadi, apakah ini sebabnya Novi berpamitan seaneh itu pada mereka tadi sore.
Kenapa Juni harus melalui hal hal berat ini secara beruntun tanpa jeda, tak ada jeda untuknya beristirahat dan merasakan bahagia sedikit saja. Sebelum jenazah dikirim ke rumah duka, pihak berwajib menjelaskan semuanya secara detil pada keluarga. Juni yang tak kuasa hanya memandang dari kejauhan.
ADVERTISEMENT
Keduanya meninggal di tempat kejadian, tempurung kepala Agus mengalami keretakan serius, sedang tulang leher Novi patah dan ditemukaan beberapa pecah kaca menusuk jasad mereka. Jenazah kakak Juni segera dikebumikan, namun anak mereka sama sekali belum mengerti apa arti kematian, anak itu tak mengetahui bahwa kini ia adalah yatim piatu. Ia hanya terus saja menangis mencari keberadaan ibunya.
Juni menyadari satu hal, hal terpenting bahwa ternyata kakaknya sengaja meninggalkan Merry sendirian di sana karena ingin anaknya selamat, pasti Novi telah mengetahui bahwa nyawanya terancam. Juni begitu iba melihat anak kakaknya itu, di satu sisi ia bersyukur karena anak yang masih suci ini selamat dan bisa melanjutkan hidupnya, namun di sisi lain hatinya begitu retak, ia tak menyangka keponakannya akan menjalani kisah hidup yang hampir sama dengannya, kehilangan orangtua.
ADVERTISEMENT
Pihak keluarga Agus tak ada yang berkenan untuk mengasuh Merry, mereka justru sibuk merebutkan hak waris, namun berbekal kuasa hukum pihak keluarga Novi, akhirnya Juni berhasil mengamankan seluruh aset yang menjadi hak Merry. Juni lah yang menjadi wali Merry sampai ia besar nanti, ia juga yang mengasuh serta merawat keponakan satu satunya itu karena ibu tiri Juni memilih untuk menghabiskan masa tuanya dengan menyendiri.
-Tamat-