Konten dari Pengguna

Teror Pocong Hitam (Part 9)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pocong, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pocong, dok: pixabay

Kekecewaannya tetap tak bisa diungkapkan karena takut akan menjadi beban pikiran isterinya, Lili. Bram mengantarkan ibu mertuanya, Mak Sri, untuk pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari tempatnya.

Lili hanya bersikeras melakukan hidupnya dengan normal tanpa ada gangguan. Bukan itu yang dimaksud Mak Sri, sempat sempatnya dia melakukan ide bodoh bukan berarti tidak bermakna, karena orang tua lebih mengetahui manis-pahit dan pengalaman serta cerita dari leluhurnya dulu.

Tepat setelah adzan Isya berkumandang, Bram belum juga datang. Hati Lili menjadi resah, mungkin saja dia bermain di luaran dengan teman-temannya.

Keadaan yang hamil ini telah menjadikan Lili stress berat. Mana lagi dia masih kepikiran dengan perkataan tetangga yang menyebut ibunya sendiri gila, juga teror pocong ireng yang selalu mengganggu ibu hamil.

Ilustrasi ibu hamil,dok: pixabay

Lili hanya menunggu di ruang tamu dalam rumahnya. Sesekali dia mengelus-elus perut nya yang sedikit membuncit. Pukul 10 malam, tidak ada tanda-tanda kedatangan suaminya.

Bram sudah kelewatan batas dan tidak menjalankan amanat dari mertuanya untuk menjaga Lili. Lili tertidur di ruang tamu.

Tepat di pukul 1 pagi, dia terbangun karena ada ketukan pintu.

"Cih, tidak usah pulang! Tidur diluar," namun ketukan pintu itu masih terdengar!

"Dengar, tidak! tidak usah pulang! tidur diluar!," kesal Lili.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/restupa71830152]

X post embed

Dug, dug, dug, dug, dug. Suara itu tidak hilang masih berbunyi di kesunyian malam. Lili merasa aneh, suaminya tidak pernah seegois itu, dia memberanikan diri melangkah untuk membuka pintu.

"Kreeet" Lili membuka pintu dengan pelan, kiranya dia akan mendapati suaminya dan langsung memeluknya untuk meminta maaf, namun yang tertampakkan adalah.

Sosok pocong ireng dengan pandangan yang mengerikan menatap eajahnya, bau busuknya tercium seketika. Wajahnya tak bisa dikatakan lagi hancur dan berantakannya.

Lili syok, dia memegangi perutnya dan segera melangkah mundur. Tangannya meraba-raba daun pintu untuk segera ditutup. Namun apa daya, kepalanya langsung pening.

Pocong, dok: pixabay

Lili terjatuh tepat di depan pintu. Subuh harinya, Bram terkejut melihat isterinya tertidur di depan pintu deoan rumahnya. Darahnya berceceran dari kakinya, kemungkinan besar ada kontraksi di perutnya.

Lili segera dibawakan ke dukun bayi, barangkali cara ini lebih efektif. Isu diterornya Lili oleh Pocong Ireng menyebar luas, para warga membenarkan teror itu ada.

Kata dukun bayi itu pada Bram

"Isterimu kebanyakan pikiran, bayimu masih bisa diselamatkan, tapi si pengganggu itu bakal mengejar-ngejar," capnya

Lili masih syok, dia takut kehamilannya akan gagal mana kala sosok itu masih menerornya. Dia masih teringat dengan perkataan ibunya, sosok itu benar-benar ada, tapi untuk apa menyerang orang hamil?.

Seketika Lili dan Bram kembali ke rumahnya, dia mendapati Ibunya sedang menyipratkan air yang kemarin tidak sempat dituntaskan.

"Mak, ... " ucap Lili.

Ibunya tersenyum, lalu kembali melanjutkan tugasnya.

"Mak, masuk ke dalam, Lili mau bicara," ucap Bram.

Mak Sri masuk ke kamar Lili, dia mendapati Lili lemas tak berdaya

"Bram, kesini!," teriak Mak Sri

"Iya, mak," ucap Bram

"Apa amanatku ke kamu?," tanya Mak Sri

"Jaga isteriku,"

"Bagaimana, sudah dijaga belum?," tanya Mak Sri

"Tapi, Mak ... " sela Bram.

"Bram, pocong hitam itu nyata! Jangan dimainkan, jangan hiraukan mulut tetangga," kesal Mak Sri

Bram seakan mendapatkan sebuah peringatan besar untuk mengevaluasi dirinya sebagai suami. Lili yang masih terbujur kaku hanya bisa mengelus perutnya. Dia trauma berat.

Mak Sri mendekati tubuh Lily yang sedari tadi lemas. Wajahnya sangat pucat.

"Mak, minta maaf," ucap Lily dengan suara lirih.

"Nak, jangan merasa salah. Perbaiki titah yang sudah -

diucapkan,"

"Mak, pocong itu jadi-jadian?" tanya Lily.

"Pocong kui pesugihan saking gunung ******, korban akan digadaikan dengan kekayaan, namun syaratnya sangat ekstrim dan berbahaya," ucap Mak Sri

"Apa itu, mak?," tanya Lily

"Sing mulakne ra sah ngerti awit jejeran mayat, pocong kui bakal dadi urunan kang di trahke ing anak putu!" jelas Mak Sri

"Hah? Ungkapan apa itu?" tanya Lily.

"Intinya, jika telah mengawali, semua yang tercium seperti mayat akan didatangkan, lalu, jika gagal, maka akan berimbas pada anak cucunya," ucap Mak Sri.

"Berarti, rumah ini?" tanya Lily.

"Sudah bau mayat," percakapan terhenti. Mak Sri kembali ke depan rumah.

Mak Sri kembali menyipratkan air itu di depan rumah Lily. Para tetangga hanya bisa melihat tanpa ingin mengganggunya.

Bersambung...