Konten dari Pengguna

Lebih Dekat dengan Jengkol: Asal-Usul dan Karakteristik Tanaman

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buah jengkol. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buah jengkol. Foto: Pixabay

Jengkol merpakan salah satu tanaman lokal yang populer di Indonesia, khususnya sebagai sumber protein nabati dari kelompok kacang-kacangan. Tanaman ini memiliki ciri khas pada rasa dan aroma bijinya yang kuat, serta peran penting dalam tradisi kuliner masyarakat.

Mengenal Jengkol

Jengkol dikenal dengan nama ilmiah Pithecellobium jiringa dan tergolong ke dalam famili Fabaceae atau suku polong-polongan. Merujuk Tri Cahyanto dkk. dalam Prosiding Seminar Nasional PMEI V Tahun 2020 berjudul Kajian Etnobotani Tanaman Jengkol (Pithecellobium jiringa) di Desa Cimanggu Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur, tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun penambah cita rasa dalam berbagai hidangan tradisional. Selain itu, jengkol juga dikenal dengan berbagai nama daerah seperti jariang (Minangkabau), jering (Batak), joring (Karo), jingkol (Jawa), hingga lubi di Sulawesi Utara.

Asal Usul dan Persebaran Jengkol

Tanaman jengkol berasal dari kawasan Asia Tenggara, dengan persebaran meluas ke wilayah Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, hingga Brunei Darussalam. Di Indonesia, daerah pemasok utamanya meliputi Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat. Jengkol tumbuh subur di dataran rendah hingga menengah beriklim tropis. Tanaman ini dapat tumbuh baik di dataran tinggi maupun rendah, namun membutuhkan penyinaran matahari yang tinggi sepanjang hari serta pasokan air dan kelembapan yang cukup.

Morfologi Tanaman Jengkol

Jengkol memiliki identitas morfologi fisik yang khas dibandingkan jenis polong-polongan lainnya. Berdasarkan penjelasan Ayu Khairun Nissa dkk. dalam Jurnal Agroteknologi Vol. 6 No. 1 berjudul Eksplorasi dan Karakterisasi Morfologi Tanaman Jengkol (Pithecellobium jiringa) di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, tinggi pohon jengkol dapat mencapai 20 meter dengan sistem percabangan simpodial.

Karakteristik Daun Jengkol

Daun jengkol merupakan daun majemuk dengan anak daun yang tersusun saling berhadapan. Daun ini memiliki panjang sekitar 10-20 cm dan lebar 5-15 cm, dengan ciri ujung yang runcing, pangkal membulat, serta tepi daun rata. Warnanya hijau tua dengan pertulangan menyirip dan tangkai daun sepanjang 0,5-1,0 cm.

Ciri-ciri Batang dan Akar Jengkol

Batang jengkol bersifat kayu, berbentuk bulat tegak, dan berwarna cokelat kotor dengan tekstur permukaan yang licin. Sistem perakarannya adalah akar tunggang yang berwarna cokelat kotor. Merujuk Andi Sukendro dan Yurico Bakhri dalam Jurnal ForestrIndo Vol. 2 No. 2 berjudul Respon Pertumbuhan Tanaman Jengkol dan Nangka terhadap Pemupukan di Blok Garung Taman Nasional Gunung Halimun Salak, pertumbuhan batang dan diameter tanaman ini diketahui sangat dipengaruhi oleh faktor nutrisi, di mana penggunaan pupuk organik seperti ekoenzim dengan konsentrasi 10 ml/L terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter batang.

Bentuk Buah dan Biji Jengkol

Buah jengkol berbentuk polong yang pipih dan berbelit. Menurut Aprizal Zainal dkk. dalam Laporan Akhir Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Andalas 2017 berjudul Fenologi Perkecambahan Jengkol (Pithecellobium jiringa), tipe perkecambahan benih jengkol adalah hipogeal. Terdapat variasi lokal seperti jengkol bareh yang memiliki buah lebih tebal dan tekstur renyah, serta jengkol kabau yang lebih pipih dengan tekstur agak liat. Biji jengkol mengandung asam jengkolat yang jika dikonsumsi berlebihan dapat membentuk kristal dalam urin dan menyebabkan gangguan kesehatan yang dikenal sebagai "kejengkolan".

Manfaat dan Peran Jengkol

Selain sebagai sumber pangan dan kuliner adat seperti semur jengkol pada tradisi Betawi atau rendang jengkol di Sumatra Barat. Tanaman ini juga berfungsi sebagai tanaman konservasi karena kemampuannya menyerap air untuk mencegah banjir. Di bidang medis, daunnya digunakan sebagai obat diabetes, sementara kulit buahnya dapat dimanfaatkan sebagai herbisida alami dan pupuk organik.

Kesimpulan

Morfologi dan asal jengkol menjadi dasar penting untuk mengenal tanaman Pithecellobium jiringa lebih dekat. Selain memiliki karakter fisik yang unik dan variasi genetik yang kaya, jengkol memegang peran strategis dalam aspek ekologi, ekonomi, hingga budaya masyarakat Indonesia.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi