Buah Rukam: Si Merah Muda dari Hutan Tropis Indonesia
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanaman rukam dikenal luas sebagai salah satu buah asli Nusantara yang tumbuh di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan klasifikasi biologinya, rukam termasuk dalam kelas Magnoliopsida (atau divisi Magnoliophyta) dan famili Flacourtiaceae. Rukam merupakan kelompok tanaman hortikultura, khususnya buah-buahan, yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan baik sebagai sumber pangan maupun tanaman hias eksotis karena warna daun mudanya yang mencolok.
Asal Usul dan Sebaran Tanaman Rukam
Rukam (Flacourtia rukam) merupakan tanaman yang berasal dari kawasan Asia Tenggara dan telah lama tumbuh di Indonesia. Di alam liar, tumbuhan ini memiliki daya adaptasi yang luar biasa, mampu tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut.
Asal Mula Tanaman Rukam
Tumbuhan ini diyakini berasal dari Asia Tenggara dan telah dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal. Rukam sering ditemukan tumbuh liar di hutan primer dan sekunder, namun banyak pula yang ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman peneduh atau penghasil buah.
Persebaran Geografis
Rukam di Indonesia Di Indonesia, rukam tersebar luas di berbagai pulau besar. Menurut Dharmono dalam prosiding Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Peneliti dan Pendidik Biologi Indonesia (HPPBI) berjudul Kajian Struktur Populasi Tumbuhan Rukam (Flacourtia rukam) di Kawasan Tepi Sungai Maluka Kabupaten Tanah Laut sebagai Materi Penunjang Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan menjelaskan jika rukam memiliki banyak nama lokal, seperti Rukem atau Ganda Rukem di Jawa Tengah, Gerendang di Sunda, Klang Tatah Kutang di Kalimantan, Tonggolen di Batak, hingga Tome-tome Manis di Manado. Persebaran ini didukung oleh kondisi iklim tropika basah yang menjadi habitat optimalnya.
Habitat Alami dan Lingkungan Tumbuh
Rukam tumbuh optimal di kawasan hutan sekunder serta di tepian sungai yang memiliki kelembapan tinggi. Di kawasan tepi Sungai Maluka, Kalimantan Selatan, rukam berperan penting dalam menjaga struktur tanah agar tidak tererosi oleh aliran air sungai karena sistem perakarannya yang kuat.
Morfologi Tanaman Rukam
Tanaman rukam memiliki ciri fisik yang unik berupa perdu atau pohon kecil dengan tinggi mencapai 6–10 meter, bahkan terkadang hingga 14 meter.
Ciri Batang dan Daun Rukam
Batang dan cabang rukam yang masih muda umumnya memiliki duri, namun duri tersebut akan menghilang seiring bertambahnya usia pohon. Kulit batangnya berwarna cokelat muda hingga merah tembaga. Daunnya berbentuk elips atau lanset dengan tepi bergerigi, di mana permukaan atasnya berwarna hijau tua mengkilat sementara bagian bawahnya hijau muda. Salah satu ciri khasnya adalah daun muda yang berwarna merah muda atau pink.
Bentuk Bunga dan Buah Rukam
Bunga rukam muncul di ketiak daun, berwarna putih kehijauan, dan termasuk bunga tidak lengkap. Berdasarkan studi dari Agustara Dwi Juwita dkk. dalam jurnal Biota berjudul Phenology of Flowering and Fruiting in Rukam Growth (Flacourtia rukam Zoll. & Moritzi), proses dari inisiasi bunga hingga buah matang membutuhkan waktu sekitar 56–61 hari. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 2–2,5 cm; berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi merah tua hingga ungu kehitaman saat matang.
Karakteristik Akar dan Pertumbuhan
Akar rukam memiliki serabut akar yang panjang dan kuat, yang memungkinkannya bertahan di ekosistem tepi sungai yang rentan gerusan air. Dalam hal struktur populasi, dihabitat alaminya populasi fase pra-reproduktif (bibit) cenderung lebih besar daripada fase reproduktif, membentuk struktur piramida poligon yang stabil.
Manfaat dan Potensi Tanaman Rukam
Rukam memiliki manfaat yang sangat beragam, mulai dari aspek konsumsi, kesehatan, hingga fungsi ekologis.
Pemanfaatan Buah dan Bagian Lain Tanaman
Buah yang sudah matang memiliki rasa manis agak sepat dan dapat dikonsumsi segar atau diolah menjadi selai, sirup, dan manisan. Secara tradisional, rebusan akar rukam digunakan oleh wanita setelah melahirkan, sementara daun mudanya digunakan sebagai obat diare karena mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan saponin.
Potensi Konservasi dan Edukasi
Secara global, Flacourtia rukam telah masuk dalam daftar IUCN Red List dengan status Least Concern (Risiko Rendah) pada tahun 2023. Namun, populasinya di alam terus terancam oleh konversi lahan. Oleh karena itu, rukam memiliki potensi besar sebagai bahan edukasi lingkungan, khususnya dalam mata kuliah Ekologi Tumbuhan untuk mempelajari dinamika populasi di kawasan riparian.
Kesimpulan
Rukam adalah kekayaan hayati asli Indonesia yang memiliki karakter morfologi tangguh dan manfaat multifungsi. Meskipun saat ini statusnya masih berisiko rendah menurut IUCN, upaya budidaya dan konservasi sangat diperlukan agar keberadaannya di alam tetap lestari. Selain sebagai komoditas hortikultura lokal, rukam memegang peranan vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem tepi sungai dan menjadi sumber ilmu pengetahuan yang berharga.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Panduan Lengkap Budi Daya Buah Lokal dari Kebun hingga Pasar