Konten dari Pengguna

Sintrong: Dari Gulma Liar Menjadi Sayuran Bergizi Tinggi dan Tips Budi Daya

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bunga tanaman sintrong. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bunga tanaman sintrong. Foto: Pixabay

Sintrong dikenal sebagai tanaman sayuran indigenous yang kini mulai dikembangkan secara intensif. Tanaman ini banyak ditemukan di lahan-lahan terbuka dan sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun obat tradisional. Pemahaman mengenai morfologi dan budi daya Sintrong menjadi penting untuk meningkatkan nilai guna serta potensi ekonominya.

Mengenal Sintrong

Sintrong (Crassocephalum crepidioides) merupakan tanaman hortikultura yang awalnya tumbuh liar sebagai gulma. Menurut Endang Setia Muliawati dkk. dalam Prosiding Seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis ke-47 UNS Tahun 2023 berjudul Upaya Domestikasi Sintrong (Crassocephalum crepidiodes (Benth.) S. Moore) melalui Pemupukan Organik dan Pengairan, tanaman ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik, terutama jika didukung oleh ketersediaan hara dan air yang cukup.

Morfologi Tanaman Sintrong

Pemahaman morfologi Sintrong bermanfaat untuk mengenali serta memilih tanaman sehat saat budi daya.

Ciri-Ciri Fisik Sintrong

Tanaman ini memiliki tekstur yang empuk dengan batang lunak serta aroma khas menyerupai daun mint. Batangnya cenderung tegak dan dapat tumbuh subur pada suhu kisaran 20–29° C dengan kelembapan mencapai 90%.

Bagian-Bagian Penting Sintrong

  • Batang dan Daun: daun sintrong memiliki rasa yang cukup netral sehingga populer sebagai sayuran. Berdasarkan penelitian, pemupukan yang tepat dapat menghasilkan tanaman dengan tinggi mencapai 44,65 cm dan jumlah daun hingga 41,83 helai.

  • Bunga: meskipun bagian vegetatif lebih sering dikonsumsi, kecepatan berbunga juga menjadi salah satu variabel penting dalam pengamatan budi daya.

Teknik Budi Daya Sintrong

Budi daya Sintrong di lahan kering atau lahan tadah hujan memerlukan pengelolaan media tanam yang optimal.

Persiapan Lahan dan Benih

Lahan dengan jenis tanah andosol yang cenderung agak masam (pH 5,74) membutuhkan bahan organik untuk mengikat unsur Al dan melepaskan hara seperti Fosfor (P) agar tersedia bagi tanaman. Benih disemaikan pada media yang memiliki kapasitas simpan air yang baik.

Pemupukan Organik pada Sintrong

Penggunaan pupuk organik sangat krusial.Pupuk kotoran kambing adalah yang terbaik dibandingkan Petroganik atau Rojokoyo. Kotoran kambing mengandung C-organik tinggi sebesar 31,06% yang dapat memicu pertumbuhan tinggi tanaman hingga 4 kali lipat dan jumlah daun 3 kali lipat dibanding tanpa pupuk.

Pengairan yang Efektif

Air adalah faktor pembatas utama. Namun, penggunaan pupuk kotoran kambing mampu mengefisienkan pengairan hingga setara 70% Kapasitas Lapangan (KL). Sintrong tetap menunjukkan pertumbuhan yang baik dan bobot segar yang optimal (rata-rata 91 gram per tanaman) meski dalam kondisi air yang terbatas.

Manfaat dan Potensi Sintrong

Sintrong kaya akan nutrisi, dalam 100 g daun segar terkandung energi 308,45 Kcal, 9,17 mg vitamin C, dan 1012 mg kalsium. Secara medis, kandungan flavonoid dan tanin di dalamnya berkhasiat meningkatkan imunitas, mengatasi gangguan pencernaan, anti-inflamasi, hingga menurunkan risiko diabetes.

Kesimpulan

Sintrong memiliki potensi besar untuk dikembangkan dari tanaman liar menjadi produk hortikultura unggulan. Dengan aplikasi pupuk kotoran kambing, petani tidak hanya mendapatkan hasil panen yang melimpah tetapi juga dapat menghemat penggunaan air hingga tingkat 70% KL.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi