Gejala Serangan dan Pengendalian Hama Penggerek Batang Jagung
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jagung (Zea mays L.) merupakan bahan pangan sumber karbohidrat dan protein yang sangat potensial sebagai alternatif pengganti beras. Namun, untuk mempertahankan produksinya, petani sering menghadapi kendala hama penting, terutama penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis.
Mengenal Penggerek Batang Jagung
Menurut Inday Pangumpia dkk. dalam jurnal yang berjudul Serangan Hama Penggerek Batang Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidoptera: Pyralidae) pada Varietas Jagung di Kabupaten Minahasa Selatan, hama ini berstatus penting karena dapat menyebabkan kehilangan hasil berkisar antara 20% hingga 80%.
Identifikasi Hama
Hama ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae. Fase paling merusak adalah larva yang menggerek daun muda yang masih menggulung hingga masuk ke dalam batang.
Siklus Hidup
Serangan dimulai saat ngengat meletakkan telur pada permukaan bawah daun saat tanaman berumur 3-4 minggu setelah tanam (mst). Larva instar I-III merusak daun dan bunga jantan, sedangkan instar IV-V mulai menggerek batang hingga tongkol.
Gejala Serangan Penggerek Batang Jagung
Serangan hama ini bersifat menyeluruh, mulai dari fase vegetatif hingga generatif.
Tanda Awal di Lapangan: adanya lubang kecil pada daun serta sisa kotoran berupa serbuk hasil gerekan di sekitar lubang pada daun, bunga jantan, atau batang.
Dampak Serangan: gerekan larva merusak jaringan tanaman sehingga menghambat aliran air dan nutrisi. Akibatnya, tanaman sering ditemukan patah batangnya, fotosintesis menurun, dan pada serangan berat dapat menyebabkan kegagalan panen.
Strategi Pengendalian Penggerek Batang Jagung
Pengendalian Secara Mekanis dan Budi Daya
Salah satu teknik yang dianjurkan adalah pemangkasan sebagian bunga jantan, karena fase pembentukan bunga jantan (malai) adalah stadia yang paling disukai oleh O. furnacalis. Selain itu, sanitasi lahan dari gulma sangat penting karena gulma dapat menjadi tanaman inang sementara.
Pengendalian Hayati dan Kimia
Secara alamiah, populasi hama ini ditekan oleh musuh alami seperti parasitoid telur Trichograma sp. serta parasitoid larva atau pupa seperti Ophion sp. dan Exorista sp.. Secara kimia, petani dapat menggunakan insektisida (misal: berbahan aktif monokrotofos) terutama pada saat masa pembungaan.
Efektivitas pada Berbagai Varietas
Varietas hibrida umumnya memiliki ketahanan yang baik. Namun, terdapat perbedaan tingkat serangan: Pioneer 27 memiliki rata-rata persentase serangan lebih tinggi (0,40%) dibandingkan Bisi 16 (0,23%). Hal ini diduga karena perbedaan warna daun (hijau tua pada Pioneer 27 lebih disukai serangga) dan faktor biofisik tanaman.
Tips Pencegahan Serangan
Praktik Pertanian Terpadu: lakukan pembersihan gulma secara rutin untuk menjaga agar tidak menjadi tempat bertelur serangga. Perhatikan pula penggunaan pupuk; penggunaan pupuk organik cair tertentu dapat memengaruhi warna daun menjadi lebih hijau tua yang berisiko lebih menarik bagi hama.
Pemilihan Varietas Tahan: penggunaan varietas hibrida seperti Bisi 16 dan Pioneer 27 sangat disarankan karena tergolong tahan hingga sangat tahan, sehingga serangan tetap berada di bawah ambang ekonomi.
Kesimpulan
Penggerek batang O. furnacalis merupakan ancaman serius yang dapat merusak batang dan menurunkan hasil jagung secara signifikan. Namun, dengan pemilihan varietas yang tepat seperti Bisi 16, pemanfaatan musuh alami, serta sanitasi lahan yang baik, serangan hama ini dapat ditekan hingga tingkat yang tidak merugikan secara ekonomi.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Tanaman Rempah dan Obat, Ini Jenis dan Manfaatnya