Menggali Potensi Talas: Teknik Tanam Tepat untuk Hasil Umbi Berkualitas Super
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Talas merupakan komoditas pangan penting yang kian diminati sebagai sumber karbohidrat sehat. Di Indonesia, jenis yang populer dibudidayakan meliputi Colocasia esculenta seperti Talas Bogor, Bentul, dan Taiwan; serta Talas Beneng (Xanthosoma undipes). Artikel ini akan mengulas panduan budi daya kedua jenis tersebut untuk hasil produksi yang maksimal.
Mengenal Morfologi Tanaman Talas
Secara morfologi, talas dibedakan berdasarkan letak tangkai daun dan bentuk umbinya. Merujuk pada Haifa Azzahra dkk. dalam Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 2 No.3 berjudul Teknik Budidaya Tanaman Talas (Colocasia esculenta Scho) sebagai Upaya Peningkatan Hasil Produksi Talas Di Desa Situgede, varietas Colocasia esculenta seperti Talas Taiwan memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit, sementara Talas Bentul unggul dalam kualitas rasa.
Ciri-ciri Umum Talas
Talas Colocasia umumnya memiliki ciri khas berupa "peltate" atau tangkai daun menempel di bagian tengah helai daun, sedangkan jenis Xanthosoma (Beneng) memiliki tangkai daun di tepi pangkal daun. Daunnya lebar berbentuk hati dengan lapisan lilin yang berfungsi sebagai proteksi alami.
Struktur Akar, Batang, dan Daun Talas
Sistem perakaran talas bersifat serabut dan dangkal. Batang talas sebenarnya adalah umbi batang yang tersimpan di dalam tanah, sementara bagian yang muncul di permukaan adalah kumpulan pelepah daun yang membentuk batang semu. Tinggi tanaman bervariasi, pada talas Colocasia biasanya mencapai 0,5–1,5 meter, jauh lebih kecil dibanding Beneng.
Perbedaan Morfologi pada Varietas Beneng
Berdasarkan buku Petunjuk Teknis Budidaya dan Pengolahan Talas Varietas Beneng oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten, varietas ini memiliki ukuran yang "raksasa". Umbinya berwarna kuning cerah di bagian dalam dan dapat tumbuh hingga panjang 1,2 meter, dengan daun yang jauh lebih lebar dan bergelombang di bagian tepi dibandingkan talas biasa.
Panduan Budi Daya Talas
Syarat Tumbuh Ideal Talas
Talas tumbuh optimal di tanah yang lembab dan kaya bahan organik (Latosol). Uniknya, talas Beneng sangat adaptif dan mampu tumbuh baik di bawah naungan hingga 60%, sehingga cocok untuk sistem tumpang sari di lahan hutan. Sebaliknya, talas Colocasia cenderung lebih menyukai lahan terbuka dengan penyinaran penuh untuk pembentukan umbi yang padat.
Langkah-langkah Penanaman Talas
Persiapan bibit dapat menggunakan umbi kecil, huli (pangkal batang), atau anakan. Pengaturan jarak tanam sangat krusial; jarak yang terlalu rapat dapat menurunkan diameter umbi karena kompetisi hara. Jarak ideal adalah sekitar 1 meter antar lubang tanam dengan pemberian pupuk organik dasar sebanyak 5 ton/ha.
Pemeliharaan dan Pengendalian Hama
Masalah utama pada talas adalah serangan ulat daun (Hippotion calerino) dan belalang (Oxya sp.) yang merusak fotosintesis. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi lahan atau penggunaan agens hayati. Pemupukan susulan menggunakan NPK dilakukan pada umur 3 dan 6 bulan untuk memacu pembesaran umbi.
Tips Panen dan Pengolahan Talas
Waktu dan Cara Panen yang Tepat
Masa panen talas Colocasia umumnya lebih singkat, yakni 6–9 bulan, sedangkan Talas Beneng membutuhkan waktu 8–12 bulan untuk mencapai ukuran maksimal. Tanda siap panen adalah menguningnya daun tua dan layunya pelepah. Pemanenan dilakukan dengan menggali tanah perlahan agar umbi tidak terluka atau lecet, karena luka pada umbi memicu pembusukan cepat oleh jamur.
Proses Pengolahan Talas Beneng dan Colocasia
Talas Colocasia populer sebagai bahan konsumsi segar dengan dikukus atau digoreng. Sementara itu, Talas Beneng memiliki nilai ekonomi ganda yaitu umbinya diproses menjadi tepung (melalui perendaman air garam untuk menghilangkan kalsium oksalat), dan daunnya dirajang serta dikeringkan untuk diekspor sebagai bahan baku rokok herbal.
Kesimpulan
Baik Colocasia maupun Beneng memiliki potensi pasar yang besar. Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan dan penerapan teknik budi daya yang tepat mulai dari pemupukan hingga pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi