Santet Ibu Tiri (Tamat)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari kedua, masih dengan ibuku yang tertidur nyenyak dan sering kali memanggil ku untuk minum susu, karena mama terlalu lama tidur dan jam makannya jadi kacau, dokter memberi ibuku seperti susu namun mengenyangkan untuk memberikan protein dan vitamin vitamin lainnya.
Terkadang menyuruhku untuk menyalakan televisi meskipun ibuku hanya mendengarnya saja, memanggilku hanya untuk melihat wajahku dengan matanya yang sudah sayu dan lemas namun tetap tersenyum dan mengatakan
“Tetap senyum dan semangat ya nak,"
Ntah seketika air mata ini tiba-tiba keluar dan aku yang ganti menyemangati ibuku
“Ibu habis gini sehat kok," ibuku hanya menganggukkan kepalanya.
Malamnya ayahku memanggilku keluar kamar dan ayahku bercerita semua tentang kejadian yang ibuku alami mulai dari awal kenapa bisa ada santet kodok Kalimantan di tubuh ibuku. bermula dari kakek dan nenekku dari Kalimantan membawa sebotol kecil minyak (seperti minyak goreng) dan nenekku mengolesi minyak itu ketika aku sekolah, ayah dan kakek lagi membicarakan soal kondisi ibuku, dan anehnya setelah dipijat dan ibuku bilang ke ayahku.
“Aku habis dipijat sama ibu pake minyak gosok," tapi di seluruh badannya tidak ada bekas minyak atau lembab dari minyak tersebut. Ayahku mendiamkan saja dan berfikir minyak gosok emang cepat kering biar tidak membuat kulit berminyak.
Ketika pohon mati semua, ayahku ternyata ditelfon Abah untuk menemui Abah di rumahnya dan menceritakan semuanya jika ada yang ganjal di rumah kita. Ternyata pohon-pohon dirumah kita adalah penjaga kita sekeluarga yang tidak mampu mengalahkan santet dari Kalimantan tersebut, meskipun satu persatu pohon di rumahku mati ternyata masih tersisa beberapa pohon yang masih bertahan hidup dan melawan santet tersebut.
Hari ketiga, tetap dengan aku berada disampingnya ibuku. Bedanya ibuku sudah mulai tidur seharian tanpa memanggilku sama sekali meskipun hanya sekedar ingin melihatku. Aku coba memanggilnya tapi ibuku hanya membalasnya dengan mengigau dengan mata terpejam, aku coba memegang tangan ibuku dan ternyata ibuku demam tinggi. Aku coba memanggil ayahku beserta suster yang berjaga, dengan ijin ayahku suster menyuntikkan obat penurun demam melalui infus.
Malamnya aku masih menonton televisi dikamar, sedangkan ayahku sudah tidur. Tontonan jam malam waktu itu yang seru menurutku adalah film yang dimulai jam 10 – 12 malam. Selesai menonton terdengar suara pintu mengetuk.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/mirippocong]
Ternyata suster yang akan menyuntikkan obat penurun demam kepada ibuku yang masih dalam kondisi demam. Setelah disuntikkan entah mengapa nafas ibuku jadi berat seperti terengah-engah.
Dengan sigapnya suster mengganti alat nafas ibuku dengan alat nafas yang berpompa, dan aku membangunkan ayahku yang sedang tertidur.
Hingga jam 2 pagi nafas ibuku masih terengah-engah, dan tensi makin menurun. Aku bingung dan tidak tau harus bagaimana lagi, ayahku menyuruhku salim ke ibuku (dalam keluargaku, salim bisa diibaratkan ketika kita mau pergi atau biasa disebut pamit), aku lakukan meskipun aku bingung maksud dari ayahku yang menyuruhku salim ini. Sampai jam 3 pagi entah kenapa aku tiba-tiba tertidur tanpa ada pikiran apa-apa, mungkin karena kecapean menurutku karena aku belum tidur sama sekali waktu itu.
Jam 4 pagi, aku terbangun dengan kondisi ibuku sudah tidak bernyawa. Kaki, tangan, kepala sudah terikat tali putih dan para suster yang berjaga malam itu berjejer dan melakukan doa bersama. Aku hanya diam, kaget, shock, dan tidak bisa menangis.
Hanya diam melihat ibuku diantar suster ke ruang jenazah dan membereskan barang-barangku, membuntuti suster dan ayahku menelfon om ku (yang bekerja di rumah sakit itu) untuk menuju kesana.
