Potensi Kacang Gude: Mengenal Morfologi dan Teknik Budi Daya
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kacang gude (Cajanus cajan L. Millsp.) adalah tanaman kacang-kacangan penting. Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah seperti hiris (Sunda), gude (Jawa), undis (Bali), dan kacang turis (Timor). Artikel ini akan membahas ciri fisik hingga tahapan budi daya.
Morfologi Tanaman Kacang Gude
Morfologi kacang gude menunjukkan adaptasi yang kuat sebagai tanaman perdu berkayu yang mampu hidup lebih dari setahun pada varietas tertentu.
Ciri-ciri Fisik Kacang Gude
Tanaman kacang gude tumbuh sebagai perdu dengan ketinggian yang bervariasi. Jenis lokal yang berumur panjang dapat mencapai tinggi 4 meter, sementara varietas genjah berkisar antara 0,7 hingga 1,5 meter. Menurut Suwasik Karsono dan Sumarno dalam buku Kacang Gude, tipe pertumbuhan tanaman ini berkisar dari tegak dengan sudut percabangan 30° hingga tipe menyebar dengan sudut 60°.
Struktur Daun, Batang, dan Akar
Daun kacang gude bertangkai pendek, terdiri dari tiga anak daun (trifoliolat), dan disusun secara spiral pada batang. Batangnya berkayu, banyak bercabang, dan pada varietas lokal yang besar, diameter batangnya dapat mencapai 5 cm. Sistem perakarannya dikenal sangat kuat, memungkinkannya bertahan di daerah beriklim kering dengan curah hujan rendah antara 600-1000 mm per tahun.
Karakteristik Biji dan Polong
Polong kacang gude memiliki panjang hingga 10 cm, terkadang berambut, dan mengandung 2 sampai 9 biji. Warna polong bervariasi dari hijau, cokelat, hingga ungu gelap dengan permukaan yang tampak berlilin sebelum masak. Warna biji kacang gude sangat beragam, mulai dari putih, cokelat, merah, hingga ungu, dengan berat berkisar antara 6 sampai 28 gram per 100 biji kering.
Panduan Budi Daya Kacang Gude
Budi daya kacang gude di Indonesia umumnya dilakukan di lahan kering secara campuran atau tumpang sari, bukan monokultur, pada pematang sawah atau lahan tegalan.
Persiapan Lahan
Kacang gude sangat cocok ditanam di lahan kering atau daerah dengan iklim kering seperti di Jawa, Bali, NTT, dan Sulawesi Selatan. Meskipun adaptif, persiapan lahan tetap diperlukan dengan memperhatikan drainase agar tanaman tidak tergenang, karena tanaman ini lebih optimal di daerah kering.
Teknik Penanaman
Di Indonesia, kacang gude sering ditanam sebagai tanaman sampingan. Penanaman dilakukan dengan memasukkan benih ke dalam tanah, di mana populasi tanaman per satuan luas akan sangat memengaruhi jumlah cabang dan bunga yang terbentuk. Varietas lokal biasanya memiliki umur panjang yaitu 7-11 bulan, sedangkan varietas genjah yang diteliti memiliki umur 3-3,5 bulan.
Perawatan dan Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi pengendalian hama yang menjadi kendala utama produksi. Pemberian pupuk nitrogen dan fosfat serta pengaturan pengairan pada musim kemarau dapat memengaruhi hasil produksi secara signifikan.
Panen dan Pascapanen
Panen dilakukan saat polong telah tua dan mengering. Di Indonesia, hasil panen kacang gude umumnya digunakan sebagai sayuran dalam bentuk polong muda atau biji keringnya sebagai bahan pangan tambahan, seperti campuran nasi ketan di wilayah Indonesia Timur. Biji kering juga dapat diolah lebih lanjut menjadi produk lain seperti kecap.
Kesimpulan
Kacang gude merupakan komoditas pangan yang tangguh dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan di lahan marginal. Dengan karakteristik morfologi yang adaptif terhadap kekeringan dan teknik budi daya yang fleksibel, tanaman ini menjadi alternatif sumber protein nabati yang penting bagi masyarakat. Pemahaman yang baik mengenai varietas, baik lokal maupun genjah akan sangat membantu petani dalam mengoptimalkan hasil panen sesuai dengan kondisi lahan yang tersedia.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi