Pengertian Akuakultur: Definisi, Jenis-Jenis, dan Contoh Praktiknya
Membahas informasi seputar dunia perikanan, baik perikanan air asin maupun air tawar.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Perikanan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akuakultur menjadi salah satu strategi penting dalam memenuhi kebutuhan pangan berbasis perairan. Istilah ini sering ditemukan saat membahas produksi ikan, udang, hingga rumput laut. Artikel ini akan mengulas pengertian akuakultur atau budi daya perikanan, jenis-jenis yang berkembang, hingga penerapannya di Indonesia.
Pengertian Akuakultur
Akuakultur merupakan kegiatan budi daya organisme air yang meliputi ikan, udang, moluska, hingga tanaman air. Menurut buku Teknologi Akuakultur karya Waode Munaeni dkk., akuakultur adalah praktik budi daya organisme di lingkungan air, baik itu air tawar, air payau, maupun air laut. Proses ini menggabungkan pengetahuan teknik, pengelolaan lingkungan, dan pemilihan spesies yang tepat.
Tujuan dari akuakultur atau budi daya perikanan adalah memperoleh hasil optimal dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Jenis-Jenis Akuakultur
Beragam jenis akuakultur berkembang sesuai dengan karakteristik perairan dan jenis organisme yang dibudidayakan. Setiap jenis memiliki keunikan pada teknik, lokasi, dan komoditas utamanya.
Akuakultur Air Tawar
Budi daya air tawar umumnya dilakukan di kolam, waduk, atau danau. Spesies yang sering dibudidayakan, meliputi ikan lele, nila, dan gurami. Seperti dijelaskan dalam buku Teknologi Akuakultur, jumlah spesies ikan air tawar di Indonesia mencapai 1.300 spesies, sehingga menempatkan negara ini sebagai negara dengan keanekaragaman spesies ikan air tawar terkaya nomor tiga di dunia.
Akuakultur Air Payau
Jenis ini memanfaatkan perairan yang mengandung campuran air laut dan air tawar, seperti tambak udang di pesisir. Udang vaname dan bandeng merupakan komoditas utama yang dihasilkan dari akuakultur air payau. Teknik pengelolaan salinitas atau kadar garam dalam air menjadi kunci keberhasilan usaha ini.
Akuakultur Air Laut
Budi daya di laut lepas berfokus pada komoditas bernilai tinggi seperti kerapu, bawal bintang, dan rumput laut. Akuakultur air laut diterapkan dengan sistem keramba jaring apung (KJA), jaring tancap, atau rakit, menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang dinamis. Pengelolaan yang baik akan mendukung pertumbuhan organisme dan menjaga kualitas air.
Contoh Praktik Akuakultur di Indonesia
Di Indonesia, usaha akuakultur berkembang pesat di berbagai wilayah. Contoh yang banyak ditemui, antara lain budi daya udang di tambak, ikan nila di kolam terpal, hingga rumput laut di pesisir berbagai daerah.
Selain memberikan peluang ekonomi, sektor ini terus didorong agar lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tantangan seperti perubahan iklim, serangan penyakit, dan kualitas pakan menjadi perhatian utama dalam pengembangan akuakultur nasional.
Menurut I Gusti Putu Gede Rumayasa Yudana dkk. dalam buku Pengantar Akuakultur: Konsep dan Praktik, sistem budi daya yang umum dilakukan di Indonesia, yaitu kolam dan keramba. Kolam ada berbagai macam, seperti kolam tanah, beton, hapa, atau terpal; sedangkan keramba dimanfaatkan di perairan terbuka, seperti sungai dan danau.
Kesimpulan
Pengertian akuakultur merujuk pada kegiatan budi daya organisme air dalam lingkungan terkontrol untuk menghasilkan produk perikanan yang bernilai ekonomi. Terdapat beberapa jenis akuakultur, meliputi air tawar, air payau, dan air laut, yang masing-masing memiliki teknik dan komoditas andalan. Penerapan akuakultur di Indonesia memberikan manfaat besar, tetapi juga menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar sektor ini terus berkembang secara berkelanjutan.
(Reviewed by Melynda Dwi Puspita, S.Pi)