Konten dari Pengguna

Menghadang Krisis Petani: Strategi Mewujudkan Regenerasi Petani di Indonesia

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi krisis petani dan lahan pertanian. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi krisis petani dan lahan pertanian. Foto: Pixabay

Krisis petani di Indonesia semakin terasa seiring perubahan zaman dan dinamika ekonomi. Banyak faktor yang menyebabkan profesi petani mengalami penurunan minat, mulai dari citra sektor pertanian yang kurang bergengsi hingga tantangan besar dari sisi kesejahteraan akibat pendapatan yang tidak memadai. Fenomena ini menjadi perhatian utama karena menyangkut keberlanjutan ketahanan pangan nasional di masa depan.

Krisis Petani di Indonesia

Situasi petani di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tekanan berat, mulai dari persoalan regenerasi yang lambat hingga dominasi petani berusia tua atau fenomena aging farmer.

Menurut Rillando Maranansha Noor dan Endan Suwandana dalam Jurnal Litbang Sukowati: Media Penelitian dan Pengembangan berjudul Ancaman Krisis Petani di Indonesia Berdasarkan Hasil Sensus Pertanian 2023, isu krisis petani bukan sekadar persoalan jumlah, tetapi juga melibatkan aspek ekonomi dan sosial yang kompleks, di mana rendahnya jumlah petani milenial menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan produksi pangan.

Penyebab Krisis Petani Berdasarkan Sensus Pertanian 2023

Berbagai hasil Sensus Pertanian 2023 memperlihatkan gambaran nyata mengenai ancaman krisis petani melalui data penurunan jumlah usaha tani dan profil usia pengelolanya.

Penurunan Jumlah Petani

Data terbaru menunjukkan tren penurunan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) dari 31,70 juta pada tahun 2013 menjadi 29,34 juta usaha pada tahun 2023. Penurunan ini disebabkan oleh faktor penuaan petani dan kurangnya minat generasi muda untuk menggantikan mereka.

Alih Fungsi Lahan Pertanian

Selain faktor demografi, konversi lahan produktif menjadi kawasan non-pertanian juga menjadi tantangan besar. Perubahan fungsi lahan ini berdampak langsung pada berkurangnya area tanam dan mengancam produktivitas nasional.

Kurangnya Regenerasi Petani

Regenerasi berjalan sangat lambat karena hampir 40% petani saat ini berusia di atas 55 tahun, sementara generasi milenial (usia 19-39 tahun) hanya mencakup sekitar 21% dari total petani.

Sebagaimana dijelaskan oleh Eri Yusnita Arvianti dkk. dalam Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian berjudul Gambaran Krisis Petani Muda di Indonesia, anak muda cenderung selektif dan enggan bekerja di perdesaan karena ketidakcocokan antara tingkat pendidikan mereka dengan ketersediaan pekerjaan di sektor pertanian yang masih dianggap tradisional.

Solusi Mengatasi Krisis Petani

Strategi komprehensif diperlukan agar krisis ini dapat diatasi melalui kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan dan modernisasi.

  • Mendorong Regenerasi Petani Muda: pemerintah perlu memberikan insentif, stabilitas pendapatan, serta peningkatan infrastruktur untuk menarik minat generasi muda. Penguatan pendidikan vokasional dan adopsi teknologi modern sangat penting, mengingat lulusan pendidikan tinggi cenderung menjauhi sektor ini karena dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi.

  • Perlindungan Lahan Pertanian: penegakan regulasi untuk melindungi lahan pertanian dari alih fungsi harus diperketat. Pengelolaan sumber daya alam dan kelembagaan yang baik menjadi kunci keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan.

  • Dukungan Kebijakan dan Inovasi: kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan untuk memberikan pendampingan teknologi dan fasilitas pemasaran. Buletin APBN Pusat Kajian Anggaran DPR RI menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk meningkatkan daya tawar petani, mengingat Nilai Tukar Petani (NTP) yang sering kali rendah menunjukkan keuntungan petani masih sangat tipis.

Kesimpulan

Krisis petani di Indonesia berkaitan erat dengan fenomena penuaan petani, alih fungsi lahan, dan rendahnya minat generasi muda untuk beregenerasi. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan langkah strategis seperti stabilitas pendapatan, perlindungan lahan, serta kebijakan yang mendorong terciptanya "petani milenial".

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Panduan Lengkap Budi Daya Buah Lokal dari Kebun hingga Pasar