Konten dari Pengguna

Kualitas Air dalam Pertanian: Dampak dan Pentingnya bagi Pertanian Berkelanjutan

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penyiraman air yang berkualits. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyiraman air yang berkualits. Foto: Pexels

Kualitas air merupakan faktor sentral dalam keberhasilan pertanian karena sektor ini menyerap sekitar 70% dari air bersih yang tersedia di alam. Air irigasi harus memenuhi standar kualitas tertentu agar tanaman dapat tumbuh optimal dan produk yang dihasilkan aman dikonsumsi. Di sisi lain, aktivitas pertanian yang kurang bijaksana dapat menurunkan kualitas air di sekitarnya maupun daerah hilir, yang pada akhirnya mengancam keberlanjutan sektor pertanian itu sendiri.

Pentingnya Kualitas Air untuk Pertanian

Kualitas air mengacu pada kondisi fisik, kimia, dan biologi air yang menentukan kelayakannya untuk mendukung kehidupan organisme dan pertumbuhan tanaman. Menurut Ir. I Ketut Irianto M.Si dalam Artikel Pertanian Berkelanjutan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berjudul Kualitas Air Menuju Pertanian Berkelanjutan, keberlanjutan pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Tanaman memerlukan air dalam proses fotosintesis, sehingga air yang memenuhi standar akan meningkatkan produktivitas serta menjaga kesehatan lahan. Saat ini, peningkatan kebutuhan pangan dunia telah memacu kebutuhan air yang meningkat hingga 6 kali lipat sejak tahun 1900-an, menjadikan pengelolaan kualitas air sebagai isu strategis global.

Faktor Penentu Kualitas Air di Sektor Pertanian

Kualitas air sangat dipengaruhi oleh tujuan penggunaannya dan persepsi masyarakat mengenai taraf kualitas yang aman bagi kesehatan serta lingkungan.

Sumber dan Jenis Air untuk Irigasi

Sumber daya air utama bagi pertanian meliputi air permukaan (sungai, danau, estuaria) dan air bawah tanah. Air bersih di bumi sebagian besar (>99%) berupa air bawah tanah, sementara air permukaan hanya mencakup sebagian kecil (<1%). Di Indonesia, air yang layak untuk irigasi digolongkan ke dalam kelas 2 hingga 4 berdasarkan peruntukannya.

Parameter Fisika, Kimia, dan Biologi

Penentuan kualitas air dilakukan menggunakan berbagai indikator:

  • Indikator Fisika: meliputi suhu, kekeruhan, dan sedimentasi.

  • Indikator Kimia: meliputi tingkat keasaman (pH), salinitas, kandungan oksigen, nitrogen, fosfor, serta keberadaan logam berat atau pestisida.

  • Indikator Biologi: meliputi keberadaan bakteri patogen, spesies indikator akuatik, dan keragaman hayati komunitas biologi.

Dampak Pertanian terhadap Kualitas Air

Aktivitas pertanian modern sering kali memodifikasi ekosistem alami untuk mengoptimasi produksi, yang tanpa disadari dapat memberikan tekanan pada kualitas lingkungan.

Polusi Air dari Aktivitas Pertanian

Pencemaran air di lahan pertanian sering kali disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia dan pestisida dengan dosis tinggi yang melampaui kemampuan serap tanaman. Unsur hara seperti nitrat dari pupuk dapat tercuci (leaching) masuk ke air bawah tanah atau terbawa aliran permukaan menuju sungai. Selain itu, erosi akibat pengolahan tanah yang kurang tepat meningkatkan suspensi sedimen yang menyebabkan kekeruhan pada badan air.

Dampak Jangka Panjang bagi Ekosistem

Penurunan kualitas air secara berkelanjutan dapat memicu eutrofikasi akibat akumulasi nitrogen dan fosfor, yang membahayakan kehidupan akuatik. Dalam jangka panjang, polusi ini menurunkan keamanan pangan dan membahayakan kesehatan manusia melalui kontaminasi zat beracun seperti nitrit yang dapat menyebabkan blue baby syndrome atau kanker.

Pertanian Berkelanjutan dan Upaya Menjaga Kualitas Air

Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai sistem terintegrasi yang mampu menyediakan kebutuhan pangan tanpa merusak lingkungan, secara ekonomi menguntungkan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Praktik-Praktik Pertanian Ramah Lingkungan

Beberapa langkah efektif yang disarankan dalam menjaga kualitas air meliputi:

  1. Penerapan teknik olah tanah konservasi dan penanaman tanaman penutup tanah untuk mengurangi erosi.

  2. Rotasi tanaman dengan rumput untuk memperbaiki struktur tanah dan mengontrol hama.

  3. Penggunaan pupuk slow release dan pemupukan tepat guna untuk mencegah pencemaran hara.

  4. Sistem Pengendalian Hama secara Terpadu (PHT) guna meminimalisir penggunaan bahan kimia sintetis.

Kebijakan & Regulasi untuk Kualitas Air

Pemerintah memegang peran kunci melalui rancangan regulasi seperti Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 di Indonesia untuk mengendalikan pencemaran air. Selain regulasi, program insentif bagi petani yang berhasil menjaga tingkat polusi terendah juga penting untuk merangsang pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Kesimpulan

Kualitas air merupakan bagian integral dari kualitas lingkungan yang secara sinergis menentukan keberlanjutan pertanian. Pertanian berkelanjutan harus mampu mengakomodasi aspek ekologi, sosial, dan ekonomi secara bersamaan. Kerja sama antara individu, kelompok masyarakat, dan pemerintah dalam melindungi sumber daya air adalah kunci utama untuk menjamin ketersediaan pangan yang aman bagi generasi mendatang.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Pertanian Berkelanjutan: Strategi Produksi Pangan untuk Masa Depan