Konten dari Pengguna

Teror Pocong Hitam (Part 4)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pocong, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pocong, dok: pixabay

"Pak kyai, sudah selesai?," tanya pak Subhan.

"Tunggu sampai pagi,"

Semua berjalan dengan lancar hingga adzan subuh menggema. Suara kentongan yang terbuat dari bambu telah di pukulkan oleh beberapa warga. Pocong Ireng itu gagal mengambil korbannya.

Pagi harinya, banyak warga M yang keluar rumah untuk memadamkan api di rumah tingkat yang pernah dikatakan oleh Kyai itu.

Rumah itu adalah pemilik pocong ireng sebagai pesugihan. Sempat beredar, juga. Pemilik pocong ireng yang berinisial S ini menolak untuk menukarkan keluarganya demi tumbal yang harus diserahkan selama satu bulan terakhir.

Sebagai gantinya, rumah itu terbakar karena menolak perjanjian yang harus disepakati. Rumah dan segalanya yang ada di dalamnya merupakan hasil pesugihan. Tak ada yang tahu bagaimana nasib pemilik pocong ireng itu yang berinisial S, namun kabarnya pernah bermunculan kembali di awal tahun 2002. Namun dengan sudut pandang yang berbeda.

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan perbuatan di luar norma kehidupan, alam dan agama, maka kehancuran yang akan didapatkannya.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/restupa71830152]

X post embed

Cerita Pocong Ireng juga ada versi Banjarnegara.

Banjarnegara, 1992, Desa K.

Jika ingin melihat keindahan desa ini, lihatlah sungainya. Cahaya matahari yang terpantulkan ke sungai itu, akan menciptakan goresan pelangi di sisi sungai.

Mungkin beberapa warga Banjarnegara tidak asing dengan kata "Sungai Serayu.". Sungai nan indah dan menyegarkan mata ini sebagai pokok utama mata pencaharian desanya.

Udang dan ikan yang melimpah menjadikan warganya tiap kali berburu mencarinya untuk dijadikan lauk pauk atau sekedar dijual kembali ke pasar.

Pesonanya yang indah menjadikan sungai ini seringkali menjadi pusat pariwisata dengan arum jeramnya yang menantang nyali. Namun, pernahkan berfikir, dahulu sekali, sungai ini sempat diisukan dengan awal kemunculan dari pocong ireng?.

Ilustrasi sungai, dok: pixabay

"Ayamku hilang terus! Siapa yang ambil?," ucap pak Agi sambil melihat posisi kandangnya yang telah terbuka semenjak pagi tadi.

Bulu-bulu ayam berserakan di sekitaran kandang, walau hanya satu saja yang tergondol maling, namun sudah dua pekan terakhir, ayam di desa K kerap kali kemalingan.

Warga mengira, ayam yang menghilang dimangsa musang yang lapar, atau ular yang berseliweran di sekitaran pepohonan kelapa. Namun, tidak ada tanda-tanda tercabiknya ayam itu, baik darah yang berceceran atau suara ayam di pagi hari sekitar jam 03.00 pagi WIB.

"Hilang lagi? Maling itu!," tambah pak Koko.

"Ayammu habis berapa?," tanya pak Agi.

"Sudah habis," kesal pak Koko.

"Haha, saya sisa kotorannya, mau?," canda pak Agi.

Ilustrasi kandang ayam, dok: pixabay

Mitos hilangnya Ayam ini di duga-duga bersamaan dengan kemunculan makhluk yang tak kasat mata berbadan besar, dengan taring dan cakar yang pernah muncul di sungai Serayu.

"Dimakan sama gede duwur kayaknya," ucap pak Koko.

"Tidak mungkin, itu ayam tidak bunyi!," sanggah pak Agi.

Namun, pak Agi dan pak Koko tidak ada keinginan melapor ke balai desa. Kesannya sangat lebay jika dibesar-besarkan.

Zaman dulu sangat menjaga citra apabila ada kehilangan, tidak mempersulit. Walaupun dampaknya terkena dirinya sendiri, tapi benar-benar mandiri dan tidak sepenuhnya masalah dilimpahkan kepada balai desa.

Dua pekan berlalu, isu kehilangan ayam sudah dirasakan oleh pak Kepala desa sendiri.

"Ayamku kok habis?," ucapnya.

Semua warga mengira, ayam yang diambil adalah ayam yang layak dijual ke pasar. Akhirnya, atas kesepakatan bersama, pak Kades menghimbau kepada seluruh warganya agar diterapkannya sistem pejagaan di tiap malam hingga pagi hari sampai subuh berkumandang.

Alasan diterapkannya penjagaan itu, agar misteri tentang hilangnya ayam di desa K bisa diketahui dengan gamblang dan jelas. Hal ini berlaku kepada seluruh desa di sekitarnya juga. Karena isu ini sudah tersebar luas.

Lalu, mengapa waktu subuh menjadi patokan?, jawabannya sederhana, jika yang mengambil ayam adalah sosok Gede Duwur yang pernah di mitoskan itu, maka tidak akan lama lagi pergerakannya dan mudah dibuatkan pagar gaib agar tidak pernah masuk lagi.

Bersambung...