Teror Pocong Hitam (Part 3)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat dua puluh rumah warga yang sandalnya dibuang langsung oleh kyai itu. Katanya, sandal itu telah terjilat langsung oleh pocong ireng itu karena tidak memasang bambu kuning.
"Selama satu bulan, jika tidak mendapat korban, si pelaku akan menampakkan diri," ucap Kyai itu.
Keesokan harinya, atas keberhasilan dan keteguhan hati dari keluarga pak Subhan. Karyo sehat seperti biasanya, kata dia
"Aku ditahan di suatu tempat, lalu dicambuk dan disuruh menjawab siapa pemilik rumah yang kaya raya. Aku hanya menjawab tiga saja. Salah satunya pak Suri,"
Semua tampak normal, namun masih dalam ranah waspada. Rumah pak Subhan menjadi ramai semenjak Kyai itu sering berkunjung kerumahnya.
"Sudah hampir satu bulan. Dia belum muncul juga, Han, mau kah kamu saya beri tugas?" tanya Kyai itu.
"Si-siap, Kyai," jawabnya.
"Datangilah rumah A, blok A, ciri-cirinya rumah bertingkat. Kamu hanya lewat saja. Tidak usah menatap jendela sebelah kanan. Disitu kamarnya," pak Subhan langsung menuju desa M yang bersebelahan dengan desa W.
Dalam kunjungannya, dia teringat bahwa rumah itu hanya satu-satunya yang bertingkat. Tidak ada rumah lagi yang lebih mewah darinya. Pak Subhan ingat perkataan Kyai itu
"Hanya lewat, jangan menatap jendela sebelah kanan. Karena itu kamarnya,"
Desa itu sepi, sedikit sekali aktivitas warganya. Warga disana rata-rata pergi keluar daerah untuk bekerja disana. Sedikit sekali yang memiliki sawah. Tak heran desa M ini tergolong miskin dan pastinya warga disekitaran desa M akan melakukan apa saja agar bisa hidup, salah satunya adalah "PESUGIHAN"
Ketika mencari-cari rumah yang dituju, pak Subhan melewati sebuah rumah mewah, namun di dalamnya terdengar keributan luar biasa.
Pak Subhan tidak mau menguping, dia terus berjalan dan pura-pura tak tahu. Dia hanya mendengar segelitir ucapan dari seorang laki-laki itu.
"Kyai bangsat!," ucap laki-laki yang berada di rumah tingkat itu.
Pak Subhan segera berlari karena informasi ini sangat penting dan harus di sampaikan. Keringat dingin kala itu mengucur sangat deras, katanya. Antara hidup dan mati mendengar ucapan laki-laki itu. Jika dia ketahuan karena mendengarkan sedikit dari ucapannya, bisa-bisa pak Subhan akan diteror kembali.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/restupa71830152]
Karena desanya bersebelahan, 10 menit berlari pun sudah sampai.
"Sudah ketemu?" tanya Kyai itu.
"Sudah, Kyai," jawabnya
"Istirahat lah, besok rumah itu akan terbakar, tapi sebelum itu, dia akan datang kesini untuk menyerang lagi," ucap Kyai itu.
"Mau apa lagi Kyai?," tanya pak Subhan.
"Menghancurkan," ucap Kyai itu.
Selepas itu, kyai itu mewajibkan untuk memasang bambu kuning di setiap rumah. Bukan hanya kepada rumah yang arahnya menghadap Barat, tapi seluruh rumah. Katanya, pocong ireng itu akan meneror dan melakukan apa saja agar bisa mendapatkan korban.
Semua pintu ditutup, seluruh barang seperti sandal, baju, handuk, sepeda, motor atau apapun di masukkan ke dalam rumah. Uniknya rumah zaman dulu, tampak depan sempit, ketika masuk ke dalam luas.
Beberapa warga lainnya memilih untuk menemani pak Subhan dan pak Kyai yang sedari tadi menunggu kedatangan pocong ireng itu. Seluruh rumah telah mematikan damarnya, hanya satu damar yang menyala. Rumah pak Subhan seorang.
Bambu kuning berjejer rapih di depan rumah. Tangisan bayi di malam hari memecah kesunyian malam. Sepertinya pocong ireng itu benar-benar datang.
Kambing milik pak Doyo memekikkan suara sahutan tanda bahaya. Hewan-hewan disekitaran desa W seperti memberikan sinyal akan kedatangan pocong ireng itu.
"Dia akan datang membawa dendam padaku, aku telah menggagalkan pesugihannya," ucap pak Kyai.
Pak Subhan menengok orang rumah, ternyata sudah pada tidur. Karyo tidur bersebelahan dengan isterinya, Bu Cici di kamar depan. Saudara-saudara yang ikut serta dalam membacakan Al-Qur'an untuk Karyo sudah pulang sebelum teror pocong ireng ini muncul lagi. Semuanya aman, tinggal melihat langkah apa yang akan diambil oleh pocong ireng itu.
Tepat ketika bulan purnama berada di atas kepala, sinarnya menerangi rumah warga, pepohonan. Pocong ireng itu, muncul di pohon pisang dekat rumah pak Suri, pemilik sawah yang amat luas.
Kyai itu segera membacakan sesuatu di tasbih miliknya.
"Apakah semua rumah terpasang bambu kuning? Jika belum segera dipasangkan," saran Kyai itu
"Sudah, Kyai," jawab Warga.
Pocong ireng itu menghilang. Tampaknya dia menuju pemukiman warga. Namun sayang, usahanya sia-sia.
Seluruh rumah telah terpasang bambu kuning. Tidak ada satupun celah untuk masuk dan menjilati atau meludahkan air liurnya kepada barang atau apapun.
Bersambung...
