Mengolah Pahit Menjadi Peluang: Morfologi dan Strategi Budi Daya Tanaman Pare
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pare dikenal luas sebagai tanaman sayuran yang sering digunakan dalam berbagai masakan tradisional. Rasanya yang pahit justru menjadi daya tarik tersendiri, selain kandungan gizinya yang sangat baik karena banyak mengandung vitamin. Artikel ini membahas morfologi pare, teknik budi daya, hingga manfaatnya bagi masyarakat.
Pengenalan Pare
Pare atau paria adalah tanaman merambat dari suku Cucurbitaceae (labu-labuan) yang tumbuh subur di daerah tropis tanpa tergantung musim. Di Indonesia, pare memiliki berbagai nama daerah seperti peria (Melayu), paita (Sumba), hingga papari (Ternate). Meskipun dikenal karena rasa pahitnya yang ekstrem, pare memiliki potensi komersial tinggi jika dibudidayakan dalam skala agribisnis.
Morfologi Pare
Ciri-ciri Tanaman Pare
Pare merupakan tanaman setahun yang tumbuh memanjang dan merambat. Secara visual, tanaman ini mudah dikenali dari batang berusuk lima dan buahnya yang memiliki bintil-bintil halus tidak beraturan pada permukaannya.
Bagian-bagian Tanaman Pare
Setiap bagian tanaman memiliki karakteristik spesifik berdasarkan pengamatan morfologi:
Batang: Berwarna hijau, beruas-ruas, dan memiliki panjang mencapai 2-3 meter.
Daun: Berbentuk menjari dengan panjang sekitar 10–20 cm dan lebar mencapai 16 cm.
Bunga: Memiliki dua jenis kelamin; bunga jantan berwarna kuning menyala dengan 5 kelopak, sedangkan bunga betina memiliki bakal buah berwarna hijau dan 2–4 kelopak.
Akar: Terdiri dari dua jenis, yaitu akar tunggang dan akar serabut.
Buah & Biji: Buah berbentuk bulat lonjong (ukuran 18-27 cm), sedangkan bijinya berbentuk kotak agak lonjong berwarna cokelat yang diselimuti selaput merah saat sudah tua.
Budi Daya Tanaman Pare
Syarat Tumbuh
Pare memiliki daya adaptasi yang tinggi dan mudah dibudidayakan. Untuk hasil optimal, pare membutuhkan kondisi lingkungan sebagai berikut:
Suhu Tanah: Sekitar 35 derajat celcius
pH Tanah: Ideal pada tingkat keasaman 5.
Kelembapan Tanah: Sekitar 75%.
Substrat Tanah: Tipe tanah gembur dengan kondisi nutrisi yang baik.
Persiapan Lahan dan Penanaman
Lahan harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dibuat lubang tanam untuk memasukkan biji pare. Pada hari ke-7 setelah tanam, benih biasanya sudah mulai berkecambah.
Perawatan Tanaman
Perawatan melibatkan pengendalian kelembapan, terutama pada musim hujan karena air yang terlalu banyak dapat menyebabkan pare membusuk dan mati. Untuk mencegah jamur akibat air hujan yang bersifat asam, petani dapat membuat bedengan yang tinggi dan memberikan nutrisi tambahan berupa unsur fosfat, kalium, boron, serta kalsium untuk memperkuat jaringan tanaman.
Pemanenan
Pare yang sudah mencukupi umur 2 bulan dinyatakan layak untuk dipanen dan dikonsumsi sebagai bahan pangan.
Manfaat Pare bagi Masyarakat
Menurut Cindy Claudia Oktavia Situmorang dan Rosmidah Hasibuan dalam jurnal Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 11 No. 1 berjudul Karakteristik Tumbuhan Pare (Momordica charantia L.) yang Berhasil Dimanfaatkan Sebagai Bahan Pangan di Desa Tebing Linggahara Kabupaten Labuhanbatu, selain dikonsumsi sebagai sayuran segar, masyarakat di Desa Tebing Linggahara telah berhasil mengolah pare menjadi keripik pare. Inovasi ini bertujuan untuk menghilangkan rasa pahit, memperpanjang daya awet (shelf life), dan meningkatkan nilai ekonomi produk di pasar modern hingga internasional. Secara medis, kandungan nutrisi pare sangat baik bagi tubuh dan sering digunakan sebagai tanaman obat.
Kesimpulan
Tanaman pare memiliki karakteristik morfologi yang khas dan sangat mudah dibudidayakan pada tanah gembur dengan pemeliharaan yang tepat. Meskipun dikenal memiliki rasa yang sangat pahit, kandungan nutrisinya yang tinggi membuat pare berhasil dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Tebing Linggahara sebagai bahan pangan inovatif seperti keripik. Inovasi pengolahan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi serta daya terima masyarakat terhadap pare di pasar yang lebih luas.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Panduan Lengkap Budi Daya Buah Lokal dari Kebun hingga Pasar