Diruang jenazah aku hanya terdiam dan melihat handphoneku yang mengabarkan ke saudara dan teman-temanku bahwa ibuku sudah meninggal pagi itu. Setengah jam berlalu, om ku datang dan menyiapkan semuanya termasuk ambulans untuk membawa jenazah ibuku untuk diantar ke rumahku.
Dalam ambulans aku disuruh duduk depan (sebelah supir) sebagai penunjuk jalan, dan omku yang mengikuti dari belakang. Masih dengan keadaan shock aku menunjukkan arah rumahku, ketika sampai di rumah, sudah banyak saudara dan tetangga dirumah dengan segala persiapan pemakaman.
Aku turun dari ambulans, disambut pelukan dari saudara-saudaraku yang menangis. Aku masih diam dan enggan berbicara, entah karena apa aku hanya bisa terdiam dan membisu tanpa menjawab pertanyaan dari saudaraku dan menyingkir dari mereka seakan ingin menyendiri namun tidak bisa. Karena aku harus menyiapkan pemakaman ibuku mulai dari memandikan, meng-kafani, men-solati, hingga mengantarkan ke pemakaman.
Di pemakaman aku disuruh ikut turun ke liang lahat beliau, dengan memegangi kakinya aku ikut menguburkan ibuku dan membantu melepaskan ikatan tali kain kafan ibuku. Ada tiga orang yang ikut menguburkan ibuku, takmir masjid di bagian kepala, saudara di badan, dan aku di bagian kakinya Setelah adzan berkumandang di pemakaman, tanah pun mulai dijatuhkan ke makam ibuku.
Sampai batu nisan terpasang, aku-pun keluar dari liang lahat ibuku dan melihat sekelilingku betapa banyaknya orang yang hadir waktu itu kecuali ayahku yang pingsan ketika keranda ibuku diangkat menuju pemakaman.
Setelah selesai proses pemakaman, banyak orang berziarah ke rumahku. Mobil plat merah dari jalan masuk gang – jalan paling belakang, motor yang memenuhi halaman rumahku membuatku makin merasakan sakit di dada. Banyak sekali tamu di rumah dan aku hanya berdiam diri dikamar tanpa menemui satupun dari mereka. Sakit di dada semakin terasa, air matapun sudah tak terbendung, disitu aku menangis sejadi-jadinya.
Merasa Tuhan tak adil untukku, amarah yang meluap, lemari dan meja yang aku lempar, teriak se kencang-kencangnya. Sampai terdengar pintu kamarku terbuka dan ternyata itu adalah teman-temanku dan pacarku (aku SMP sudah mempunyai pacar meskipun bisa dibilang cinta monyet) di pelukan mereka aku menangis dan tak bisa berkata apa-apa kecuali permohonan maaf. Mereka memelukku dan berkata
“Masih ada kita dit, masih ada kita. Kamu gak perlu khawatir,"
Selesai itu, ketika sore hari. Eyangku (ayah dari ibuku) datang, beserta istrinya yang dari Kalimantan, dan kedua anaknya yang sudah menikah. Mereka memintaku mengantar eyangku ke kuburan ibuku, dan di kuburan itu aku mencoba menenangkan eyangku yang nangis sejadi-jadinya di kuburan ibuku.
“Anakku satu-satunya," kata eyangku.
“Kenapa secepat ini nak," lanjutnya.
Aku hanya bisa mengelus punggung eyangku dan meminta untuk mendoakan yang terbaik bagi ibuku.
Kami kembali kerumah dan berbincang mengenai sekolahku setelah ini dan kebutuhannya, eyangku bilang
“Kalo butuh apa-apa nanti bilang eyang ya, nanti eyang bantu apapun itu, jangan pedulikan masalah uang, yang eyang harapkan satu-satunya disini hanya kamu,"
“Iya eyang," jawabku.
Hari berikutnya eyangku beserta keluarga ban*satnya pamit pulang, ayahku mengatakan
“Kita boleh dendam pada orangnya, tapi jangan pada keluarganya," aku hanya menganggukkan kepala dan menunggu mereka pergi dari depan pintu.
Lalu selama satu bulan, aku merasa stress out. Mulai mengenal rokok minuman dan lain-lainnya. Merasa hancur se hancur-hancurnya, namun mereka membantuku untuk kembali bangkit dari keterpurukanku. Berusaha menghiburku dan mencoba untuk membuatku kembali menjadi aku yang dulu.
Ya meskipun susah tapi untungnya aku kembali menjadi seperti yang dulu, meskipun masih tersisa sakit hati karena ditinggalkan seorang ibu.
-Tamat-
