Buah Duku: Peluang Menjanjikan Budi Daya di Indonesia
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Duku (Lansium domesticum Corr.) merupakan salah satu buah-buahan tropis yang sangat diminati konsumen di Indonesia dan umumnya dikonsumsi dalam bentuk buah segar. Buah ini memiliki prospek pengembangan yang baik karena memiliki manfaat dan kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan manusia.
Mengenal Buah Duku
Berdasarkan tinjauan teknologi oleh Ade Supriatna dan Suparwoto dalam Jurnal Litbang Pertanian berjudul Teknologi Pembibitan Duku dan Prospek Pengembangannya menyatakan jika duku merupakan komoditas hortikultura yang sangat potensial di Indonesia. Tanaman duku umumnya dibudidayakan secara tradisional, di mana banyak pohon produktif saat ini merupakan warisan turun-temurun yang telah berumur lebih dari 60 hingga 100 tahun.
Ciri-ciri Tanaman Duku
Tanaman duku asal biji memiliki pertumbuhan yang sangat lambat, terutama setelah berumur 1-2 tahun, dan baru mulai berbuah setelah berumur 12 hingga 25 tahun. Secara fisik, duku yang paling terkenal seperti duku palembang dicirikan oleh rasa yang manis dan biji yang kempes. Kulit batang duku cenderung tipis dan mengandung banyak getah, yang menjadi tantangan tersendiri dalam perbanyakan vegetatif seperti okulasi.
Manfaat Buah Duku untuk Kesehatan
Setiap 100 gram buah duku mengandung berbagai nutrisi penting, di antaranya 63 kalori, 1 g protein, 0,20 g lemak, 16,10 g karbohidrat, serta mineral seperti kalsium (18 mg), fosfor (9 mg), dan zat besi (0,90 mg). Selain vitamin B1 dan vitamin C (9 mg), duku kaya akan serat yang bermanfaat untuk memperlancar sistem pencernaan, mencegah kanker kolon, serta mengandung antioksidan untuk membersihkan tubuh dari radikal bebas.
Cara Budi Daya Duku yang Efektif
Keberhasilan budi daya duku sangat ditentukan oleh penggunaan benih bermutu dan penerapan teknologi budi daya yang tepat. Saat ini, perbanyakan melalui teknik sambung pucuk dianggap lebih efisien dibandingkan okulasi atau cangkok karena tingkat keberhasilannya yang lebih tinggi dan mampu menghasilkan perakaran yang lebih kokoh.
Syarat Tumbuh Tanaman Duku
Duku tumbuh optimal di dataran rendah hingga menengah dengan tanah subur dan drainase baik. Menurut buku Budidaya Duku dari Direktorat Budidaya Tanaman Buah, tanaman ini membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai untuk mendukung produktivitas, termasuk curah hujan dan pencahayaan yang cukup.
Langkah-langkah Budidaya Duku
Persiapan batang bawah: biji untuk batang bawah dipilih dari jenis lokal (duku, langsat, atau kokosan). Biji dibersihkan dengan abu gosok, direndam fungisida, dan diberi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) seperti Atonik dengan takaran 1 ml/l air untuk mempercepat perkecambahan.
Teknik sambung pucuk: batang bawah berumur 12–18 bulan dipotong pada bagian kulit yang masih hijau (setinggi 20–25 cm), lalu dibelah membentuk huruf V sepanjang 2–2,5 cm. Entres disisipkan ke dalam belahan tersebut, diikat tali plastik, dan dilindungi dengan sungkup plastik untuk menjaga kelembapan.
Pemeliharaan: penyiraman rutin dua kali sehari pada musim kemarau dan penyiangan rumput. Pemupukan dapat menggunakan NPK (15:15:15) dengan takaran 3 g/tanaman atau pupuk daun sebanyak 2 g/tanaman.
Pemanenan: tanaman hasil sambung pucuk dapat mulai berbuah pada umur 6-7 tahun, jauh lebih cepat dibandingkan tanaman asal biji yang membutuhkan belasan hingga puluhan tahun.
Jenis-Jenis Duku Populer di Indonesia
Varietas duku di Indonesia umumnya diberi nama sesuai daerah penghasilnya. Beberapa varietas unggul nasional yang direkomendasikan oleh pemerintah meliputi varietas Rasuan (Palembang), Condet (Jakarta), Matesih (Karanganyar), dan Prunggahan (Tuban).
Duku Lokal Unggulan
Duku Palembang: dikenal paling manis dan memiliki biji kempes. Sentra utamanya berada di daerah Komering (OKU dan OKI) serta wilayah Sumatera Selatan lainnya seperti Ogan Komering dan Muara Enim.
Duku Condet: varietas unggul dari Jakarta yang banyak diminati karena cita rasa khasnya.
Duku Jawa: duku Papongan (Tegal), Kalikajar (Purbalingga), Karangkajen (Yogyakarta), Woro (Rembang), dan Sumber (Kudus).
Keunggulan Masing-masing Jenis Duku
Varietas lokal memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Duku Palembang unggul dalam kualitas rasa, sementara varietas unggul lainnya seperti Matesih dan Prunggahan telah terseleksi secara turun-temurun sebagai pohon induk yang memiliki produktivitas tinggi.
Tips Memilih Bibit Duku Berkualitas
Pemilihan bibit yang tepat sangat krusial karena keaslian bibit baru dapat diketahui 4–5 tahun kemudian setelah tanaman berbuah.
Kriteria Bibit Unggul
Bibit unggul sebaiknya berasal dari perbanyakan vegetatif (sambung pucuk) menggunakan entres dari pohon induk sehat yang telah berbuah minimal 3–4 kali dan memiliki produktivitas tinggi. Sangat disarankan untuk membeli bibit yang telah memiliki label sertifikat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) guna menjamin keaslian dan mutu bibit.
Penyimpanan dan Perawatan Bibit
Bibit sambung pucuk yang baru jadi harus tetap berada di bawah naungan dan terlindungi dari gangguan ternak. Selama masa pemeliharaan 18–24 bulan sebelum siap tanam, bibit perlu mendapatkan pengendalian hama secara rutin, seperti mengatasi kutu perisai (Asterolecantium sp.) dengan insektisida dan penyakit mati pucuk (Gloeosporium sp.) dengan fungisida.
Kesimpulan
Budidaya duku menawarkan peluang ekonomi yang besar. Dengan mengacu pada pedoman budi daya dari Direktorat Budidaya Tanaman Buah dan penerapan teknologi pembibitan modern, hasil panen duku dapat menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan bagi pelaku agribisnis di Indonesia.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Panduan Lengkap Budi Daya Buah Lokal dari Kebun hingga Pasar