Konten dari Pengguna

Tumbal Anggara Kasih: Jawaban dari Semuanya (Tamat)

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pengorbanan, dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengorbanan, dok: pixabay

Aku pun mengingat semuanya dan mencocokkan lagi satu per satu. Bahkan email pun selalu dikirim tiap malam Selasa Kliwon pukul 02.45 pagi.

Pantas saja aku mimisan, ternyata aku lupa dan bahkan tidak memahami, bahwa kemarin yang kami lakukan hanya menambah kekuatan mereka.

Eyang juga menulis di dalam buku jurnalnya, bahwa untuk menangkalnya dibutuhkan orang dengan weton Selasa Kliwon dengan ciri-ciri fisik tertentu.

Carinya di mana ini, badanku gemetar, aku menangis sesenggukan, bagaimana aku harus menjelaskan jika adik dan sahabatku menjadi tumbal. Ketika isakanku semakin dalam, aku seperti melihat eyang memelukku.

Jujur, ini ketenangan yang aku cari, walau aku belum pernah bertemu eyang kakung secara fisik tapi entah kenapa, beliau selalu ada di saat aku kebingungan, walau hanya untuk menenangkanku.

Aku seperti memiliki tenaga baru, kekuatan untuk melawan dan jawaban dari apa yang aku cari. Aku harus merubah tujuanku, tidak lagi membalas perbuatan mereka tapi menyembuhkan adik dan sahabatku.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/greymocil]

Ya, aku harus melakukan secepatnya, karena jika tidak, akan ada darah yang tumbang sebelum maghrib. Aku juga harus memikirkan anak buahku yang terbaring di rumah sakit, yang menanggung hal yang tidak mereka ketahui sebenarnya.

Alma dan Nath harus disembuhkan, agar semua kembali baik-baik saja. Aku bergegas mandi dan kemudian menggelar sajadahku, mencari tambahan ketenangan dengan mengemis kepada Tuhanku atas kesalahan dan meminta maaf atas keteledoranku.

Membaca kembali amalan dan melafadzkan namanya seperti yang diajarkan ketika aku masih berada di salah satu pondok pesantren tertua di Jawa Timur.

Melakukan kembali apa yang pernah diajarkan padaku. Walau bagaimanapun rencana kita, rencana Tuhan pasti lebih baik lagi. Sebesar apapun kemampuan kita, Tuhanlah yang mempunyai kuasa lebih atas diri kita.

Tidak ada salahnya kita kembalikan semua kepada Tuhan, menghamba, mengemis, dan mengiba atas apa yang kita alami. Jawaban apapun yang akan diberikan Tuhan padaku, itu yg akan aku lakukan.

Ilustrasi berdoa, dok: pixabay

Kemudian, aku melipat mukena dan sajadahku. Aku menghubungi Ajengan melalui gawaiku dan Ajengan kemudian memberikanku beberapa hafalan dan harus kubisikkan tepat ditelinga Alma dan Nath.

Ajengan juga berpesan bahwa aku harus kuat, karena jika aku kuat, semua akan baik kembali. Aku mengambil gulungan kain yang Alma muntahkan.

Aku mencucinya dan membaca tiap huruf yang ada di dalam gulungan itu dan mencocokkannya dengan yang ada pada buku catatan eyang. Siapa tahu ada kecocokkan dari kalimat yang ada di gulungan dengan yang ada di buku catatan eyang.

Akhirnya aku menemukannya, terima kasih Tuhan, thankyou Ancestor, Matur nuwun eyang.

Aku harus mulai menghitung lagi mulai sekarang, kali ini harus tepat, jangan sampai ada lagi kesalahan, karena kesalahan kecil bisa membuat kesalahan besar.

Akhirnya aku keluar dari kamar, aku melihat Alma dan Nath tertidur. Kemudian aku duduk "Paman, aku kira setelah semuanya, Paman bisa benar-benar berubah, tapi ternyata setelah tadi malam, aku rasa Paman masih ada dendam, andai Paman bisa menurunkan sedikit ego Paman mungkin hal ini dapat kita selesaikan dengan baik, tapi mau bagaimana lagi, ego Paman menang tadi malam, apa yang Paman mau kali ini?," tanyaku.

Paman Aryasatya pun tersenyum "Paman kira, kamu tidak menyadarinya," ucapnya.

"Jangan remehkan aku Paman," ucapku penuh penekanan.

Paman Aryastya tersenyum, kemudian ia meninggalkan ruangan, disusul dengan Bimo, mereka berdua meninggalkan kami semua. Tapi sebelum meninggalkannya, Paman Aryasatya membisikkan sesuatu padaku, dan kujawab dengan anggukan kepala.

Aku memutuskan untuk pergi sendiri membeli keperluan hari ini. Bukannya aku tidak percaya orang lain, tapi ini harus aku lakukan. Selesai berbelanja aku kembali ke apartement, untuk mempersiapkan semuanya.

