Konten dari Pengguna

Sumpah Pocong (Part 4)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pocong, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pocong, dok: pixabay

Bukan tanpa alasan, bu Sri pun karibku sejak bangku SMP, sampai akhirnya kami sama-sama menikah dan hidup bertetangga. Sulis adalah gadis yang manis, matanya kecil, hidung mancung dengan lesung pipit yang menawan.

Dulu aku sangat berharap bahwa kelak Sulis akan menikah dengan anakku, Kidung. Namun, sejak Kidung merantau ke Jakarta untuk kuliah, sepertinya hubungan mereka berdua menjadi renggang.

Kidung jarang pulang kampung. Sedangkan Sulis telah bekerja di sebuah koperasi Rumah Sakit daerah. Mereka sama-sama sibuk. Mungkin tidak pernah sempat saling melempar kabar.

Akhirnya pada akhir tahun 2004, aku dan bu Sri sempat berunding kecil-kecilan. Kami berencana untuk mengkomunikasikan niat baik kami kepada Sulis dan Kidung. Aku ingin setelah Kidung wisuda, segera melamar Sulis untuknya.

Namun, pada pertengahan Maret 2005, ada berita kurang baik geger di desa. Kabarnya Sulis tepergok berzina dengan seorang pemuda di gubuk tengah sawah, tak jauh dari rumahnya.

Namun meski begitu, Sulis masih mengelak bahwa dirinya tidak berbuat asusila. Dia mengakui bahwa memang sedang berpacaran dengan seorang pemuda di gubuk tengah sawah malam itu.

Namun, mereka hanya sebatas ngobrol santai dan menikmati semilir angin di sawah. Berita cepat menyebar dari mulut ke mulut, maklum orang desa.

Aku sempat bertanya kepada bu Sri, namun dia pun mengelak dan membela anaknya. Sejak beredarnya berita tersebut, Sulis seperti dikucilkan di pergaulan desa. Orang-orang membicarakannya. Sulis menjadi jarang terlihat keluar rumah. Dia keluar hanya ketika berangkat dan pulang kerja.

Bu Sri pun memilih menarik diri dari lingkungan sekitar. Yang masih biasa srawung (kumpul-kumpul) hanyalah pak Riswan suaminya.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/niskala_sekala]

X post embed

Pak Riswan selalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan anaknya. Sampai suatu ketika, saat pak Riswan ronda bersama ketiga warga lain, pak Riswan dibuat marah besar karena celetukan dari salah satu teman rondanya, pak Edi.

Pak Edi secara sadar mengatakan bahwa anaknya mirip seperti wanita jalang. Tidak punya sopan santun. Pak Edi juga memojokkan pak Riswan agar pak Riswan selalu menjaga anak gadisnya serta mengajarkan pentingnya harga diri.

Terjadi perdebatan panjang malam itu. Warga sekitar rumahku, ramai dibuatnya. Karena pak Riswan dan pak Edi sempat baku hantam.

"Jangan berani menjelek-jelekan anakku!, anakku tidak melakukan hal seperti itu. Anakku cuma kena fitnah dari mulut-mulut laknat kaya kalian-kalian semua!!," pak Riswan mengamuk pada malam itu. Padahal banyak warga yang menonton perdebatan mereka.

Setelah dipisahkan oleh warga, pak Riswan buru-buru pulang dan menanyakkan secara terang-terangan kepada anaknya.

"Sulis! bilang sama bapak, bahwa kamu tidak melakukan hal yang tersebar di warga sini!," bentak pak Riswan di kamar Sulis.

"Iya pak, Sulis nggak melakukan hal seperti itu. Sumpah Pak!," jawab Sulis.

Ilustrasi bertarung, dok: pixabay

"Yasudah!, besok kamu harus melakukan Sumpah Pocong supaya warga disini percaya dan berhenti merendahkan keluarga kita!. Kita sekarang seperti sudah tidak punya harga diri!," putus pak Riswan bulat.

