Teror Pocong Hitam (Part 2)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Atas saran beberapa warga, diundanglah kiyai di kampungnya untuk menyembuhkan Karyo.
"Belum ditumbalkan. Masih bisa selamat." ucap kyai itu.
"Lalu bagaimana pak caranya mengembalikan Karyo?" tanya pak Subhan.
Kyai itu keluar rumah. Dia menatap bulan di langit sembari memainkan tasbihnya.
"Rumahmu ke arah barat?" tanya kyai itu
"Be-betul kyai," jawab pak Subhan.
Para warga keluar dari rumah dan mengikuti arahan dari kyai itu.
"Dengarkan!, Pocong Ireng itu akan datang lagi, jangan ada yang keluar rumah!. Bawa masuk seluruh barang-barang kalian yang ada di luar rumah!. Sandal, pakaian atau apa pun, bawakan masuk ke dalam!. Lalu pasang potongan bambu kuning di depan rumah jika rumah menghadap ke arah barat," jelas kyai itu.
Para warga mengiyakan. Belum sampai disitu, Kyai itu mengisyaratkan untuk seluruh keluarga pak Subhan agar mendatangi rumahnya selama 7 hari. Lalu membacakan Al-Qur'an selama 7 hari berturut-turut agar Karyo bisa kembali seperti semula.
"Tidak boleh terputus!, pagi - siang, malam - pagi itu aturannya, jika terputus, maka Karyo bisa saja tidak selamat,"
Kyai itu menilai dengan tepat tindakannya agar menjadi bahan renungan bagi tiap warga, bahwa segala sesuatu bila tidak dilakukan dengan halal, maka jatuhnya adalah kehancuran.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/RestuPa71830152]
Atas saran Kyai desa W itu, para warga yang rumahnya menghadap arah barat mulai memasang bambu kuning di rumahnya masing-masing.
Untuk Karyo sendiri, dia tidak dalam keadaan meninggal juga tidak dalam keadaan hidup. Katanya, masih di awang-awang. Sesekali kakinya dipegang, dia akan bergerak dan meronta-ronta kesakitan. Namun jika tidak, dia seperti orang mati. Diam, kaku dan tak berdaya.
"Nak, sudah oh, cepet sembuh. Mamahmu tidak kuat melihat kamu tidak cepat sembuh," ucap pak Subhan.
Bu Cici kabarnya selalu menangisi Karyo, tubuhnya mulai kurus. Matanya sembap, namun di sela-sela itu, dia tetap bersikukuh untuk mengamalkan amanat yang telah diberikan oleh Kyai itu. Tiap hari, rumah pak Subhan di bacakan Al-Qur'an.
Pertanyaannya, apa jadinya bila gagal?. Menurut narasumber itu sendiri, si Karyo bisa saja meninggal dan dijadikan tumbal. Tapi pada dasarnya, tumbal itu bukan mengarahkan pada Karyo.
"Karyo hanya kaget ketika melihat pocong ireng itu tepat berada di belakangnya, seharusnya dia berlari mengikuti Rusman. Namun dia hanya terduduk diam dengan terus menatap wajahnya. Alhasil, karyo terkena sawan dengan badan yang membiru, bengkak,"
Setelah ditelusuri, ternyata Pocong Ireng itu mengganggu warga yang notabene mempunyai garis perjalanan karier yang cukup baik. Seperti ladang yang luas, sawah yang berhektar-hektar, kambing yang sangat banyak, rumah gedong, toko sembako yang ramai atau pengusaha lainnya.
Pak Subhan dan Kyai itu saling bertukar pikiran. Sudah 3 hari semenjak kejadian Karyo, warga tampak hati-hati dan waspada. Namun Pocong ireng itu belum ada tanda-tanda kehadirannya.
Apakah ini semua palsu?.
"Jika palsu, nanti kita lihat di ujung hari anakmu. Tepatnya malam ketujuh, dia akan datang menengok kembali rumahmu," ucap kyai tersebut.
Tanpa dirasa, warga yang menilai itu adalah mitos memutuskan untuk melepaskan bambu kuning dari depan rumahnya. Warga kehabisan akal. Inilah yang terjadi, ketika ideologi polos di suntikkan dengan nalar yang asal jepret. Warga yang asalnya percaya, menjadi memberontak. Bodo amatan bahkan tak perduli mitos kuno itu.
Pikirnya, mana ada pocong membunuh manusia?.
Tepat di malam ketujuh, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an masih menggema di rumah pak Subhan. Kyai itu agak santai dan duduk di depan rumah pak Subhan.
"Kamu tahu, kenapa pocong hitam itu datang kesini?," tanya pak Kyai itu.
"Mencari tumbal?," ucap pak Subhan
"Bisa jadi, tapi bukan itu tujuannya," jelas pak Kyai.
"Lalu, apa tujuannya?," tanya pak Subhan.
"Menghancurkan," ucap pak Kyai itu.
Malam ketujuh ini para warga keluar rumah seperti halnya malam-malam biasa. Tidak peduli marabahaya atau keadaan yang sedang dalam keadaan waspada. Semua tampak biasa-biasa saja.
Tepat tengah malam menuju pergantian hari, pocong itu menampakkan diri di antara rerimbunan pohon pisang. Pak Kyai itu langsung berdiri sambil memegangi tasbihnya. Orang rumah keluar untuk melihat lebih jelas pocong ireng itu.
"Walah, rumah itu tidak ada bambu kuningnya," ucap Kyai itu.
Pocong itu menghilang dengan sekejap. Kyai itu langsung memasuki pemukiman warga yang berada di dekat pohon pisang. Terdata 3 rumah yang sandal, baju dan barang-barangnya terjilat.
Ternyata pemilik rumah itu adalah orang-orang yang mempunyai sawah yang luas. Kyai itu segera menggedor rumah yang sudah terjilat pocong ireng.
Beliau juga menyembunyikan barang-barang yang sudah terjilat.
"Oh pak kyai, loh sendal ku di mana?," tanya pak Suri, orang kaya di desa W.
Pak Subhan yang melihat tingkah aneh Kyai itu langsung mendekatinya. Tampaknya ada sesuatu yang mengganjal.
"Di mana bambu kuning itu?,"
"Tak buang, tidak dipakai," ucap Pak Suri dengan santai.
Kyai itu langsung memukul wajahnya dengan tasbih.
"Sakit pak, kenapa, eh itu tu apa?,"
Sandal, baju, handuk yang telah terjilat pocong itu mengeluarkan asap. Bekas jilatan pocong Ireng itu terdapat cairan hitam yang kemungkinan bisa menjadi sumber untuk membunuh korbannya.
"Pak kyai, itu apa?," tanya pak Subhan.
"Cairan ini yang menyebabkan kematian korbannya, jika orang yang tidak tahu cairan yang tertempel lalu memakainya, maka dia akan menjadi korban tumbal pocong ireng itu," jelas Kyai itu.
Kyai itu mengelilingi pemukiman warga. Lebih tepatnya, dia akan cek seluruh rumah warga yang tidak terpasang bambu kuning yang fungsinya untuk menangkal dan mencegah pocong Ireng itu menjilati barang-barang yang berada di luar rumah.
Bersambung...
