Konten dari Pengguna

Kekurangan Air: Dampak pada Pertanian dan Strategi Mengatasi

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dampak kekurangan air pada tanaman. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dampak kekurangan air pada tanaman. Foto: Pixabay

Kekurangan air (kekeringan) merupakan faktor kritis bagi semua tanaman karena air adalah bahan penyusun utama protoplasma sel dan komponen vital dalam fotosintesis. Tantangan ini tidak hanya dirasakan petani secara individu, tetapi juga mengancam ketersediaan pangan nasional akibat penurunan produktivitas dan kualitas hasil. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai dampak dan solusi teknis sangat penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tani.

Dampak Kekurangan Air pada Pertanian

Kekurangan air mengganggu keseimbangan kimiawi dalam tanaman yang mengakibatkan proses fisiologis berjalan tidak normal. Menurut Zainal Arifin dalam Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian Vol. 10 Tahun 2007 berjudul Konservasi dan Pengelolaan Air pada Tanaman Pangan, kelangkaan air pada fase tumbuh dapat menyebabkan pertumbuhan tidak normal, penurunan hasil, hingga kegagalan panen total.

Penurunan Produktivitas Tanaman Pangan dan Perkebunan

Tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan sangat rentan terhadap kekurangan air, terutama pada fase kritis seperti saat tanam, pembungaan, dan pengisian biji. Pada tanaman tembakau, kekurangan air (water deficit) sejak pembentukan daun akan menghambat perluasan daun dan jumlahnya, yang secara langsung menurunkan produksi biomassa. Hal ini dijelaskan oleh Ch. Tri Harwati dalam jurnal INNOFARM Vol.6 No. 1 berjudul Pengaruh Kekurangan Air (Water Deficit) Terhadap Pertumbuhan Dan Perkembangan Tanaman Tembakau, di mana kekurangan air yang terus-menerus akan menyebabkan tanaman kerdil, layu, dan akhirnya mati.

Gangguan Fisiologis dan Ekosistem Lahan Pertanian

Kekurangan air menyebabkan penurunan tekanan turgor yang merupakan penentu utama perluasan sel dan metabolisme tanaman. Selain itu, tanah yang kering mengganggu aktivitas mikroorganisme tanah dan memicu gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berdampak pada keamanan pangan.

Kerugian Ekonomi bagi Petani

Kekurangan air memaksa petani meningkatkan biaya produksi, misalnya untuk pompanisasi air tanah atau sungai. Meskipun teknik tertentu seperti sistem gogorancah dapat memberikan hasil lebih baik, biaya penyiangannya dapat meningkat hingga 23% dari total kebutuhan tenaga kerja.

Solusi Kekurangan Air pada Pertanian

Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan tindakan kultur teknis dan konservasi lahan yang tepat agar lahan tetap produktif.

Konservasi dan Pengelolaan Sumber Air Berbasis DAS

Konservasi air bertujuan meningkatkan resapan air dan memelihara kesuburan tanah melalui pembuatan embung, sumur resapan, serta pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hulu hingga hilir guna menjaga fungsi hidrologi. Penggunaan mulsa dan penambahan bahan organik juga direkomendasikan untuk mengawetkan lengas tanah.

Penerapan Teknologi Irigasi Efisien dan Pengairan Berselang

Teknologi pengairan berselang (intermittent) pada tanaman padi terbukti dapat menghemat air irigasi sehingga areal yang diairi bisa lebih luas. Sistem ini juga memberi kesempatan akar mendapatkan udara yang cukup dan mencegah keracunan besi pada tanah.

Pemilihan Varietas Unggul Genjah dan Tahan Kekeringan

Penggunaan varietas berumur genjah atau pendek sangat membantu tanaman terhindar dari risiko kekeringan pada akhir musim kemarau. Contohnya, varietas Gajah atau Pelanduk untuk kacang tanah dan Merak untuk kacang hijau sangat disarankan karena sifatnya yang toleran terhadap lahan kering.

Peran Petani dan Pemerintah dalam Mengatasi Kekurangan Air

Edukasi dan Pelatihan Konservasi Air

Penyebarluasan informasi teknologi hasil penelitian sangat penting bagi petani untuk meningkatkan profesionalisme dan pendapatan mereka. Pelatihan mengenai teknik tanam pindah (transplanting) pada jagung, misalnya, dapat mempercepat waktu panen 14-22 hari dan mengurangi risiko kegagalan akibat kekurangan air di fase generatif.

Kebijakan Dukungan Pengelolaan Air Berkelanjutan

Pemerintah berperan penting dalam memberikan perlindungan ketat terhadap daerah resapan air dan mencegah alih fungsi lahan subur. Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti perbaikan jaringan irigasi dan penyediaan pompa air menjadi kunci keberhasilan mitigasi kekeringan.

Kesimpulan

Kekurangan air merupakan tantangan serius yang mengganggu proses fisiologis tanaman, ekosistem, dan ekonomi petani. Melalui sinergi teknik konservasi air, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta kebijakan pemerintah yang mendukung infrastruktur air, sektor pertanian dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi risiko perubahan iklim di masa depan.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Pertanian Berkelanjutan: Strategi Produksi Pangan untuk Masa Depan