Eutrofikasi: Penyebab dan Dampaknya pada Lingkungan Perairan
Membahas informasi seputar dunia perikanan, baik perikanan air asin maupun air tawar.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Perikanan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena eutrofikasi sering menjadi perhatian dalam pengelolaan lingkungan perairan. Proses ini terjadi ketika suatu perairan mengalami peningkatan nutrien, terutama fosfat dan nitrat, sehingga memicu pertumbuhan alga secara berlebihan. Jika dibiarkan, maka eutrofikasi dapat menimbulkan masalah serius bagi ekosistem dan manusia.
Pengertian Eutrofikasi
Menurut ulasan Muh. Sri Yusal, dkk. dalam jurnal Review Eutrofikasi: Risiko dalam Kesuburan Lingkungan Perairan dan Upaya Penanggulangannya, eutrofikasi adalah proses peningkatan produktivitas primer ekosistem perairan akibat pengayaan (enrichment) nutrien. Proses ini biasanya berlangsung secara bertahap, diawali dengan masuknya zat hara yang berlebihan ke dalam danau, sungai, atau waduk. Eutrofikasi sendiri dapat terjadi secara alami maupun akibat aktivitas manusia.
Penyebab Eutrofikasi
Ada sejumlah faktor yang memicu eutrofikasi di lingkungan perairan. Salah satunya adalah masuknya nutrien dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai sumber.
Masuknya Nutrien Berlebih
Nutrien seperti fosfat dan nitrat menjadi pemicu utama. Zat-zat ini bisa masuk melalui limbah domestik, limbah pertanian, dan aktivitas industri. Akumulasi nutrien menciptakan kondisi subur bagi pertumbuhan alga.
Aktivitas Manusia
Penggunaan pupuk secara berlebihan di bidang pertanian merupakan salah satu pemicu utama eutrofikasi. Selain itu, pembuangan limbah tanpa pengolahan yang memadai juga memperparah masuknya nutrien ke perairan.
Sumber Alamiah
Selain karena aktivitas manusia, eutrofikasi juga dapat terjadi secara alami. Proses pelapukan bahan organik dan pengendapan mineral di perairan turut meningkatkan kadar nutrien secara perlahan.
Dampak Eutrofikasi
Dampak eutrofikasi tidak hanya dirasakan oleh ekosistem perairan, tetapi juga oleh manusia yang memanfaatkan air tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Penurunan Kualitas Air
Air yang mengalami eutrofikasi biasanya menjadi keruh, berbau tak sedap, dan dipenuhi alga. Kondisi ini membuat air sulit digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Gangguan Ekosistem Perairan
Pertumbuhan alga yang tidak terkendali dapat menyebabkan kematian ikan dan organisme air lainnya. Selain itu, keanekaragaman hayati di perairan pun menurun akibat persaingan yang tidak seimbang.
Risiko bagi Kesehatan Manusia
Dalam jurnal Review Eutrofikasi: Risiko dalam Kesuburan Lingkungan Perairan dan Upaya Penanggulangannya, disebutkan bahwa eutrofikasi juga dapat berdampak pada sektor kesehatan, seperti munculnya iritasi kulit, gangguan pernapasan, penyakit pencernaan, malaria, dan demam berdarah. Hal ini terjadi karena bakteri patogen dapat berkembang pesat dalam air yang kaya nutrien.
Upaya Penanggulangan Eutrofikasi
Pengendalian eutrofikasi dapat dilakukan dengan beberapa langkah, seperti mengurangi penggunaan pupuk kimia, memperbaiki sistem pengelolaan limbah, dan melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kualitas air. Upaya penanggulangan eutrofikasi juga meliputi pemantauan kualitas air secara berkala dan penerapan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan.
Menurut jurnal Eutrofikasi Nitrogen dan Fosfor serta Pengendaliannya dengan Perikanan di Waduk Sermo karya Rustadi, cara pengendalian eutrofikasi yang dapat dilakukan adalah mengeliminasi unsur nitrogen dan fosfor pada residu limbah yang masuk ke ekosistem perairan.
Kesimpulan
Eutrofikasi merupakan proses yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan perairan jika tidak ditangani dengan tepat. Penyebab utama berasal dari masuknya nutrien berlebih, terutama akibat aktivitas manusia dan faktor alamiah. Dampaknya meliputi penurunan kualitas air, gangguan ekosistem, hingga risiko kesehatan. Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan perlu diterapkan secara konsisten agar perairan tetap lestari.
Baca Juga: Ternak Ikan: Sistem Budidaya, Kesehatan, dan Keberlanjutan Perikanan Modern
(Reviewed by Melynda Dwi Puspita, S.Pi)