Solo Riding: Pertarungan Demit (Part 7)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tubuh, kaki, tangan, semua anggota badannya sudah benar-benar lemas seperti tak kuat lagi untuk berlari. Namun, jika tak begitu ia akan dibunuh. Majid sekuat tenaga berlari, Kuntilanak itu masih mengejarnya.
Ia sempat menengok ke belakang ke arah sosok itu, karena tak melihat jalan di depannya tiba-tiba Majid tersandung sebuah akar dan ia pun terjatuh.
Terengah-engah ia dibuatnya, dadanya sakit terkena batu, sempat ia batuk karenanya. Kacau, panik, sudah campur aduk ia rasakan. Sosok itu terus mendekatinya dengan kuku panjangnya yang siap menusuk Majid.
Lalu tiba-tiba ada sosok hitam tinggi besar berbulu, matanya merah, dengan taring dan kukunya yang panjang. Genderuwo itu barlari dari arah kanan menuju sosok Kuntilanak dan betapa kagetnya ia melihat mereka saling bertarung.
Akhirnya sosok kuntilanak itupun menghilang, dan yang lebih parahnya sekarang Genderuwo itu mengincar Majid untuk ia makan. Ada apa ini? kenapa aku jadi incaran demit? kenapa harus seperti ini? apa ini akhir dari hidupku? jika benar, tolong jangan seperti ini?.
Ucapnya dalam hati, benar-benar putus asa saat itu ia rasakan. Tak kuat lagi ia berdiri dan berjalan, hanya bisa terbaring lemas. Genderuwo itu sekarang ada tepat di atasnya, Majid hanya bisa pasrah.
Wajah Genderuwo itu berada tepat di wajahnya, air liurnya terus menetes ke wajahnya, ia buka mulutnya dengan begitu lebarnya seperti siap melahap Majid.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/fajarpra18]
Lalu "Huuuaaaaa!!!!!" ia terbangun sambil memegangi lehernya. Majid kaget ternyata ia masih berada di jalan, dengan posisinya yang telentang sedangkan motornya berada 5 meter darinya.
Ia pun bangun dan melihat ke sekitar, ternyata sudah tak ada lagi sosok kuntilanak itu. Sebenarnya apa yang terjadi, perasaan tadi ada di tengah hutan kenapa sekarang ada di sini? apa semua itu hanya mimpi? ucapnya dalam hati seraya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
Perlahan ia jalan ke motor, karena badannya masih terasa nyeri. Berharap ia bisa cepat sampai rumah, dan tak ada gangguan-gangguan lagi, ia pun meriksa jam berapa sekarang, namun jam tangannya mati, kacanya pecah, mungkin karena jatuh tadi, ia keluarkan HP nya dan ternyata mati juga.
Jadi ia tak tau jam berapa sekarang, sampai di motor dan di dirikanlah sama dia. Terlihat tak banyak yang rusak, hanya saja body bagian kirinya retak dan banyak yang lecet.
Beruntung, itulah pikirnya karena motor tak banyak kerusakan. Lanjutlah ia jalan walau dengan perlahan, benar-benar sepi tak ada kendaraan satupun yang lewat malam itu.
Sepuluh menit jalan, ia melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan dan ada seorang wanita melambai-lambai ke arahnya seraya teriak minta tolong. Ia pun berhenti dan bertanya ke wanita itu
"Kenapa mba, mobilnya mogok?" tanyanya seraya menyandarkan motornya sebagai penerangan.
"Iya mas mogok, bisa benerin gak?"
"Insha allah mba, saya cek dulu," dicek lah sampai ketemu masalahnya, saat otak-atik mobil itu.
Ia merasa aneh, wanita tadi kemana setelah memberinya senter. Ia coba panggil wanita itu namun tak ada jawaban sama sekali. Tiba-tiba bulu kuduk nya merinding, ia mencium bau busuk yang sangat menyengat, dan terbesit ada suara seperti rintik-rintik air di arah belakangnya.
Ia pun berhenti dan coba perlahan berputar badan, sontak ia kaget ternyata Pocong sudah berdiri tepat di belakangnya dengan wajah penuh belatung dan matanya hampir copot. Majid teriak dan langsung ia naik ke motornya pergi dari tempat itu.
Jalan terus ia tanpa henti, tanpa memikirkan apapun lagi. Ia hanya ingin cepat-cepat bisa sampai rumah. Di saat ia sedang fokus ke jalan, tiba-tiba motornya mati. Paniklah ia, kenapa harus berhenti? kenapa lagi ini? tolong..!!!
Ia pun berhenti di pinggir jalan, mengecek motornya dan kali ini parah. Bensin motornya habis, padahal baru ia isi full tadi sore. Mau tak mau ia hanya bisa menuntun motornya, dengan keadaan gelap gulita dan hanya ada sedikit cahaya dari bulan saja yang tembus diantara pepohonan pinus itu.
Rasa takut, sakit badan, capek, lelah, bingung, semua ia rasakan saat itu juga. Berharap ada seseorang yang datang menolongnya. Kalau saja tadi ia dengarkan perkataan ibunya, mungkin semua tak akan seperti ini.
Lama ia tuntun, dari sisi hutan kiri kanan dia seperti sudah banyak pasang mata melihat kearahnya. Takut, itu yang benar-benar ia rasakan sekarang. Tak lama ia jalan, di depan terlihat seperti ada gubuk kecil.
