Konten dari Pengguna

Binahong: Tanaman Hias dengan Sejuta Khasiat sebagai Obat Herbal

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi daun tanaman binahong. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi daun tanaman binahong. Foto: Pixabay

Binahong dikenal luas sebagai tanaman obat atau biofarmaka yang banyak dimanfaatkan di berbagai negara Asia. Tanaman ini memiliki ciri khas pada daun dan batangnya yang memudahkan identifikasi di lingkungan sekitar. Selain nilai pentingnya dalam pengobatan tradisional, binahong kini mulai populer digunakan sebagai bahan baku obat asli Indonesia.

Asal Usul Tanaman Binahong

Binahong merupakan tanaman herba menahun yang tumbuh menjalar dan dapat mencapai panjang lebih dari 6 meter. Berdasarkan buku Serial The Power of Obat Asli Indonesia: Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steeni yang disusun oleh Tim Badan POM, tanaman ini berasal dari wilayah Amerika Selatan bagian tengah dan timur, mencakup negara Bolivia, Brasil, Paraguay, Uruguay, dan Argentina. Di Indonesia, awalnya binahong lebih dikenal sebagai tanaman hias sebelum akhirnya populer sebagai tanaman obat.

Sejarah dan Persebaran Binahong

Meskipun berasal dari Amerika Selatan, persebaran binahong kini telah meluas hingga ke Asia (Tiongkok, Jepang, India), Afrika, Australia, hingga Amerika Serikat dan Meksiko. Tanaman ini memiliki daya adaptasi yang luas di daerah tropis maupun subtropis, bahkan di beberapa wilayah seperti Afrika dan Oseania, binahong dianggap sebagai tanaman invasif.

Jenis dan Nama Ilmiah Binahong

Secara ilmiah, binahong diidentifikasi dengan nama Anredera cordifolia (Ten.) Steenis. Tanaman ini juga memiliki beberapa nama sinonim dalam literatur botani, seperti Boussingaultia gracilis Miers dan B. cordifolia. Di Indonesia, tanaman ini memiliki nama daerah yang beragam, seperti sirih raja di Jambi dan penahong di Sulawesi Tengah.

Pemanfaatan Tradisional di Berbagai Negara

Binahong telah lama dimanfaatkan dalam etnomedisin di berbagai negara. Di Tiongkok, tanaman ini dikenal dengan nama dheng san chi, sementara di Inggris disebut heartleaf madeiravine. Masyarakat memanfaatkannya untuk berbagai keluhan kesehatan seperti mengobati luka bakar, luka bekas operasi, batuk, sariawan, hingga kencing manis dan sesak napas.

Morfologi Tanaman Binahong

Morfologi binahong sangat khas karena karakteristik pertumbuhannya yang membelit dan menjalar. Setiap bagian, mulai dari batang hingga umbi udaranya, menjadi identitas penting bagi pengenalannya di alam.

Ciri-ciri Fisik Tanaman Binahong

Batang binahong bersifat lunak, silindris, dan berwarna hijau kemerahan atau merah dengan permukaan halus. Salah satu ciri uniknya adalah terbentuknya umbi yang melekat di ketiak daun atau umbi udara dengan bentuk tidak beraturan dan tekstur kasar. Akarnya dapat berupa akar serabut atau membentuk umbi di dalam tanah yang berdaging lunak.

Karakteristik Daun Binahong

Daun binahong merupakan daun tunggal yang berbentuk jantung (cordata) dengan ujung runcing dan pangkal berlekuk. Helaian daunnya tipis lemas, memiliki permukaan licin, dan tersusun secara berseling. Panjang daun biasanya berkisar antara 5–10 cm dengan lebar 3–7 cm.

Cara Tumbuh dan Adaptasi Lingkungan

Binahong dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, mulai dari dataran rendah hingga tinggi. Tanaman ini tumbuh optimal pada suhu 16–27° C dengan kelembapan 70–100% dan membutuhkan penyinaran matahari yang cukup (70–100%). Binahong juga dikenal tahan terhadap kondisi lingkungan yang variabel asalkan memiliki curah hujan yang cukup berkisar 1.800–2.500 mm/tahun.

Kesimpulan

Binahong adalah tanaman obat asal Amerika Selatan yang telah beradaptasi baik di Indonesia dan wilayah tropis lainnya. Dengan ciri fisik batang merah menjalar dan daun berbentuk hati, tanaman ini tidak hanya bernilai estetika sebagai tanaman hias namun memiliki potensi besar dalam pengembangan produk obat tradisional modern seperti kapsul, tablet, maupun sediaan topikal.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi