Konten dari Pengguna

Sumpah Pocong (Part 2)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pocong, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pocong, dok: pixabay

Wajahnya hitam, menatapku nanar. Ada gambaran kesedihan yang tak mampu dia sembunyikan. Tak lama setelah itu, sosok Sulis menghilang. Seketika itu pula denging di telingaku berhenti.

Tahlilan selesai, seperti biasa keluarga Sulis membagi-bagikan nasi berkat. Aku dan Bapak pun bergegas pulang. Rumahku tidak terlalu jauh hanya berjarak 4 rumah saja.

Sesampai di rumah, aku mulai membuka obrolan.

"Pak, sebenernya Sulis meninggal kenapa sih?," tanyaku sembari membuka toples cemilan di meja depan TV.

"Kan sudah tak bilangin, dia kena diabetes akut lo," jawab bapak.

Karena malam semakin larut aku memilih tak melanjutkan pertanyaanku kepada bapak. Aku masuk ke kamarku dan berniat untuk tidur. Namun, sudah setengah jam berlalu, aku belum juga bisa tidur. Bayang-bayang sosok Sulis selalu muncul di ingatanku.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku mematikan lampu bohlam yang ada di kamarku, namun masih terdapat sorot rembulan yang masuk melalui kaca jendela kamarku.

Jadi, kondisi cahaya di kamarku menjadi temaram. Kebetulan ranjangku berada di samping jendela. Posisi jendela ada di kakiku, jadi aku tidur menghadap ke arah jendela dan lemari.

Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca jendelaku. Perlahan aku mendekati jendela berusaha mengintip apa yang ada di luar.

Jujur sebenarnya sangat merinding, jelas aku mulai takut kala itu karena sejak di rumah Sulis tadi pun sudah diperlihatkan sosoknya.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/niskala_sekala]

X post embed

Namun, aku memberanikan diri untuk sesegera mungkin melihat ke luar jendela, dan tidak ada siapa-siapa, tidak ada apa-apa.

Aku pun terlelap tidur. Keesokan harinya, ketika aku baru saja bangun, aku melihat ibu dan bapak berlari ke luar rumah, di luar rumah juga sudah ramai beberapa warga yang sedang kalang kabut.

"Bu, bu ada apa bu?," tanyaku berusaha mencegat ibu yang wajahnya memerah.

"Ayo nak, ayo ikut ke rumahnya bu Sri," pinta ibu tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Aku yang penasaran pun hanya mengikut saja.Di rumah Bu Sri sudah ada seorang Mbah tua, aku tau beliau adalah sesepuh desa namun lebih mirip seperti dukun.

Ilustrasi dukun, dok: pixabay

Ada sekitar 8 warga termasuk aku, bapak dan ibu yang berkumpul disana. Betapa terkejutnya aku, ketika ada seorang wanita muda yang sedang berbaring di ruang tengah, dan sedang dipakaikan kain kafan oleh bu Sri dan dua ibu-ibu yang lain.

Ku lihat bu Sri menangis sesenggukan. Aku benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi. Namun, alih-alih bertanya kepada orang tuaku, aku memilih diam dan melihat saja apa yang akan mereka lakukan.

Setelah wanita muda tadi selesai dikafani dia dibaringkan di tengah-tengah kami yang sudah duduk melingkar di ruang tengah. Aku tidak tau siapa wanita tersebut. Namun, sepertinya bukan warga desaku.

"Sudah ya bapak ibu, bisa dimulai ya? bu Sri silahkan siapkan apa yang sudah saya minta," ucap kakek tua.

Ilustrasi kain kafan, dok: pixabay

Bu Sri pun masuk ke dalam dapur dan kembali keluar dengan membawa tampah besar berisikan bunga-bungaan, daun bidara, air dalam gelas kecil, telur ayam kampung, jipang, pisang, kemenyan, dan beberapa benda lain.

Tampah tersebut diletakkan di atas kepala wanita yang dikafan menyerupai pocong. Kemudian, wanita tersebut mulai memejamkan mata. Aku dan warga lain hanya terdiam menyaksikan kakek tua yang mulai merapal kalimat.

Aku tidak tau pasti apa yang dia katakan karena tidak begitu jelas dan menggunakan kosa kata Jawa Kawi. Namun, ada yang membuyarkan fokusku. Aku melihat bayangan sosok Sulis terbaring di samping wanita yang dikafani. Sosoknya sama berbentuk pocong. Perutku terasa sangat mual melihat sosok tersebut.

Bersambung...