Pencarian populer

Diplomasi Perbatasan: Belajar dari Tong Gas dan Ais Kepal Milo

(Foto: Ilustrasi Diplomasi - www.picpedia.org)

Diplomasi perbatasan senantiasa digunakan untuk merujuk pada segala macam upaya diplomasi yang dilakukan oleh negara dengan tujuan untuk mengelola kepentingannya di perbatasan. Peran negara sebagai aktor utama dalam diplomasi perbatasan tidaklah musykil, mengingat perbatasan tidak jarang dapat menjadi akar konflik antar-negara.

A good fence makes a good neighbor, itulah adagium yang digunakan dalam banyak kata sambutan pada setiap pembukaan perundingan perbatasan dengan negara-negara tetangga. Adagium tersebut serasi dendangnya dengan butir ketiga Nawacita Presiden Indonesia, “membangun Indonesia dari pinggiran”.

(Foto: Ilustrasi Border Control - www.pixabay.com)

Membahas perbatasan tentu saja bukan melulu membincangkan peran negara dalam konteks diplomasinya dengan negara tetangga. Dalam perbatasan, terkandung persoalan mendasar: kehidupan manusia yang lalu-lalang melintasinya, dan tentu saja, barang dan sumber daya yang menyokong kehidupan manusia tersebut.

Wilayah perbatasan kemudian menjelma bukan hanya sebagai hubungan antar-negara, tetapi juga dalam interaksi masyarakat yang tinggal di perbatasan. People-to-people diplomacy tampaknya menemukan jati diri yang sesungguhnya di perbatasan.

Masyarakat Sebatik sebagai Pelaku People-to-People Diplomacy

People-to-people diplomacy nampaknya sangat dekat dengan masyarakat di perbatasan yang terjadi karena intensitasnya melintasi pos lintas batas. Lantas, seberapa dekatkah sejatinya masyarakat perbatasan dengan people-to-people diplomacy?

Melihat dari dekat aktifitas perbatasan menjadi sebuah kenyataan yang perlu dilakukan untuk menilik seberapa lekatnya people-to-people diplomacy dengan masyarakat perbatasan. Masyarakat Sebatik dapat menjadi salah satu contohnya.

(Foto: Pribadi/Istimewa - Sebuah Penanda Nama di Pulau Sebatik)

Sebatik, sebuah pulau di timur laut provinsi Kalimantan Utara, terlahir berdasarkan penarikan garis batas 4° 10’ Lintang Utara sesuai kesepakatan yang dihasilkan antara dua Pemerintahan Kolonial, Inggris dan Belanda pada tanggal 11 Mei 1892, lebih dari satu abad yang lalu.

Garis batas tersebut yang kemudian di warisi oleh Indonesia dan Belanda berdasarkan norma hukum internasional, uti possidetis juris.

(Foto: Pribadi/Istimewa - Pos Laut Sei Pancang Titik Penanda Garis Batas 4° 10’ Lintang Utara di Sebatik)

Aktifitas Masyarakat Sebatik

Lalu, bagaimana dengan aktifitas masyarakat Sebatik, dan kaitannya dengan people-to-people diplomacy? Dalam hal ini, setidaknya, terdapat dua kegiatan yang sangat lekat dengan people-to-people diplomacy pada masyarakat Sebatik.

Pertama, masyarakat melintasi perbatasan karena adanya keperluan untuk transaksi jual-beli barang guna memenuhi yang diperlukannya. Sejumlah pos lintas batas darat dan laut yang terdapat di sepanjang garis batas Indonesia dan Malaysia, termasuk pula di Sebatik menunjukan adanya aktifitas people-to-people diplomacy dimaksud. Dan umumnya, barang yang diperjualbelikan dan melintasi garis batas di Sebatik hanyalah berupa barang kebutuhan primer sehari-hari.

(Foto: Pribadi/Istimewa - Gambaran Loket Tiket Kapal Penyeberangan dari Tawau, Malaysia menuju Nunukan, Indonesia)

Namun, terlepas dari kebutuhan primer tersebut, menarik untuk diperhatikan bahwa jual beli dimaksud banyak dilakukan guna memenuhi kebutuhan energi. Kebutuhan energi di sini adalah energi gas.

