Mengenal Terong Belanda atau Tamarillo: Karakteristik Lengkap
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terong belanda termasuk dalam kelompok tanaman hortikultura, khususnya buah-buahan yang banyak dibudidayakan untuk konsumsi segar dan olahan seperti selai, jus, dan sirup. Tanaman ini memiliki nilai ekonomi dan sosial yang penting karena kaya akan gizi, termasuk vitamin C untuk daya tahan tubuh serta mineral seperti kalium, fosfor, dan magnesium. Artikel ini akan membahas morfologi dan asal terong belanda, serta karakteristik spesifik yang membedakannya dari tanaman buah lain.
Sekilas Tentang Terong Belanda
Menurut Fadjry Djufry dkk. dalam Bul. Plasma Nutfah Vol. 22 No. 2 berjudul Karakterisasi Tanaman Tamarillo di Sulawesi Selatan, terong belanda atau tamarillo merupakan tanaman dataran tinggi yang telah berkembang di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Toraja. Tanaman ini memiliki prospek pasar yang cerah, terutama untuk menyuplai kebutuhan hotel dan diminati oleh turis karena kandungan vitaminnya yang tinggi.
Definisi dan Nama Ilmiah Tamarillo
Tamarillo merupakan sebutan internasional untuk terong belanda. Nama ilmiahnya adalah Solanum betaceum (sebelumnya dikenal sebagai Cyphomandra betacea), yang menegaskan posisinya dalam keluarga terong-terongan.
Klasifikasi Botani Tanaman Terong Belanda
Terong belanda masuk dalam famili Solanaceae, genus Cyphomandra. Klasifikasi ini menempatkannya satu keluarga dengan tanaman pangan penting lainnya seperti tomat, kentang, cabai, dan lada.
Morfologi Tanaman Terong Belanda
Tanaman terong belanda memiliki ciri morfologi yang khas dan unik. Bagian generatifnya, seperti bunga, biasanya berwarna keunguan dengan lima buah benang sari.
Ciri-ciri Daun, Batang, dan Akar
Tanaman ini memiliki batang tegak berbentuk bulat dengan tinggi berkisar antara 2 hingga 5 meter. Daunnya berwarna hijau tua, bertipe datar, memiliki permukaan yang licin, dan tumbuh menghadap ke atas. Secara spesifik, bentuk daunnya adalah cordate (berbentuk hati) dengan tepi daun yang bergelombang (undulate/undate).
Bentuk dan Karakteristik Buah Terong Belanda
Buah terong belanda berbentuk bulat lonjong menyerupai telur dengan tekstur kulit yang halus. Saat mentah, buah berwarna hijau bergaris, dan berubah menjadi merah kecokelatan saat matang. Rasa daging buahnya adalah perpaduan asam manis yang khas dengan tekstur halus berserat.
Perbedaan Morfologi Berdasarkan Varietas Lokal
Secara umum terdapat tiga tipe utama tamarillo berdasarkan warna kulitnya: merah (red skin), kuning (yellow skin), dan ungu (purple skin).
Varietas Merah: Memiliki kandungan antosianin yang lebih tinggi dibandingkan tipe lainnya. Warna kulitnya lebih pekat dan sering digunakan sebagai pewarna alami makanan.
Varietas Oranye (Kuning): Memiliki kandungan antosianin yang lebih rendah dibandingkan tipe merah. Teksturnya sering kali dianggap lebih lembut dan rasanya cenderung lebih ringan.
Asal Usul dan Penyebaran Terong Belanda
Tanaman ini bukan merupakan flora asli Indonesia, melainkan hasil introduksi yang kemudian beradaptasi sangat baik di wilayah pegunungan Nusantara.
Asal Geografis Tanaman Tamarillo
Asal-usul terong belanda diperkirakan berasal dari wilayah pegunungan Andes di Amerika Selatan, tepatnya dari negara Peru, Ekuador, dan Kolombia. Tanaman ini tumbuh di ketinggian di atas 5.000 kaki sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia.
Penyebaran dan Adaptasi di Sulawesi Selatan
Di Indonesia, tanaman ini pertama kali dibawa oleh orang Belanda pada tahun 1941 dan ditanam di Bogor. Di Sulawesi Selatan, tanaman ini menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja, tumbuh optimal pada ketinggian 1.000 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut.
Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Pertumbuhan terong belanda sangat dipengaruhi oleh suhu udara yang sejuk (berkisar 18-22 derajat celcius), kelembapan yang cukup, serta kondisi hara tanah yang tinggi dengan sistem drainase yang baik. Tanaman ini sensitif terhadap angin kencang karena daunnya yang lebar mudah rusak.
Studi Karakterisasi Terong Belanda di Sulawesi Selatan
Kajian morfologi dan genetik sangat penting untuk pengembangan varietas unggul di masa depan.
Temuan dari Penelitian Fadjry Djufry
Penelitian menunjukkan adanya keragaman genetik di Sulawesi Selatan. Misalnya, kultivar Sangalla dan Kantun Poya memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat, sementara kultivar Sapan dan Kantun Poya memiliki hubungan kekerabatan yang jauh dengan sifat genetik yang berbeda.
Implikasi Karakter Morfologi untuk Budidaya
Data karakterisasi ini menjadi modal penting dalam program pemuliaan dan pelepasan varietas. Pemahaman morfologi membantu petani mengidentifikasi varietas yang memiliki produksi tinggi (rata-rata 10-15 kg per pohon per tahun) dan kualitas buah yang sesuai dengan keinginan pasar industri.
Kesimpulan
Morfologi dan asal terong belanda menjadi landasan penting dalam pengembangan budidaya tanaman ini di Indonesia. Penelitian karakterisasi membuktikan bahwa faktor lingkungan dan perbedaan kultivar mempengaruhi bentuk, ukuran, serta kandungan gizi buah. Dengan pemahaman yang mendalam, potensi ekonomi tamarillo sebagai bahan pangan bergizi tinggi dan komoditas industri dapat terus dioptimalkan.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Panduan Lengkap Budi Daya Buah Lokal dari Kebun hingga Pasar