Konten dari Pengguna

Pupuk Hijau: Karakteristik hingga Manfaat bagi Pertanian

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi aplikasi pupuk hijau pada tanaman. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi aplikasi pupuk hijau pada tanaman. Foto: Pixabay

Penggunaan pupuk hijau merupakan strategi krusial untuk memperbaiki kesehatan tanah tanpa merusak ekosistem. Pupuk hijau berfungsi meningkatkan kualitas tanah secara alami melalui pelapukan tanaman, baik dari sisa panen maupun dari tumbuhan liar yang ada di sekitar.

Mengenal Pupuk Hijau

Definisi pupuk hijau

Pupuk hijau didefinisikan sebagai bahan organik yang berasal dari tanaman yang dibenamkan dalam keadaan segar atau setelah melalui proses pengomposan. Perbedaan utama pupuk hijau dengan pupuk organik lainnya terletak pada fleksibilitas aplikasinya yang memanfaatkan tanaman yang dapat langsung dibenamkan di lahan atau dijadikan mulsa untuk menjaga kelembapan.

Karakteristik pupuk hijau

Karakteristik teknis yang harus diperhatikan dalam memilih tanaman pupuk hijau adalah:

  • Rasio C/N: tanaman yang baik harus memiliki rasio C/N yang mendekati rasio tanah, yaitu sekitar 10-12. Sebagai contoh, tanaman paku air (Azolla) memiliki rasio C/N sebesar 18,3.

  • Kecepatan Dekomposisi: tanaman harus mudah membusuk dan mampu menyimpan air dalam jumlah besar.

  • Kandungan Nutrisi: mengandung nitrogen tinggi dan total humus yang melimpah

Jenis Tanaman Sumber Pupuk Hijau

Tidak semua tanaman efektif dijadikan pupuk hijau. Merujuk Inka Dahlianah dalam jurnal Klorofil Vol. IX No.2 berjudul Pupuk Hijau Salah Satu Pupuk Organik Berbasis Ekologi dan Berkelanjutan, memaparkan jika beberapa kategori yang direkomendasikan antara lain:

  • Sisa Panen: Bagian tanaman yang tidak dipanen, seperti jerami padi, dibiarkan di lahan untuk menambah bahan organik.

  • Tanaman Leguminosa: Jenis kacang-kacangan seperti lamtoro dan gamal sangat baik karena kaya akan nitrogen.

  • Gulma dan Tanaman Air: Eceng gondok (Echornia crasipes) dan paku air (Azolla pinnata) terbukti mengandung karbon, nitrogen, fosfor, dan kalium yang tinggi.

  • Tumbuhan Liar: Seperti babadotan (Ageratum conizoides) yang ketersediaannya melimpah di alam.

Manfaat Strategis bagi Ekosistem Lahan

Penerapan pupuk hijau memberikan dampak multifaset terhadap produktivitas pertanian:

  • Perbaikan Struktur Tanah: pupuk hijau memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah secara simultan. Secara fisik, ia meningkatkan pori drainase dan aerasi sehingga volume perakaran tanaman bertambah luas karena ketersediaan oksigen yang cukup.

  • Penyedia Nutrisi: berperan sebagai sumber hara makro dan mikro yang tidak meninggalkan residu kimia berbahaya.

  • Konservasi Lahan: penggunaan sebagai mulsa dapat mencegah erosi dan menahan hantaman air hujan yang merusak struktur permukaan tanah.

  • Aktivitas Biologis: bahan organik menyediakan nutrisi bagi bakteri dan mikroorganisme tanah lainnya untuk berkembang biak, yang pada gilirannya mempercepat pelapukan hara.

Efektivitas dan Hasil Penelitian

Data menunjukkan bahwa sekitar 95% lahan pertanian di Indonesia memiliki kandungan C-Organik yang rendah (kurang dari 1%), padahal batas minimum yang layak adalah 45%. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk cair eceng gondok (10 ml/liter air) memberikan hasil terbaik pada parameter berat dan diameter tongkol jagung manis. Selain itu, tanaman Crotalaria juncea L. mampu menghasilkan tinggi tanaman jagung yang lebih optimal dibandingkan bahan organik lainnya.

Kesimpulan

Pupuk hijau bukan sekadar alternatif, melainkan kebutuhan bagi sistem pertanian yang mengalami degradasi akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang. Dengan teknik pembenaman yang tepat, pupuk hijau mampu mensubstitusi setengah dari dosis pupuk anorganik yang direkomendasikan.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Pertanian Berkelanjutan: Strategi Produksi Pangan untuk Masa Depan