Mulai menata, menyiapkan, bahkan membakar hio. Setelah selesai semuanya, dan aku selesai menancapkan hio. Aku mendengar keributan. Yaa, the show must go on.

Jika sesuai perhitunganku, magrib nanti semua sudah selesai dengan aman, damai sentosa. Tidak kurang suatu apapun, aku melihat Alma dan Nath beradu, mereka sudah seperti dua orang pendekar dengan senjatanya masing-masing.

Aku tahu bahwa yang Nath incar adalah apa yang ada di dalam tubuh Alma, sedangkan Alma, menginginkan Nath sebagai santapannya. Aku menanti hingga mereka lengah, karena jika aku meleset, aku yang akan menjadi sasaran mereka berdua.

Ilustrasi pertarungan, dok: pixabay

Aku tahu ini resiko yang akan aku dapat tapi sebagai seorang pemburu, aku harus tahu kapan buruanku lengah agar aku dapat melumpuhkannya.

Aku melihat Alma sudah tidak seperti dirinya lagi, matanya speenuhnya memutih dan lidahnya menjulur, dia sudah mengambil posisi untuk menyerang Nath, untungnya aku sudah mempersiapkan kapur sirih berisi kambing bakar yang akan aku gunakan untuk membuat mereka tenang.

Alma dan Nath sudah dalam kondisi trance sepenuhnya. Keduanya siap berperang, menghabisi satu sama lain. Dan aku harus bisa secepatnya memasukkan kapur sirih ini ke mulut mereka, karena menurut buku catatan eyang, hanya ini satu-satunya cara memusnahkan suruhan itu.

"In the name of ancestor," ucapku dalam hati, akupun berhasil memasukkan kapur sirih dan daging kambing bakar ke dalam mulut Alma dan Nath.

Entah apa rasanya aku tak peduli, yang jelas, sekarang giliran Mas Wisnu dan Bang Nizar harus menutup mulut Alma dan Nath agar dapat tertelan.

Setelah mereka menelannya, Nath jatuh pingsan sedangkan Alma, dia mengalami kejang, karena mahluk yang selama 2 minggu digendong dan dibawa kemana-mana olehnya, tidak terima jika dia diusir, karena ia merasa cocok dengan tubuh Alma.

Akhirnya, aku membacakan rapalan warisan eyang yang aku ingat, aku tahu, jika ini aku bacakan, resikonya adalah Alma tidak akan ingat apa saja yang terjadi padanya, baik hal penting maupun yang tidak penting, selain itu juga, akan berakibat terbukanya indranya yang lain.

Tapi ini satu-satunya cara yang paling aman bagi semuanya karena jika cara lain yang aku lakukan, maka aku harus ikhlas menumbalkan sesuatu sebagai gantinya.

Bukannya aku egois, karena cepat atau lambat indra lain Alma memang harus terbuka. Aku membisikkan kalimat yang berisi kalimat tentang kawilujengan, yang isinya tentang keselamatan jiwa dan raganya.

Selesai aku membaca kalimat itu, Alma memuntahakan gumpalan-gumpalan darah dan boneka yang bertuliskan nama seseorang

Aku tidak sempat membacanya karena semua harus dilarung untuk kembali secepatnya, bahkan aku memotong rambut Alma dan Nath agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari.

Kali ini aku tidak mau mengambil resiko, karena banyak nyawa yang dipertaruhkan jika sampai ada kesalahan. Setelah membereskan semuanya dan membersihkan bekas pembersihan, Mas Wisnu dan Bang Nizar yang melarung semuanya. 2 jam kemudian, mereka kembali dari melarung, Yanus dan anak buahku yang dirawat di rumah sakit memberikan kabar melalui gawaiku bahwa luka mereka sudah kering.

Sejurus kemudian Alma dan Nath tersadar, aku meminta mereka untuk mandi karena jujur saja bau badan mereka sudah tidak jelas lagi. Aku tahu ada banyak pertanyaan dalam benak Alma, dan itu nampak jelas dari raut wajahnya, tapi biarlah, aku jawab nanti setelah ia selesai mandi.

Selesai Alma mandi, kami semua duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, dengan kopi dan rokok ditangan kami masing-masing. Alma tidak bertanya apapun, ia hanya bilang "Kak, badan aku kok cape bangwt ya, kaya habis ngangkat beban," ucapnya.

Aku hanya menjawab dengan senyuman karena sejujurnya aku pun lelah dengan semua ini. Hingga kemudian, Nath berkata "Ini sebenernya kiriman buat siapa deh, kenapa sekali nebar ke semua orang kena,"

"Entahlah, yang penting semua selesai dengan baik dan kita semua baik-baik aja," jawabku.

"Tumben, sunsetnya keliatan, liat deh kak, seumur-umur kita stay di sini, baru ini keliatan sunset cakep banget," seloroh Alma.

Kami semua pun tertawa bersama, melepas segala beban yang ada, karena akhirnya beban itu hilang dari kehidupan kami

-TAMAT-