Strategi Kendalikan Hama Wereng Hijau: Paduan Varietas Tahan dan Perangkap Warna
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wereng hijau menjadi salah satu hama penting pada tanaman pangan seperti padi, terutama di Asia bagian selatan dan tenggara. Hama ini tidak hanya menyerang secara langsung dengan mengisap cairan tanaman, tetapi juga berperan sebagai vektor (penular) utama virus tungro yang sangat merusak. Oleh karena itu, memahami morfologi serta strategi pengendalian terpadu sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi padi.
Mengenal Wereng Hijau
Definisi dan Klasifikasi Wereng Hijau
Wereng hijau (genus Nephotettix) adalah serangga pengisap cairan yang menjadi ancaman utama bagi tanaman padi (Oryza sativa L.). Terdapat lima jenis wereng hijau yang dapat menularkan tungro, namun Nephotettix virescens dianggap sebagai vektor terpenting karena efisiensi penularannya yang paling tinggi.
Siklus Hidup Wereng Hijau
Perkembangan populasi wereng hijau dipengaruhi oleh kemampuan memencarnya yang tinggi. Wereng ini biasanya meletakkan telur pada jaringan selubung daun bibit di persemaian atau tanaman muda. Populasi umumnya mulai meningkat secara signifikan selama fase vegetatif tanaman (3 hingga 6 minggu setelah tanam) dan cenderung menurun saat memasuki fase generatif.
Dampak Serangan Wereng Hijau pada Tanaman Padi
Dampak paling berbahaya adalah penyakit tungro yang ditimbulkannya. Wereng hijau lebih suka menyerang tanaman muda, dan infeksi pada tahap awal vegetatif dapat menyebabkan insidensi tungro meningkat pesat. Kerusakan ini dapat bersifat epidemi jika terdapat sumber inokulum virus dan populasi vektor yang padat di lapangan.
Morfologi Wereng Hijau
Ciri-ciri Fisik Wereng Hijau
Secara morfologi, wereng hijau memiliki tubuh kecil berwarna hijau cerah. Sebagai anggota famili Cicadellidae, mereka memiliki kemampuan meloncat dan terbang yang efektif untuk berpindah antar pertanaman.
Perbedaan Wereng Hijau dengan Jenis Wereng Lain
Berbeda dengan wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens), wereng hijau cenderung lebih adaptif pada bagian atas tanaman yaitu di daun dan pelepah muda untuk mengisap nutrisi. Dalam pengamatan lapangan, selain wereng hijau, sering ditemukan pula wereng zigzag (Recilia dorsalis) dan wereng batang cokelat dengan pola populasi yang berbeda-beda.
Perkembangan Populasi Wereng Hijau
Merujuk Wasis Senoaji dan Heru Praptana dalam Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol. 19 No. 1 berjudul Perkembangan Populasi Wereng Hijau dan Predatornya pada Beberapa Varietas Padi, kepadatan populasi wereng hijau ternyata tidak dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat ketahanan varietas padi yang ditanam. Hama ini cenderung bermigrasi segera setelah proses pencarian makanan (probing) jika merasa lingkungan atau nutrisi pada varietas tersebut tidak sesuai.
Pengendalian Wereng Hijau
Metode Pengendalian Alami dan Hayati
Konservasi musuh alami merupakan kunci pengendalian biologis. Beberapa predator penting yang teridentifikasi meliputi:
Laba-laba: laba-laba pemburu (Lycosa pseudoannulata) yang sangat rakus memakan 15–20 nimfa per hari, serta laba-laba bulat dan tungkai panjang.
Serangga: capung jarum (Agriocnemis pygmaea), kumbang macan, dan jangkrik.
Upaya pelestarian predator dapat dilakukan dengan mengelola gulma dan menanam tumbuhan berbunga di sekitar habitat padi.
Penggunaan Perangkap Warna dan Ketinggian
Penelitian I Nyoman Krisna Mukti dalam Pengendalian Wereng Hijau (Nephotettix virescens) Menggunakan Variasi Warna dan Ketinggian Perangkap pada Tanaman Padi (Oryza sativa L.), menyoroti metode ramah lingkungan menggunakan perangkap. Studi ini menguji variasi warna (Kuning, Hijau, Merah) dan ketinggian (25 cm, 50 cm, 70 cm) untuk menekan populasi di lapangan secara non-kimiawi.
Pengelolaan Populasi dan Varietas Tahan Wereng
Penggunaan varietas tahan (seperti Inpari 9) tetap menjadi komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang paling efektif dan ekonomis. Meskipun populasi wereng tetap bisa muncul, varietas tahan dapat menekan insidensi virus tungro secara signifikan di daerah endemis.
Kesimpulan
Strategi terbaik adalah mengintegrasikan penanaman varietas tahan, pemanfaatan musuh alami, dan teknik mekanis seperti perangkap warna. Penggunaan insektisida kimia sebaiknya diminimalkan karena sering tidak efektif terhadap penularan virus yang berlangsung singkat dan dapat mengganggu keseimbangan predator alami.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Tanaman Rempah dan Obat, Ini Jenis dan Manfaatnya