Konten dari Pengguna

Talas Beneng: Strategi Budi Daya dan Pengolahan

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi talas beneng. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi talas beneng. Foto: Pixabay

Talas Beneng (Xanthosoma undipes K.Koch) awalnya merupakan tanaman liar di kaki Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang, yang kini menjadi komoditas pangan unggulan bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini disebut "Beneng" karena ukurannya yang besar (beuneur) dan warnanya yang kuning (koneng).

Pengenalan Talas Beneng

Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten dalam buku Petunjuk Teknis Budidaya dan Pengolahan Talas Varietas Beneng, talas ini telah dilepas sebagai varietas unggul lokal berdasarkan SK Kepmentan RI No 981/HK.540/C/10/2020. Selain sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti nasi, daunnya kini diminati pasar internasional seperti Australia dan Belanda sebagai bahan baku rokok herbal.

Morfologi Talas Beneng

Talas Beneng memiliki ciri morfologi yang unik, terutama ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan jenis talas lainnya.

Karakteristik Tanaman dan Daun

Tinggi tanaman ini dapat mencapai 100–350 cm dengan diameter batang sekitar 30 cm. Daunnya berwarna hijau tua (moderate olive green) dengan tepi agak bergelombang dan ukuran yang sangat lebar, yang mendukung pertumbuhan optimal meski di bawah naungan.

Karakteristik Umbi

Umbi talas beneng berbentuk silinder dengan ukuran yang masif. Panjang umbi berkisar antara 38–150 cm dengan berat mencapai 2,4 hingga 15 kg per umbi pada umur 8–12 bulan. Warna bagian dalam umbinya kuning cerah (moderate yellow) dengan tekstur padat.

Keunggulan Varietas Beneng

Berdasarkan referensi juknis tersebut, keunggulan utama varietas ini adalah produktivitasnya yang mencapai 20–30 ton/ha. Selain itu, tanaman ini sangat toleran terhadap naungan hingga 50–60%, sehingga sangat cocok ditanam di bawah tegakan hutan atau sebagai tanaman sela di perkebunan.

Panduan Budi Daya Talas Beneng

Budi daya talas beneng dapat dilakukan secara monokultur maupun tumpangsari dengan teknik yang relatif sederhana.

Syarat Tumbuh dan Persiapan Lahan

Talas Beneng tumbuh optimal pada suhu 27–30,7 ° C dan curah hujan 2500–2800 mm/tahun. Jenis tanah yang paling sesuai adalah tanah latosol bertekstur liat berpasir yang kaya bahan organik. Persiapan lahan dilakukan dengan pembersihan gulma dan pemberian pupuk kandang/kompos sebanyak 5–6 ton/ha.

Teknik Penyiapan Benih dan Penanaman

Benih dapat berasal dari huli atau pangkal pelepah, umbi batang, maupun umbi mini yang telah disemai selama 2–3 bulan. Jarak tanam ideal menurut Pepi Nur Susilawati dkk adalah 1 x 1 m hingga 1,5 x 1,5 m untuk memberikan ruang tumbuh yang cukup bagi umbi besar. Waktu tanam terbaik adalah awal musim hujan yaitu Oktober–November.

Pemeliharaan, Pengendalian Hama, dan Panen

Pemeliharaan meliputi penyiangan setiap 3 bulan dan pemberian pupuk organik cair (POC) secara berkala. Hama yang perlu diwaspadai antara lain ulat daun (Hippotion calerino) dan kutu kebul, yang dapat dikendalikan dengan biopestisida atau agens hayati seperti Beauveria bassiana. Panen dilakukan saat tanaman berumur 8–12 bulan, ditandai dengan ukuran umbi yang sudah mencapai standar pasar.

Tips Pengolahan dan Manfaat

Umbi talas beneng diolah menjadi tepung sebagai bahan baku cake, kue kering, atau kroket. Untuk menghilangkan rasa gatal akibat asam oksalat, potongan umbi (chips) harus direndam dalam larutan air garam sebelum dikeringkan dan ditepungkan.

Kesimpulan

Talas Beneng merupakan varietas unggul lokal asal Banten yang potensial sebagai sumber karbohidrat alternatif dan komoditas ekspor karena ukurannya yang besar serta daya adaptasinya yang tinggi. Keberhasilan budidayanya sangat bergantung pada pemilihan benih yang berkualitas, jarak tanam yang tepat, serta pemeliharaan rutin untuk menghasilkan umbi bermutu tinggi. Melalui pengolahan yang benar, tanaman ini memberikan manfaat ekonomi dan gizi yang signifikan bagi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi