Konten dari Pengguna

Strategi Budi Daya Kacang Koro Pedang: Panduan Praktis

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bunga tanaman kacang koro pedang. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bunga tanaman kacang koro pedang. Foto: Pixabay

Koro pedang dikenal sebagai tanaman pangan dari kelompok kacang-kacangan yang mulai banyak dilirik petani. Tanaman ini menawarkan potensi hasil yang baik jika dibudidayakan secara tepat. Artikel ini akan membahas morfologi dan strategi budi daya koro pedang agar hasil panen optimal.

Pengenalan Koro Pedang (Canavalia ensiformis)

Definisi dan Asal Usul Koro Pedang

Koro pedang (Canavalia ensiformis) termasuk keluarga kacang-kacangan atau legum yang kerap digunakan sebagai alternatif kedelai karena kandungan proteinnya yang tinggi. Koro pedang berasal dari wilayah tropis dan telah berkembang luas di berbagai daerah. Komoditas ini sangat adaptif pada berbagai jenis tanah, termasuk yang tidak terlalu subur. Koro pedang dikenal sebagai sumber protein nabati yang menjanjikan untuk pangan maupun pakan ternak.

Manfaat dan Potensi Koro Pedang

Selain sebagai sumber protein, koro pedang juga digunakan untuk pupuk hijau dan perbaikan struktur tanah. Tanaman ini memiliki produksi tinggi yang dapat mencapai 8-9 ton/ha, jauh mengungguli kedelai yang rata-rata hanya 1,2 - 2,0 ton/ha. Pemanfaatannya mencakup bahan baku tempe, tahu, industri farmasi, hingga pakan ternak.

Morfologi Koro Pedang

Mengenali morfologi koro pedang penting untuk memudahkan budi daya. Ciri fisik tanaman ini cukup khas dan secara botani dibedakan menjadi dua tipe utama yaitu tipe merambat (Canavalia gladiata) dan tipe perdu atau tegak (Canavalia ensiformis).

Ciri-ciri Fisik Tanaman Koro Pedang

Tanaman koro pedang tumbuh sebagai perdu atau rambat dengan batang yang kokoh. Untuk tipe tegak, polongnya sering kali menyentuh permukaan tanah sehingga sering disebut sebagai koro dongkrak (jackbean). Daunnya majemuk, berwarna hijau tua, dan berbentuk oval.

Struktur Daun, Batang, dan Bunga

Daun koro pedang terdiri atas tiga anak daun yang simetris. Batangnya tebal dan berkayu pada bagian pangkal, sedangkan bunganya berwarna ungu muda hingga putih dan tersusun dalam tandan.

Karakteristik Polong dan Biji

Polong koro pedang berbentuk pipih memanjang menyerupai pedang. Biji di dalamnya umumnya berwarna putih atau cokelat muda. Biji inilah yang menjadi bagian utama untuk dikonsumsi atau diolah menjadi bahan industri.

Teknik Budi Daya Koro Pedang

Budi daya koro pedang menuntut pemahaman soal kebutuhan tanaman dan pengelolaan lahan. Setiap tahapan, mulai dari pemilihan benih hingga pemeliharaan, berdampak besar pada hasil akhirnya.

Syarat Tumbuh dan Persiapan Lahan

Koro pedang dapat tumbuh di lahan kering, pasir, maupun tanah subur. Persiapan lahan untuk tipe tegak dilakukan dengan pengolahan tanah serupa tanaman kacang-kacangan lainnya. Pada lahan pasir, diperlukan penambahan bahan pembenah tanah untuk memperbaiki struktur dan kemampuan menyimpan hara.

Jarak Tanam Ideal dan Pengaruhnya terhadap Produksi

Menurut publikasi berjudul Budidaya Koro Pedang (Canavalia ensiformis) dari Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian, jarak tanam ideal untuk tipe tegak adalah 80-100 cm antar baris dan 40-50 cm di dalam baris. Sementara itu, di lahan pasir menggunakan variasi jarak tanam 40 x 80 cm, 50 x 80 cm, dan 60 x 80 cm, yang menunjukkan bahwa pengaturan populasi penting untuk mengurangi kompetisi antar tanaman.

Pemupukan dan Pengelolaan Nutrisi

Pemupukan harus disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Selain itu, menurut Darnawi dan M.Th. Darini dalam Jurnal SCIENCETECH Vol 2 No 2 berjudul Kajian Agronomi Koro Pedang (Carnavalia ensiformis L.) pada Jarak Tanam dan Komposisi Pupuk Campuran NPK di Lahan Pasir, secara anorganik, dosis per hektar yang disarankan adalah 50 kg Urea, 100 kg SP-36, dan 75 kg KCl. Pemberian pupuk organik sebanyak 1 ton/ha sangat dianjurkan, yang diberikan secara bertahap pada saat tanam, umur 30-45 hari, dan umur 70-80 hari.

Tahapan Penanaman hingga Panen

Penanaman dilakukan dengan menugal 2 biji per lubang. Waktu tanam terbaik adalah akhir musim hujan (sekitar bulan Maret) agar tanaman mendapatkan cukup air pada fase pertumbuhan awal. Koro pedang tipe tegak dapat dipanen mulai umur 4 hingga 6 bulan, ditandai dengan polong berwarna kuning jerami atau cokelat. Tipe merambat membutuhkan waktu lebih lama, yakni 12-15 bulan.

Tips dan Rekomendasi Praktis Budi Daya Koro Pedang

Untuk mencegah kebusukan buah akibat menempel di tanah, disarankan memberi tiang penyangga pada polong. Setelah dipetik, polong harus segera dijemur di bawah sinar matahari selama satu hari sebelum biji dikeluarkan dari cangkangnya.

Saran Penerapan di Lahan Kering dan Pasir

Di lahan pasir, pengelolaan pengairan sangat krusial; pada musim kemarau, pengairan bisa mengandalkan sistem sumur renteng atau embung. Selain itu, penggunaan inokulan (Rhizobium) pada benih sebelum tanam sangat membantu fiksasi nitrogen di lahan yang kurang subur.

Kesimpulan

Koro pedang memiliki morfologi yang unik dan peluang besar sebagai komoditas pangan alternatif yang produktif. Dengan teknik budi daya yang tepat, terutama pengaturan jarak tanam dan pemupukan yang disiplin, petani dapat mengoptimalkan hasil panen baik di lahan subur maupun lahan marginal seperti lahan pasir pantai.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi