Degradasi Lahan: Penyebab, Dampak, dan Penanggulangan
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Degradasi lahan merupakan tantangan krusial dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang mengancam keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat. Fenomena ini telah menjadi isu lingkungan global karena berdampak luas pada penurunan kapasitas lahan untuk berfungsi secara ekologis, ekonomis, dan sosial. Berdasarkan data KLHK (2023), luas lahan terdegradasi di Indonesia diperkirakan telah mencapai 24,3 hingga 48,3 juta hektar, dengan konsentrasi utama di wilayah upland (lahan atas) dan hutan.
Pengertian dan Karakteristik Degradasi Lahan
Menurut Wahyunto dan Ai Dariah dalam Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 8 No. 2 berjudul Degradasi Lahan di Indonesia: Kondisi Existing, Karakteristik, dan Penyeragaman Definisi Mendukung Gerakan Menuju Satu Peta, degradasi lahan adalah proses penurunan produktivitas lahan, baik sementara maupun tetap, yang dicirikan oleh penurunan sifat fisik, kimia, dan biologi. Dalam sudut pandang yang lebih luas, proses ini mencakup hilangnya fungsi ekosistem dan penurunan kegunaan lahan untuk mendukung kehidupan.
Karakteristik Degradasi Lahan
Menurut Philip, H. J. dkk. dalam Taraba J. Agric. Res. Vol.4 No.1 berjudul A Review of Soil Degradation: Types and Strategies for Rehabilitating Severely Degraded Soils, degradasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam empat tipe utama berdasarkan proses terjadinya:
Degradasi Fisik: tipe ini mencakup perubahan sifat fisik tanah yang merugikan, seperti pemadatan tanah, pembentukan kerak permukaan, serta genangan air yang tidak terkendali. Proses ini menyebabkan penurunan porositas tanah sehingga menghambat infiltrasi air dan perkembangan akar tanaman.
Degradasi Kimia: proses ini meliputi hilangnya nutrisi tanaman secara besar-besaran atau akumulasi zat yang merusak. Bentuknya dapat berupa pengasaman tanah, peningkatan kadar garam tanah, hingga pencemaran tanah akibat limbah industri atau penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan yang meracuni ekosistem tanah.
Degradasi Biologis: tipe ini ditandai dengan penurunan drastis kandungan bahan organik tanah serta berkurangnya populasi mikroorganisme tanah yang menguntungkan. Hal ini sering terjadi akibat aktivitas pembakaran lahan atau praktik pertanian monokultur yang intensif.
Erosi Tanah: erosi merupakan tipe degradasi yang paling umum, baik yang dipicu oleh air maupun angin. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan tanah atas (topsoil) yang kaya akan nutrisi, sehingga secara perlahan lahan kehilangan kemampuannya untuk mendukung pertumbuhan vegetasi.
Penyebab Degradasi Lahan di Indonesia
Faktor Alam
Faktor alami seperti curah hujan tinggi dan kemiringan lereng di wilayah upland mempercepat laju erosi tanah. Namun, aktivitas antropogenik (manusia) menjadi pemicu utama, meliputi deforestasi, konversi hutan menjadi lahan pertanian intensif, serta praktik pertanian tradisional yang mengabaikan prinsip konservasi.
Penyebab Lainnya
Penyebab spesifik lainnya mencakup aktivitas pertambangan terbuka yang merusak bentang lahan dan meninggalkan limbah logam berat, serta ekspansi infrastruktur yang tidak terkendali. Penggunaan input kimia yang berlebihan pada tanaman pangan dan hortikultura juga mempercepat kerusakan kualitas tanah secara permanen.
Dampak Degradasi Lahan terhadap Lingkungan dan Kehidupan Sosial
Dampak Ekologis
Secara ekologis, degradasi lahan menyebabkan hilangnya hingga 70% biodiversitas tanah pada lahan intensif dan meningkatkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), terutama pada lahan gambut yang rusak. Dampak ini meluas menjadi bencana nasional seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor yang frekuensinya terus meningkat.
Dampak Sosial Ekonomi
Dari aspek sosial-ekonomi, penurunan produktivitas lahan dapat menurunkan hasil panen padi hingga 40%. Hal ini secara langsung mengurangi pendapatan petani, mengancam ketahanan pangan nasional, dan berpotensi memicu konflik agraria akibat perebutan lahan produktif yang semakin terbatas.
Upaya Penanggulangan dan Rekomendasi
Strategi Pengelolaan Lahan Berkelanjutan (PLB) menjadi solusi integratif untuk menyeimbangkan produktivitas dan konservasi. Febriana Tri Wulandari dan Wahyu Astiko dalam Journal of Authentic Research berjudul Kajian Degradasi Lahan dan Pengelolaan Lahan Berkelanjutan menekankan efektivitas teknik agroforestri. Sebagai contoh, praktik agroforestri aren dan kopi di Lombok Tengah terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 35% sekaligus menjaga fungsi hidrologi lahan. Selain aspek teknis seperti terasering dan penggunaan pupuk organik, penguatan kelembagaan dan sinergi kebijakan melalui One Map Policy (Kebijakan Satu Peta) sangat diperlukan untuk menyelaraskan data dan langkah penanganan antar sektor kementerian.
Kesimpulan
Degradasi lahan di Indonesia adalah permasalahan multidimensional yang memerlukan penanganan segera. Dengan luas lahan kritis yang terus bertambah, diperlukan transformasi menuju praktik pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis komunitas. Sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci untuk memulihkan kesehatan tanah demi mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Pertanian Berkelanjutan: Strategi Produksi Pangan untuk Masa Depan