BIOPORI : Komponen Mudah Meningkatkan Daya Serap Air dan Kesehatan Tanah

Mahasiswa Teknik Lingkungan di Universitas Diponegoro
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Duwi Novita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekalongan (06/08/2024) Di Kelurahan Pekuncen menjadi salah satu kelurahan yang mengalami banjir karena saluran air kurang lancar dan pemasangan saluran air yang kurang merata di beberapa RW. Jenis tanah lempung yang menjadi sebagian besar jenis tanah di wilayah Kelurahan Pekuncen memiliki sifat yang sulit untuk menyerap air. Selain itu, sebab banjir juga dari sampah yang dibuang sembarangan dan berdampak pada kualitas tanah yang buruk dan menjadi sumber penyakit. Dari permasalahan tersebut, perlu dilakukan tindak lanjut untuk menangani banjir di Kelurahan pekuncen.
Dalam upaya keberlanjutan lingkungan dan penanggulangan banjir di Kelurahan Pekuncen, Mahasiswa KKN Undip terdorong untuk melakukan pembinaan penggunaan dan pemasangan lubang resapan biopori sebagai cara mudah mengatasi banjir. Biopori sendiri merupakan sebuah metode untuk mengatasi masalah drainase dan meningkatkan kualitas tanah melalui pembuatan lubang-lubang kecil di permukaan tanah. Biopori juga bertujuan untuk meningkatkan infiltrasi air, mengurangi genangan, dan memperbaiki struktur tanah. Tidak hanya digunakan untuk menampung air, lubang resapan biopori juga dapat digunakan metode pembuatan kompos yang efektif dan ramah lingkungan. Konsep biopori dalam konteks ini melibatkan pembuatan lubang-lubang di tanah yang diisi dengan bahan organik untuk memfasilitasi proses dekomposisi dan menghasilkan kompos. Biopori sendiri terdapat 2 jenis yaitu biopori alam yang adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk karena aktivitas organisme yang hidup dalam tanah seperti cacing, rayap atau pergerakan akar-akar tanaman. Lalu ada biopori buatan yang dimana dibuat dengan tenaga manusia.
Pembinaan mengenai biopori ini dilaksanakan di Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan yang melibatkan beberapa RW diantaranya RW 01, RW 02, RW 03, dan RW 05 dengan intensitas terjadinya banjir cukup tinggi dimana jumlah titik tiap RW berjumlah 2 titik. Pembinaan ini dilaksanakan dengan edukasi terkait perlunya lubang resapan biopori dan pembuatan pipa biopori. Biopori yang digunakan dalam pembinaan dan demonstrasi menggunakan biopori buatan yang terbuat dari pipa. Komponen dari pipa biopori terdiri dari pipa yang terbuat dari bahan PVC dengan diameter 3-6 inch yang digunakan sebagai media lubang biopori, penutup pipa atau DOP berupa plastik atau beton kecil dengan diberi lubang-lubang kecil untuk melindungi lubang dari sampah dan mencegah masuknya hewan, serta lubang infiltrasi dilengkapi dengan lubang-lubang kecil di sampingnya untuk mempercepat infiltrasi air ke tanah sekeliling. Dilihat dari komponen biopori, alat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan biopori cukup mudah ditemukan, diantaranya pipa biopori, tutup pipa biopori, dan alat penggali tanah seperti linggis atau alat gali biopori. Pemasangannya sendiri dilakukan dengan ditanam ke tanah yang sudah digali sesuai dengan panjang pipa. Biopori yang telah terpasang di semua titik di beberapa RW bekerja dengan baik.
Para ketua RW Kelurahan Pekuncen mengharapkan dengan adanya pembinaan tentang lubang resapan biopori dari mahasiswa KKN Undip dapat bermanfaat dan berlangsung untuk kedepannya. Dengan adanya pembinaan mengenai biopori ini diharapkan bisa menjadi alternatif untuk menanggulangi banjir dan genangan air yang sulit surut.
Penulis : Duwi Novita Sari (21080121130060) - S1 Teknik Lingkungan
DPL : Muhammad Hamdan Mukafi, S.S., M.A
Lokasi : Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan
