Konten dari Pengguna

Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Pertanian Berkelanjutan

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Pertanian Berkelanjutan
zoom-in-whitePerbesar

Emisi gas rumah kaca menjadi sorotan utama dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Salah satu sektor yang berperan besar dalam menghasilkan emisi ini adalah pertanian, terutama dari proses budi daya berbagai jenis tanaman dan aktivitas peternakan.

Aktivitas manusia yang kurang memperhatikan dampak lingkungan menjadi penyebab utama efek rumah kaca yang berlebihan, sehingga diperlukan langkah mitigasi dan adaptasi yang sinergis. Oleh karena itu, strategi pertanian berkelanjutan terus dikembangkan demi menekan emisi dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Apa Itu Emisi Gas Rumah Kaca?

Definisi dan Jenis Gas Rumah Kaca

Menurut Tri Yudianto dkk. dalam Jurnal Agroteknologi (AGRONU) Vol. 4 No. 1 berjudul Penguatan Konsep Berbasis Pertanian Berkelanjutan di Negara India sebagai Solusi Mengurangi Efek Gas Rumah Kaca (Literature Review), emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian menyumbang sekitar 10-12% dari total emisi global dan diprediksi akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi dunia.

Gas-gas ini, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, memiliki kemampuan menyerap radiasi infra merah yang menyebabkan panas terperangkap di atmosfer bumi.

Dampak Emisi Gas Rumah Kaca terhadap Lingkungan dan Iklim

Kenaikan emisi gas rumah kaca memicu perubahan pola curah hujan, peningkatan frekuensi cuaca ekstrem, dan kenaikan suhu permukaan bumi. Menurut Ifemona Sarofamati Daeli dalam jurnal EnvironC Vol. 1 No. 2 berjudul Strategi mengurangi emisi gas rumah kaca untuk mengatasi konflik global akibat perubahan iklim, dampak ini mencakup kenaikan permukaan laut dan gangguan pada ketahanan pangan yang berpotensi memicu konflik global. Efeknya terasa nyata pada penurunan produktivitas tanaman pangan dan terganggunya keberlangsungan sektor hortikultura serta perkebunan.

Konsep Pertanian Berkelanjutan sebagai Solusi Pengurangan Emisi

Pertanian berkelanjutan hadir sebagai pendekatan untuk mencapai pembangunan yang menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut Tania June dan Yeli Sarvina dalam buku Perdiksi Iklim untuk Ketahahanan Pangan Bab Pertanian Cerdas Iklim Menuju Zero Emission, konsep ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim melalui strategi adaptasi yang tepat.

Prinsip-Prinsip Pertanian Berkelanjutan

Prinsip utama meliputi pengelolaan lahan dan air secara optimal, efisien, dan ilmiah. Hal ini mencakup penerapan pertanian organik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia toksik yang merusak kualitas tanah dan memusnahkan mikroorganisme ramah lingkungan. Selain itu, perlindungan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan sistem irigasi hemat air menjadi pilar penting dalam menjaga ekosistem pertanian.

Praktik-Praktik Pertanian yang Mendukung Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca

Beberapa praktik yang efektif antara lain pertanian konservasi (CA) yang meminimalkan gangguan tanah, retensi residu tanaman sebagai penutup tanah (cover crop), serta rotasi tanaman. Pengurangan pengolahan tanah (zero tillage) juga terbukti menurunkan konsumsi bahan bakar fosil dan emisi karbondioksida. Selain itu, diversifikasi tanaman seperti tumpang sari membantu meningkatkan kesehatan tanah dan mengurangi risiko kegagalan panen akibat perubahan iklim.

Penguatan Pertanian Berkelanjutan di India untuk Mengurangi Emisi

Merujuk Tri Yudianto dkk. dalam Jurnal Agroteknologi (AGRONU) Vol. 4 No. 1 berjudul Penguatan Konsep Berbasis Pertanian Berkelanjutan di Negara India sebagai Solusi Mengurangi Efek Gas Rumah Kaca (Literature Review), India berhasil meningkatkan produktivitas domestik melalui strategi yang mencakup penggunaan bibit unggul, fasilitasi kredit bunga rendah, dan sistem penyuluhan modern. Peralihan dari sistem konvensional ke pertanian organik dan konservasi di India membantu meningkatkan penyerapan karbon di tanah serta menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan.

Pertanian Cerdas Iklim Menuju Zero Emission di Indonesia

Di Indonesia, pendekatan Climate Smart Agriculture (CSA) diterapkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Praktik ini meliputi penggunaan varietas tahan kekeringan, pengelolaan irigasi yang efisien seperti irigasi intermiten, serta pemanfaatan teknologi cerdas iklim untuk mengurangi risiko ekonomi bagi petani pedesaan.

Implikasi dan Rekomendasi Kebijakan

Dibutuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah, edukasi petani, dan dukungan infrastruktur seperti fasilitas penyimpanan serta sistem peringatan dini iklim. Pemerintah juga didorong untuk memberikan insentif bagi petani yang mengadopsi praktik ramah lingkungan guna mengatasi kendala pendanaan dan tantangan implementasi di tingkat lokal.

Kesimpulan

Emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian memerlukan penanganan serius melalui sinergi mitigasi dan adaptasi. Dengan mengadopsi konsep pertanian berkelanjutan dan pertanian cerdas iklim, kita dapat menekan emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga produktivitas tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan demi keberlanjutan lingkungan jangka panjang.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Pertanian Berkelanjutan: Strategi Produksi Pangan untuk Masa Depan