Sulitnya tabung gas elpiji tanki bercat biru untuk ditemukan di Sebatik menjadikan tabung gas produksi Petronas, dengan tajuk “Tong Gas” menjadi pilihan utama masyarakat setempat.

(Foto: Pribadi/Istimewa - Lusinan Tong Gas Petronas Masuk ke Indonesia melalui Sebatik)

(Foto: Pribadi/Istimewa - Proses Pemindahan "Tong Gas" dari Sampan setelah Lintasi Perbatasan)

Kedua, masyarakat melintasi perbatasan karena adanya kebutuhan untuk bekerja, dan sekolah. Sebagaimana diketahui, banyak pekerja-pekerja di sejumlah ladang dan perkebunan kelapa sawit pada wilayah Malaysia di Kalimantan juga menunjukan adanya aktifitas people-to-people diplomacy yang dilakukan oleh masyarakat perbatasan.

(Foto: Pribadi/Istimewa - Masyarakat Setempat dan Pekerja Ladang Tengah Menyimak Penyuluhan)

Terkendalanya akses pendidikan bagi anak-anak Buruh Migran Indonesia di kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia mendorong adanya perlintasan masyarakat perbatasan, khususnya anak-anak usia sekolah, untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah tapal batas.

Ketersediaan Community Learning Center (CLC) pada kawasan ladang dan perkebunan Malaysia di Kalimantan juga semakin mendorong adanya perlintasan perbatasan oleh masyarakat perbatasan.

(Foto: Pribadi/Istimewa - Salah Satu Siswa Sekolah Tapal Batas Sebatik)

(Foto: Pribadi/Istimewa - Siswa Sekolah Tapal Batas Sebatik Mengikuti Upacara Bendera dengan Khidmat)

Pemberdayaan Masyarakat Setempat

Melihat besarnya potensi masyarakat setempat dalam aktivitasnya di perbatasan terhadap people-to-people diplomacy sudah selayaknya perhatian terhadap aktivitas dimaksud lebih ditingkatkan. Sejumlah potensi tersebut antara lain adalah:

Pertama, memberdayakan masyarakat setempat untuk menengahi sengketa kemasyarakatan yang mungkin terjadi di perbatasan. Sebagaimana lazim terjadi di antara penduduk yang bertetangga dalam lingkup kecil lingkungan rukun tetangga, konflik dapat saja terjadi di perbatasan yang berbanding lurus dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dimaksud melintasi perbatasan.

Model-model penyelesaian konflik lintas sosial yang umum dilakukan oleh masyarakat setempat dapat dikedepankan guna menyelesaikan sengketa kemasyarakatan.

Model penyelesaian sengketa inilah yang berpotensi besar untuk diberdayakan sebagai suatu bentuk people-to-people diplomacy ala masyarakat perbatasan.

Kedua, selain kemampuan masyarakat setempat dalam penyelesaian sengketa kemasyarakatan, people-to-people diplomacy juga dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sejumlah kearifan lokal yang telah menjelma sebagai produk kreatif setempat.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, selama ini masyarakat setempat di Sebatik telah dibanjiri dengan produk-produk Malaysia, khususnya Tong Gas. Terdapat produk kreatif Malaysia lainnya yang telah pula menjamur di Sebatik, produk tersebut adalah Ais Kepal Milo.

(Foto: Pribadi/Istimewa - Foto Produk Ais Kepal Milo yang Ditemukan Penulis di Pulau Sebatik)

Ais Kepal Milo yang merupakan produk olahan Malaysia hasil kreasi masyarakat penggunaan produk susu ber-perisa coklat yang selama ini menjamur di Jakarta, dan tentu saja di Negeri Jiran, ternyata dapat dijumpai pula di Sebatik.

Dari kedua produk Malaysia dimaksud, kiranya sudah waktunya pula produk kreatif Indonesia dapat mulai membanjiri pasar-pasar tradisional di kawasan perbatasan Malaysia.

Yang akan membawanya? Tentu saja masyarakat perbatasan.

Dengan potensi-potensi dimaksud, masihkah pemberdayaan masyarakat setempat akan dilupakan? Semoga saja ke depannya tidak.

***

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23