Ia putuskan untuk istirahat sebentar di sana, sepertinya ini warung pikirnya. Ia rebahkan badan di sebuah bangku panjang, rasa lapar, haus, semua ia rasakan, kemudian ia tertidur. Tiba-tiba dari dalam gubuk terdengar suara benda jatuh, sontak ia kaget dan terbangun.
Jantung berdegup dengan kencangnya, rasa takut dan was-was ia rasakan. Lalu pintu warung perlahan terbuka dan terlihat seperti ada cahaya lampu petromak mulai perlahan muncul.
Ia berlari ke arah motornya, belum sempat ia mau lanjut jalan menuntun motornya. Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya.
"Jid.. Majid.. Sini.." suara itu pelan tapi sangat menyeramkan.
Penampilan nenek itu benar-benar sangat mengerikan sambil memegang lampu petromak di tangan kirinya sedangkan tangan kanan memegang sebuah clurit panjang. Kemudian nenek itu jalan mendekatinya sambil terus memanggil namanya.
Dug dug dug dug!!!!!!! detak jantungnya terus bertambah cepat lalu tanpa pikir panjang ia langsung lari meninggalkan motor juga gubuk itu karena takut juga panik. Terus ia lari dengan perasaan takut yang benar-benar ia rasakan.
Di saat ia sedang lari, dari arah depan ternyata ada sebuah mobil datang. Ia lambaikan tangannya sambil berseru minta tolong. Kemudian mobil itu berhenti, dan Majid langsung menuju kearahnya.
"Kenapa mas?" tanya seorang lelaki dari dalam mobil itu. Kemudian perempuan di sebelah lelaki itu nanya
"Tersesat apa mas?"
"Iya mas mba, tolong saya,"
"Ya udah mas masuk, duduk di belakang ya," ucap lelaki itu.
"Nggih mas, matur nuwun" ia pun masuk ke dalam mobil itu dan duduk di bangku belakang, ia sedikit lega di situ karena ada seseorang yang akhirnya membantunya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku selamat," ucapnya dalam hati. Mereka pun kemudian jalan, ia sempat dikasih minuman oleh sepasang kekasih itu dan sebuah roti untuknya makan.
Selang berapa lama, ia akhirnya melewati gubuk itu lagi dan terlihat motornya masih ada di sana. Namun ia benar-benar kaget setengah mati, karena ia melihat dirinya ada di sana sedang tidur di sebuah bangku panjang.
Itu siapa? kenapa ada aku di sana? bukannya aku ada di sini, di dalam mobil?. Lalu tiba-tiba botol minuman yang ia pegang berubah menjadi botol yang isinya darah, dan makanan yang ia pegang berubah menjadi roti busuk yang sudah banyak belatungnya.
Melihat semua tiba-tiba berubah seperti itu sontak ia langsung muntah dan terbesit ada suara ketawa khas kuntilanak dari arah depannya, pas ia kembali nengok ke depan tiba-tiba kedua sosok itu sudah menatap tajam kearahnya.
Sontak ia kaget, dan terbangun sudah berada di gubuk kecil itu lagi. Perasaannya sudah tak karuan, langsung ia buru-buru pergi dari tempat itu. Lelah, entah kapan semua ini selesai? kenapa harus seperti ini, dan kenapa juga tak ada satupun kendaraan yang melintas.
Ia terus memikirkan ibu dan adik-adiknya, berharap bisa bertemu lagi dengan mereka dan kenapa aku bisa melihat mereka? bukankah aku tak mempunyai kemampuan seperti ini? sejak kapan aku bisa melihat mereka? dan kenapa aku terus mengalami hal ini, salahku apa?
Beribu pertanyaan datang di pikirannya, karena memang ia sangat tak menyangka bisa mengalami hal seperti ini yang bahkan sebelumnya tak pernah ia rasakan. Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan kakek-kakek yang ia temui di pasar waktu itu, ia bilang
"Cu, jangan pergi lewat jalur K, bahaya. Banyak yang mau nyelakain kamu, dengerin perkataan kakek," kagetlah ia mengingat semua itu, jadi ini maksud dari perkataan kakek itu.
Kenapa aku tak mendengarkannya? kenapa aku malah lupa? ucapnya dengan perasaan bersalahnya. Sedih yang ia rasakan, air mata pun sedari tadi sudah menetes tak kuat menahan rasa penyesalannya. Teringat waktu ia berangkat ke kota S, banyak sekali gangguan-gangguan yang menghalanginya untuk lewat jalur K. Ia tak menyadari semua itu dan karena keegoisannya ingin cepat sampai rumah juga tak mendengarkan ibunya, ia pun memutuskan lewat jalur K. Seharusnya ia tak memilih jalur ini.
Ia usap air matanya dan terus lanjut jalan sambil menuntun motor. Samar-samar dari arah belakang, seperti ada suara cekikikan yang perlahan berubah menjadi suara ketawa melengking kuntilanak. Pas ia nengok ke arah belakang ternyata itu adalah sosok Kuntilanak merah yang sepertinya ingin membunuhnya. Marah, kesal, benci, muak, semuanya jadi satu dan ia pun bilang ke sosok itu.
"Siapa kamu, kenapa ganggu saya, ada urusan apa kamu sama saya?" ucapnya dengan lantang karena kesal.
"Hihihihihi.. Kamu harus mati," ucap sosok itu dengan wajah menyeramkannya seraya menodongkang kuku panjangnya itu ke arah Majid.
"Apa salahku," sosok itu tak menjawab pertanyaan Majid, lalu kuntilanak itu terbang ke arahnya.
Bersambung...