Kabar tentang Sulis hendak melakukan Sumpah Pocong pun tersebar luas hampir ke seluruh pelosok desa. Banyak warga yang kontra dengan hal tersebut, karena tidak main-main, Sumpah Pocong bukan sumpah biasa.

Jika berkhianat dari sumpahnya sendiri, bisa kena batunya bertubi-tubi. Namun, keputusan pak Riswan tidak bisa diganggu gugat. Dia marah besar karena ucapan pak Edi yang begitu menyayat hati.

Hari yang ditentukan pun tiba. Tepatnya hari kamis sore. Warga berbondong-bondong berkumpul di Masjid An-Nur, masih dekat dengan lingkungan rumahku. Aku dan suamiku juga turut menyaksikan.

Sulis sudah terbaring di dalam masjid dengan berbalut kain kafan, didandani persis seperti pocong. Lalu disana ada Mbah Gandon (Mbah tua) sesepuh desa, yang sudah bersiap membimbing ritual Sumpah Pocong.

Ada pula Pak Ustadz yang ikut mendampingi. Bu Sri sebenarnya ragu dan tak tega bila anaknya sampai harus melakukan Sumpah Pocong, namun bagaimana lagi, pak Riswan yang tempramental tidak bisa dielak lagi kemauannya.

Sumpah Pocong dimulai dengan ceramah dari Mbah Gandon dan Pak Ustadz, yang menjelaskan maksud dari diadakannya Sumpah Pocong oleh Sulis, yaitu hendak meluruskan kabar yang beredar di masyarakat tentang dirinya.

Kemudian dilanjutkan dengan Pak Ustadz membacakan lantunan ayat suci Al-Quran dan meletakkan Al-Quran tersebut tepat di atas wajah Sulis yang terbaring. Pak Ustadz pun meminta Sulis untuk mulai berkata fakta yang sesungguhnya.

Dengan lantang Sulis mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah berzina dan berbuat asusila di gubug tengah sawah. Sulis mengaku salah karena sudah berpacaran disana yang mengundang kecurigaan warga. Namun, dia sama sekali tidak melakukan hal yang melewati batas.

Sulis bersumpah jika dia berdusta dengan ucapannya, dia akan mati dalam keadaan mengenaskan, dan arwahnya nanti akan gentayangan mengganggu keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Setelah selesai mengucap sumpahnya, warga mulai berbisik-bisik satu dengan lainnya. Mbah Gandon hanya terdiam tanpa sepatah katapun.

Pak Riswan dan bu Sri juga hanya tertunduk lesu, sadar bahwa mereka pun sebenarnya tidak yakin yang diucapkan anaknya adalah sebuah kejujuran.

Sumpah Pocong sudah dilakukan, namun hasilnya nihil. Warga desa tetap menghibah Sulis, terlebih ada desas-desus baru katanya Sulis hamil. Hal tersebut diketahui oleh tetangga samping rumah Sulis persis, yang tidak sengaja mendengar percakapan Sulis dan bu Sri.

Katanya, Sulis memohon maaf sebesar-besarnya kepada ibunya karena dia sebenarnya telah berzina dan saat itu telah mengandung. Tetangganya itu bisa mendengar karena rumah mereka sangat berdekatan.

Ilustrasi kehamilan, dok: pixabay

Kabar kembali merebak dan semakin memburuk. Sulis sampai berhenti bekerja, pak Riswan dan bu Sri pun tidak pernah lagi terlihat batang hidungnya. Rumahnya selalu sepi, padahal warga tau mereka ada di dalam.

Tiga bulan kemudian, tengah malam, aku sangat terkejut mendengar pintu rumahku di gedor-gedor. Aku dan suamiku bergegas ke depan, ternyata itu adalah bu Sri, keadaannya sudah menangis sejadi-jadinya dan memohon pertolongan.

Bersambung...