Membedah Potensi Produksi Bit Merah di Dataran Rendah: Varietas Apa yang Unggul?
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bit merah merupakan tanaman umbi-umbian yang memiliki banyak manfaat dalam bidang pangan, kesehatan, dan kosmetik. Selain warna merah ungu khas yang berasal dari kandungan betasianin sebagai antioksidan , bit merah juga menawarkan peluang ekonomi tinggi karena permintaan di Indonesia yang terus meningkat.
Pengenalan Tanaman Bit Merah
Tanaman bit merah (Beta vulgaris L.) termasuk dalam kelompok hortikultura yang secara alami merupakan tanaman subtropis. Namun, keterbatasan lahan dataran tinggi memicu pengembangan budidaya di dataran rendah sebagai solusi. Menurut Widi Astuti dkk. dalam Jurnal Produksi Tanaman Vol. 9 No. 5 berjudul Fenologi dan Penampilan Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) di Dataran Rendah, tanaman ini memiliki potensi adaptasi di wilayah dataran rendah meskipun suhu udara rata-rata mencapai 28-30 derajat celcius.
Asal Usul Bit Merah
Tanaman bit merah berasal dari wilayah introduksi yang spesifik dan telah menyebar ke berbagai wilayah tropis.
Sejarah dan Domestikasi Bit Merah
Secara historis, bit merah berasal dari wilayah Mediterania dan Afrika Utara. Tanaman ini berasal dari famili Chenopodiaceae. Sebagai tanaman subtropis, pertumbuhan maksimalnya biasanya memerlukan suhu udara sejuk berkisar 15-25 derajat celcius.
Persebaran Bit Merah di Indonesia
Di Indonesia, budidaya bit merah umumnya dilakukan di dataran tinggi karena sifat aslinya yang subtropis. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa bit merah kini mulai dikembangkan di dataran rendah seperti di Agro Techno Park Universitas Brawijaya, Malang, untuk memenuhi permintaan pasar yang melonjak hingga 83,25% sejak tahun 2010.
Morfologi Bit Merah
Penampilan tanaman bit merah sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan respon terhadap kondisi lingkungan.
Ciri-ciri Fisik Tanaman Bit Merah
Berdasarkan pengamatan Widi Astuti dkk., ciri fisik bit merah meliputi:
Warna Daun: varietas Boro memiliki daun berwarna hijau, sedangkan varietas Vikima memiliki kombinasi warna hijau dan merah.
Warna Umbi: kulit umbi berwarna coklat dengan daging umbi berwarna ungu kemerahan akibat kandungan betasianin.
Bentuk Umbi: ujung umbi berbentuk bulat dengan bentuk membujur yang masuk kategori circular atau transverse medium elliptic.
Struktur dan Bagian-bagian Tanaman Bit Merah
Tanaman bit merah memiliki batang pendek dengan akar tunggang yang akan berkembang menjadi umbi. Daun tumbuh membentuk roset yang berfungsi sebagai tempat fotosintesis. Pada fase perkecambahan, tanaman ini memiliki hipokotil berwarna merah yang mengandung antosianin.
Fenologi Bit Merah di Dataran Rendah
Pertumbuhan di dataran rendah mengubah siklus hidup tanaman secara spontan. Tahapan fenologinya adalah:
Perkecambahan: berlangsung lebih cepat (4-5 hari) karena suhu tinggi mempercepat laju respirasi benih.
Pembentukan Daun: memerlukan waktu 14-16 hari.
Perkembangan Umbi: muncul pada usia 41-45 hari.
Panen: Umbi mencapai ukuran siap panen (diameter 50-75 mm) pada hari ke-86.
Kesimpulan
Bit merah adalah tanaman subtropis yang adaptif dan bernilai ekonomi tinggi. Meski terdapat perbedaan fenologi di dataran rendah akibat suhu ekstrem, varietas seperti Boro terbukti mampu menghasilkan performa lebih baik dengan berat umbi rata-rata 68,5 gram dibandingkan Vikima. Keberhasilan budidaya di dataran rendah memberikan peluang besar untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri di masa depan.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi