Teror Pocong Hitam (Part 5)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tapi, jika yang mengambil maling, pagar gaib pun percuma dibentuk. Maka dari itu, Pak Kades menerapkan penjagaan selama malam hingga subuh. Targetnya adalah menangkap peneror kehilangan ayam yang telah meresahkan warga desa K itu sendiri.
Hari pertama penjagaan, warga mendapati orang asing yang memasuki desa K dengan pakaian serba hitam. Orang itu membawa karung dan senter.
Warga mengira orang itu adalah pencari sarang semut, atau kelelawar di sekitaran pepohonan. Namun, begitu di telusuri, orang yang dicurigai itu menuju kandang ayam salah satu milik warga yang kebetulan ayamnya masih utuh selama dua pekan terakhir.
Warga yang mengetahui itu segera meneriakinya.
"Garoooong! maliiing, asyuuuu! koe kang gondol ayam-ayamku yo!," Warga yang berteriak dahulu sebelum bertindak memberikan kesempatan maling untuk berlari sebelum tertangkap basah.
Hari pertama dirasakan sangat sia-sia. Ungkapan memperbanyak kerja dibanding ucapan terbukti ampuh dalam menyelesaikan masalah ini.
Kegagalan itu menjadi kekalahan pertama desa K. Mereka menyesal dan mengadukan ini kepada Pak Kades.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/restupa71830152]
Pak Kades yang mengetahui ada pergerakan maling akhirnya mencari tahu lebih dalam mengenai terakhir kali maling itu menghilang, warga menjawab secara serentak.
"Sungai Serayu," ucap mereka.
"Penjagaan tetap dijalankan, jangan sampai ada kesalahan. Usahakan bergerilya agar tidak mencirikan penjagaan ini masih berjalan," ucap pak Kades.
Strategi ini dinilai sangat ampuh dengan kondisi sekitar yang rata-rata pepohonan kelapa yang tumbuh tinggi. Dengan memaksimalkan situasi, seharusnya maling bisa tertangkap jika cara ini direalisasikan di hari pertama penjagaan.
Namun maling itu tidak berkunjung lagi. Pak Kades meminta untuk bersabar dan terus melakukan penjagaan. Siapa tahu malingnya muncul di saat penjaga dalam keadaan lowong (kosong).
Hingga hari ketiga, hasilnya tetap nihil. Tepat di hari keempat, maling yang telah lama tidak menyentuh tanah basah yang tersentuh tetesan hujan malam tadi muncul dengan pakaian dan perlengkapan yang sama.
Warga telah mengetahui maling itu bakal datang di hari itu karena musim penghujan mulai datang. Sepertinya ini adalah kesempatan emas bagi mereka agar menangkap maling ayam yang sempat meresahkan warga ini.
Maling itu tampak sempurna. Seperti telah ahli. Langkahnya mengedap, pelan tapi santai. Sesekali tatapannya menengok kanan kiri, depan belakang. Semuanya terasa aman, padahal warga sedang bergerilya di dekat pohon kelapa.
Ketika maling itu hendak mengarungi ayam yang berada di kandang, ayam itu memekikkan suaranya. Maling itu syok dan memplester mulut ayam itu dengan cepat. Lalu dimasukkannya ke dalam karung yang telah lebih dulu disiapkan.
Warga yang telah geram melihat tingkah maling itu masih bergerilya di balik pohon kelapa. Mereka menunggu aba-aba untuk mencegatnya.
Serasa sudah selesai, maling itu menengok kanan-kiri, depan belakang sekitaran, hatinya mulai tidak tenang. Ketika hendak memutar balik ke arah yang berlawanan, para warga keluar dari tempat persembunyiannya. Terjepitlah maling itu tepat di tengah-tengah keramaian warga. Total 15 orang yang mengerumuni maling itu.
"Sudah tidak usah banyak omong, bunuh!," ucap warga yang sudah lebih dulu kesal.
Para warga menghakimi maling itu tanpa lebih dulu diinterogasi oleh pak Kades. Mereka menghantam, memukul, menendang maling itu tanpa belas kasihan. Teriakan minta tolong, tangisan, jeritan, rasa sakit semuanya menjadi hening di tengah malam yang semula damai kini menjadi malam akhir bagi perjalanannya.
Darah berceceran dimana-mana, matanya menghitam dan lebam. Tangannya masih meraba-raba karung yang telah di isi oleh ayam itu sendiri. Dari arah belakang, salah satu warga menghantam kepala maling itu dengan batu cadas (seperti batu untuk pondasi rumah), kepala itu remuk, darahnya mengalir deras dan merambah ke tanah yang basah, bau amis darah menggantikan bau embun di pagi hari.
Bersambung...
